Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Dunia

Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya

Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026

MERAHPUTIH.COM — PARA arkeolog menemukan sebuah struktur berusia 5.000 tahun di wilayah barat daya Inggris. Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.

Struktur tersebut terdiri dari dua tiang kayu yang ditempatkan berjauhan sejauh 120 meter. Kedua tiang itu sejajar dengan matahari terbit saat titik balik matahari musim panas (summer solstice) dan matahari terbenam saat titik balik matahari musim dingin (winter solstice), persis seperti susunan batu di Stonehenge. Demikian disampaikan Wessex Archaeology, perusahaan arkeologi asal Inggris, dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (18/6), dikutip CNN.

Tim yang dipimpin arkeolog Phil Harding ini menggunakan teknik penanggalan radiokarbon untuk memastikan bahwa tiang-tiang kayu tersebut dipasang ke dalam lubang sekitar 5.000 tahun yang lalu. Periode tersebut bertepatan dengan pembangunan struktur tanah pertama di Stonehenge, sedangkan batu-batu raksasa yang terkenal itu baru dipasang sekitar 500 tahun kemudian.



“Matahari sangat penting bagi komunitas prasejarah ini, dan mereka mampu memetakan serta mencatat terbitnya matahari pada pertengahan musim panas dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Hal yang membuat penemuan ini begitu penting yakni usianya yang sangat tua.”

Phil Harding, arkeolog



Ia mengatakan, sampai saat ini, pengetahuan kita tentang pencapaian astronomi kuno ini didasarkan pada Stonehenge dan monumen lain dari periode yang serupa. Namun, apa yang ia temukan di Bulford berusia 500 tahun lebih tua daripada batu-batu terkenal yang selama ini kita kenal.

Baca juga:

Arkeolog Ungkap Fungsi Stonehenge sebagai Kalender Matahari


Bukti keberadaan struktur tersebut ditemukan di Bulford, sekitar 5 kilometer dari Stonehenge. Fabio Silva, seorang arkeolog yang mengkhususkan diri pada hubungan antara langit dan lanskap, menggunakan rekonstruksi langit kuno, bentang alam, dan cakrawala untuk menunjukkan kedua tiang tersebut memang sejajar dengan titik balik matahari.

“Penemuan ini membantu kita memahami Stonehenge bukan sebagai sebuah karya tunggal, melainkan sebagai bagian dari proses panjang interaksi antara manusia, tanah, dan langit.”

Fabio Silva, arkeolog



Para arkeolog juga menemukan berbagai artefak seperti pecahan tembikar, tulang hewan, arang, dan batu api yang telah diolah. Temuan-temuan tersebut menunjukkan masyarakat pada masa itu mungkin berkumpul di lokasi tersebut untuk merayakan titik balik matahari.

Di antara artefak yang ditemukan terdapat sebuah pisau berbentuk cakram yang sangat langka. Pisau itu sengaja ditempatkan di lokasi itu dan mungkin menjadi simbol cakram matahari.

Sementara itu, Susan Greaney, dosen arkeologi di University of Exeter yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan penemuan ini sangat menarik, meskipun rincian lengkapnya belum dipublikasikan. Greaney menyebut keselarasan yang mungkin terjadi ini merupakan bagian dari permukiman penting pada periode Neolitikum Tengah di Bulford.

“Temuan ini menunjukkan betapa pentingnya bagian timur lanskap Stonehenge, tempat masyarakat tidak hanya tinggal, tetapi juga membangun monumen di sisi lain Sungai Avon,” tutupnya.(dwi)

Baca juga:

Lubang Raksasa Ungkap Rahasia Monumen Stonehenge

Baca Artikel Asli