MerahPutih.com - Peneliti Amnesty Internasional Laura Haigh mengatakan, perlakuan diskriminasi terhadap muslim Rohingya oleh militer dan pemerintah Myanmar terkait dengan identitas agama.
"Jadi, kelompok Rohingya menerima persekusi bertahun-tahun karena identitas agama dan juga identitas etnis mereka," kata Laura dari sambungan Sykpe di Gedung Amnesty Internasional, Jakarta, Jumat (15/9).
Laura juga mengaku, kondisi ekonomi daerah Rakhine sangat rendah dan infrastruktur kurang memadai. Lebih lanjut Laura menjelaskan, secara geopolitik lokasi tersebut sangat penting bagi Cina untuk investasi.
"Secara geopolitik memang lokasi ini sangat penting bagi Cina dan banyak pihak yang ingin melakukan investasi," kata Laura.
Maka dari itu, kelompok Myanmar dan non Rohingya melakukan banyak pelanggaran dan penindasan terhadap etnis Rohingya.
"Terkait bahwa investasi dalam hal ini memilki banyak pertimbangan signifikan, karena kelompok Myanmar banyak melakukan pelangggaran dan juga penindasan terhadap Rohinya," tandasnya. (Asp)
Baca berita terkait muslim Rohingya lainnya di: "Kami Memiliki Bukti Militer Myanmar Menggali Tanah Untuk Menanam Ranjau"