Ekonomi Tertekan Situasi Global, INDEF Minta Pemerintah Perbaiki Kebijakan Domestik

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Ekonomi Tertekan Situasi Global, INDEF Minta Pemerintah Perbaiki Kebijakan Domestik

Ekonomi Tertekan Situasi Global, INDEF Minta Pemerintah Perbaiki Kebijakan Domestik

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - INSTITUTE for Development of Economics and Finance (INDEF) meminta pemerintah untuk segera mengevaluasi tumpang-tindih kebijakan domestik akibat kian beratnya tekanan ekonomi global terhadap Indonesia.


Fleksibilitas fiskal dan stabilitas nilai tukar rupiah dinilai terus tergerus akibat respons kebijakan dalam negeri yang kurang kredibel dan minim sinkronisasi teknokrasi antarkementerian.


Hal itu disampaikan peneliti senior INDEF Tauhid Ahmad dalam diskusi bertajuk Rupiah Melemah Ancam Stabilitas Ekonomi dan Perbankan: Menakar Kesiapan BI dan LPS yang digelar di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (18/6).


“Kombinasi antara kenaikan indeks ketidakpastian dunia dan sentimen negatif dari pasar domestik kini mulai berdampak nyata pada pelarian modal asing (net outflow) dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta pasar saham. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu fondasi sektor manufaktur nasional akibat pembengkakan biaya bahan baku impor,” ujarnya.

Baca juga:

Makan Enak Enggak Harus 'Ngutang', INDEF Bongkar Strategi Fiskal MBG Biar Aman




Tauhid mengungkapkan pemerintah tidak bisa lagi sekadar menjadikan eskalasi geopolitik Timur Tengah dan kebijakan moneter ketat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sebagai alasan tunggal pelemahan indikator makro. Menurutnya, ketidakpastian tata kelola regulasi di dalam negeri justru memperparah persepsi risiko investasi di mata pelaku usaha internasional.


"Gejolak eksternal itu sebuah keniscayaan, tetapi kerancuan kebijakan domestik adalah persoalan pilihan yang bisa diperbaiki. Skor tata kelola kita yang terus tertekan mencerminkan hilangnya konsistensi regulasi. Ketika dunia sedang tidak menentu, investor mencari kepastian hukum dan teknokrasi kebijakan yang kredibel, bukan eksperimen regulasi yang berubah-ubah," ujarnya.


Dia mencatat adanya anomali kebijakan yang kontradiktif. Di satu sisi, Bank Indonesia (BI) agresif menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen dan mendongkrak imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 6,9 persen demi menarik modal jangka pendek. Di lain sisi, imbal hasil SBN justru ditahan di kisaran 6,7 persen.


"Ketimpangan strategi ini berisiko. Likuiditas asing akhirnya hanya berputar di instrumen jangka pendek BI untuk mencari keuntungan cepat, sedangkan pasar modal dan obligasi negara kita justru mengalami pengeringan modal karena ditinggalkan investor. Sektor riil tidak mendapatkan aliran dana produktif jangka panjang," katanya.


Dari sisi ketahanan anggaran, fiskal nasional turut menghadapi tantangan berat akibat pembengkakan biaya subsidi dan kompensasi energi yang mencapai Rp 203,7 triliun per Mei 2026 atau setara 45,6 persen dari pagu APBN. Tekanan diperkirakan melonjak melebihi Rp 500 triliun hingga akhir tahun demi mencegah penaikan harga BBM di masyarakat.


Hal itu berjalan beriringan dengan melebarnya defisit anggaran per Mei 2026 ke level 0,70 persen dari PDB akibat komitmen belanja awal untuk program baru seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun program lainnya.


"Pemerintah harus disiplin menjaga APBN. Jika semua program baru dipaksakan berjalan agresif di awal tanpa melihat realisasi pendapatan pajak, defisit fiskal kita berisiko menembus batas psikologis 2,5 persen bahkan batas aman undang-undang sebesar 3 persen. Utang baru yang ditarik untuk menutup defisit tersebut harganya sangat mahal di tengah tren suku bunga tinggi saat ini," pungkasnya.(Pon)



#Ekonomi #INDEF #Finansial
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Berita Foto
BPS Catat Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,87 Persen pada Triwulan III 2026
Rangkaian kereta LRT Jabodebek melintas jalur layang di Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 05 November 2026
BPS Catat Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,87 Persen pada Triwulan III 2026
Indonesia
Harga Emas Antam Menguat, Cek Daftar Terbaru 5 November 2026
Setelah sempat melemah pada pagi hari, harga emas Antam kembali naik pada pembaruan sore.
Dwi Astarini - Kamis, 05 November 2026
Harga Emas Antam Menguat, Cek Daftar Terbaru 5 November 2026
Lifestyle
Karier 7 Shio Bersinar dalam Sepekan, Cek Ramalan Asmara dan Keuangannya
Ramalan shio besok 6 November 2026 mengulas tujuh shio yang berpeluang sukses dalam karier. Simak prediksi asmara, keuangan, dan catatannya.
ImanK - Kamis, 05 November 2026
Karier 7 Shio Bersinar dalam Sepekan, Cek Ramalan Asmara dan Keuangannya
Lifestyle
6 Shio Berpeluang Menikmati Keberuntungan Finansial dalam Sepekan, Cek Ramalan Besok
Ramalan shio besok 5 November 2026 membahas karier, asmara, dan keuangan 12 shio. Simak enam shio dengan peluang finansial kuat sepekan dan tipsnya.
ImanK - Rabu, 04 November 2026
6 Shio Berpeluang Menikmati Keberuntungan Finansial dalam Sepekan, Cek Ramalan Besok
Lifestyle
5 Shio Ini Punya Peluang Cuan hingga Akhir Bulan, Cek Ramalan Besok
Ramalan shio besok 4 November 2026: Naga, Kuda, Monyet, Tikus, dan Ayam berpeluang cuan hingga akhir November. Simak asmara, karier, dan keuangan 12 shio.
ImanK - Selasa, 03 November 2026
 5 Shio Ini Punya Peluang Cuan hingga Akhir Bulan, Cek Ramalan Besok
Indonesia
Lapor ke Presiden Prabowo, Menko Airlangga Klaim Fundamental Ekonomi RI masih Kuat
Hal itu tecermin dari ekspansi sektor manufaktur, surplus neraca perdagangan, serta pertumbuhan ekspor nasional.
Dwi Astarini - Selasa, 03 November 2026
Lapor ke Presiden Prabowo, Menko Airlangga Klaim Fundamental Ekonomi RI masih Kuat
Indonesia
33 Provinsi di Indonesia Alami Inflasi, Tertinggi di Papua Selatan
Besaran inflasi yang tercatat yakni 0,22 persen.
Dwi Astarini - Senin, 02 November 2026
33 Provinsi di Indonesia Alami Inflasi, Tertinggi di Papua Selatan
Indonesia
Inflasi Tahunan Indonesia 3,23, Tertinggi Disumbang Komponen Bahan Pokok dari Beras Sampai Cabai Merah
Selama periode setahun, kondisi inflasi tertinggi justru tertinggi berlangsung pada Februari 2026, yakni mencapai 4,76 persen.
Dwi Astarini - Senin, 02 November 2026
Inflasi Tahunan Indonesia 3,23, Tertinggi Disumbang Komponen Bahan Pokok dari Beras Sampai Cabai Merah
Lifestyle
5 Shio Mengalami Keuangan Stagnan Besok, Ini Catatannya
Ramalan shio besok 3 November 2026 mengulas asmara, karier, dan keuangan. Lima shio diprediksi menghadapi finansial stagnan, siapa saja?
ImanK - Senin, 02 November 2026
5 Shio Mengalami Keuangan Stagnan Besok, Ini Catatannya
Lifestyle
5 Shio Berpeluang Cuan Besok 2 November 2026, Jangan Berhenti Berusaha!
Ramalan shio besok 2 November 2026, lima shio diminta pantang menyerah. Peluang cuan terbuka, simak ramalan asmara, karier, dan keuangan.
ImanK - Minggu, 01 November 2026
5 Shio Berpeluang Cuan Besok 2 November 2026, Jangan Berhenti Berusaha!
Bagikan