Airlangga Sebut Indonesia Tujuan Investasi, Buktinya AS sudah Tertarik
Selasa, 18 November 2025 -
MERAHPUTIH.COM - MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia mampu menjadi tujuan investasi yang semakin kompetitif dan menarik di kawasan. Salah satu mitra strategis Indonesia dalam menjalin kerja sama ekonomi yakni Amerika Serikat.
Menurutnya, Amerika Serikat telah menjadi mitra strategis Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia telah berupaya mendapatkan dukungan AS terhadap lingkungan bisnis di dalam negeri.
"Kami memahami bahwa di masa lalu sebagian besar investasi besar berasal dari industri ekstraktif dan akhir-akhir ini juga pada ekonomi digital yang dibutuhkan Indonesia," kata Airlangga dalam acara 13th US-Indonesia Investment Summit 2025 - Turning Headwinds into Opportunities: Unlocking Investment Potential to Power Indonesia’s Growth, Senin (17/11).
Berdasarkan data nasional, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat mencapai USD 26,4 miliar, sedangkan impor berada pada kisaran USD 12 miliar sehingga ada defisit perdagangan sebesar USD 14 miliar. Sementara itu, menurut data pemerintah AS, defisit tercatat sebesar USD 18 miliar. Untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan, Indonesia dan Amerika Serikat tengah menyiapkan sejumlah kesepakatan komersial strategis, di antaranya rencana peningkatan impor energi dari AS senilai USD 15 miliar dan pembelian produk pertanian sebesar USD 4,5 miliar. Upaya itu secara efektif akan menyeimbangkan posisi perdagangan kedua negara.
Baca juga:
Jakarta Catatkan Investasi Rp 204 Triliun hingga September 2025
Lebih lanjut, Airlangga juga menyampaikan mengenai kerja sama pengembangan proyek Carbon Capture and Storage (CCS) oleh Exxon. Indonesia berharap proyek CCS dapat segera direalisasikan sebagai bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat transisi energi dan pengurangan emisi karbon.
Selain itu, Menko Airlangga juga menyebutkan terkait dengan peresmian proyek kilang di Cilegon senilai USD 4 miliar oleh Presiden Prabowo Subianto. Proyek itu menjadi tonggak penting kemandirian dan penghiliran industri nasional. Pemerintah juga menegaskan Indonesia saat ini tengah melanjutkan proses negosiasi dengan Amerika Serikat dan diharapkan kesepakatan kerja sama tersebut dapat segera ditandatangani.
Pemerintah menekankan pentingnya finalisasi perjanjian tersebut untuk memperkuat kemitraan ekonomi dan membuka peluang investasi yang lebih luas bagi kedua negara.
"Jadi saya pikir penting bagi Indonesia bahwa di tengah ketidakpastian global, Indonesia masih dapat mengelola pertumbuhan 5 persen pada kuartal ketiga, dan sebenarnya Indonesia dalam 7 tahun terakhir pertumbuhan sebesar 5 persen," pungkas Airlangga.(Asp)
Baca juga:
Beri ‘Karpet Merah’ untuk Investasi Asing di Indonesia, Prabowo Tegaskan Harus Buat Nyaman Investor