Aset Kripto Melonjak, Pastikan Investasi secara Aman
Selasa, 05 Juli 2022 -
WAKIL Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga menguraikan masa depan aset kripto di Indonesia yang sangat potensial meningkat dan berdampak pada perekonomian nasional. Hal itu terlihat tidak hanya dari meningkatnya jumlah investor kripto dan nilai transaksi dari waktu ke waktu, tapi juga bertambahnya platform untuk investasi aset kripto.
Hal tersebut dipaparkan Jerry dalam kuliah umum di Universitas Islam Nasional (UIN) Mahmud Yunus Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, Selasa (28/6).
"Per 2020, nilai transaksi aset kripto sebesar Rp 64,9 triliun. Satu tahun kemudian per Desember 2021, angkanya melonjak sangat signifikan menjadi Rp 859,4 triliun," kata Jerry, dilansir laman Kemendag.
Oleh karena itu, lanjut Jerry, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah menyiapkan aset kripto (depository) untuk mendukung ekosistem perdagangan fisik aset kripto di Indonesia, khususnya yang memberikan kepastian dan kenyamanan bagi konsumen.
Baca juga:
Di samping itu, ia juga menegaskan bahwa kripto di Indonesia adalah sebuah aset atau komoditas, bukan alat pembayaran yang sah secara peraturan perundang-undangan.
Terkait tren investasi yang semakin meluas, Jerry juga mengingatkan agar masyarakat perlu memperhatikan beberapa hal dalam melakukan investasi secara aman. Pertama, sebelum memutuskan untuk bertransaksi aset kripto, setiap orang harus memahami apa itu aset kripto dan mekanisme perdagangannya.
Kedua, berinvestasi di calon pedagang aset kripto yang memiliki tanda daftar dari Bappebti. Selain itu juga menginvestasikan dana untuk jenis aset kripto yang telah diatur Bappebti.
Di samping itu, calon investor juga perlu memastikan dana yang digunakan adalah dana lebih yang dihasilkan secara legal, bukan dana kebutuhan sehari-hari.
"Investor harus mempelajari risiko yang mungkin timbul dan perkembangan harga aset kripto yang terjadi, karena harga yang fluktuatif. Investor harus pantang percaya dengan janji-janji keuntungan tetap/tinggi," tegasnya.
Baca juga:
Dengan teknologi yang canggih dan keterbukaan informasi, animo masyarakat untuk memilih kripto sebagai salah satu aset atau alternatif atas instrumen investasi konvensional akan semakin tinggi di waktu mendatang.
"Jumlah nasabah aset kripto telah mencapai 14,1 juta bulan lalu. Sementara itu, investor saham tercatat hanya 8,86 juta," ungkapnya.
Jerry juga memaparkan data investor kripto di Indonesia.
"Demografi investor kripto didominasi kelompok usia 18-24 tahun (32 persen), kelompok 25-28 tahun (30 persen), dan kelompok 31-35 tahun (16 persen)," kata Jerry.
Ada pun lima jenis aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi, yaitu Tether (Rp 42,3 triliun), Bitcoin (Rp 18,5 triliun), Ethereum (Rp 14,2 triliun), Doge Coin (Rp 6,8 triliun), dan Terra (Rp 6 triliun). (and)
Baca juga:
5 Jenis Aset Kripto Paling Banyak Diminati Investor Indonesia