MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (19/2) kembali melemah 49 poin atau 0,29 perse, menjadi Rp 16.933 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.884. Tinggal kurang 66 poin lagi kurs mata uang Indonesia menjadi bakal tembus Rp 17.000 per dolar AS.
Pelemahan ini dipengaruhi ekspektasi pemotongan suku bunga AS yang berkurang setelah rilis data ekonomi menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam. Pasar menilai peluang pemotongan suku bunga agresif oleh The Fed semakin kecil.
“Serangkaian indikator ekonomi AS lebih kuat dari perkiraan. Rilis data menunjukkan ekonomi AS lebih resilien, sehingga ekspektasi pemotongan suku bunga agresif tahun ini berkurang,” kata Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, kepada media, di Jakarta, Kamis (19/2).
Baca juga:
Sentimen Kebijakan AS
Data terbaru menunjukkan pesanan barang tahan lama (US Durable Goods Orders) mengalami kontraksi 1,4 persen month to month (MoM) pada Desember 2025, lebih ringan dibanding ekspektasi kontraksi 2 persen.
Untuk sektor properti mencatat peningkatan signifikan, dengan housing starts mencapai 1,4 juta unit pada Desember, melampaui ekspektasi 1,30 juta unit.
Di sektor manufaktur, produksi industri AS naik 0,7 persen MoM pada Januari 2026, melampaui ekspektasi 0,4 persen. Kondisi ini memperkuat pandangan ekonomi AS masih solid.
Baca juga:
Suku Bunga BI Kunci Jaga Stabilitas Rupiah
Josua menambahkan investor menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) untuk tetap menjaga kestabilan rupiah dengan mempertahan suku bunga saat ini agar tidak kian tergerus.
“Kami memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75 persen,” tandasnya, dilansir Antara. (*)