MerahPutih.com - Tiga tanker minyak mencoba melintasi wilayah Selat Hormuz meminta bantuan dari Pemerintah Amerika Serikat (AS), tetapi gagal melewati jebakan ranjau laut Iran.
Baca juga:
Kapal Asing Jangan Nekat Lewat Jalur Selat Hormuz, Iran Mulai Tebar Ranjau Laut
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan satu dari tiga tanker pro AS itu meledak terkena ranjau laut. Sedangkan dua kapal tanker lainnya memilih balik arah batal melanjutkan pelayaran.
Tiga tanker minyak dukungan Amerika Serikat mencoba melintasi rute yang telah dipasangi ranjau di sebelah selatan Selat Hormuz. Setelah salah satu kapal tanker itu meledak dan terbakar, dua kapal lainnya segera berbalik arah dan mundur,
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Iran Ingatkan Kapal-Kapal Jangan Terjebak Janji Keamanan Trump
Aksi militer Iran mulai menebar ranjau laut itu merespons sikap Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran, termasuk di Teheran.
Presiden Trump juga menegaskan akan membombardir wilayah Iran setiap mereka melancarkan serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz di bawah pengamanan militer AS.
Jalur selatan Selat Hormuz yang telah dipasangi ranjau akan menghancurkan investasi Anda. Jangan terjebak oleh tipu daya Amerika Serikat,
Juru Bicara IRGC Hossein Mohebbi
IRGC itu juga menegaskan tidak ada tanker minyak yang boleh masuk maupun keluar jalur pelayaran Selat Hormuz tanpa izin Pemerintah Iran.
"Setiap kapal, yang terjebak dalam tipu daya Amerika dan mencoba melintas tanpa koordinasi dengan Republik Islam Iran, akan menemui nasib yang sama," tandas Mohebbi.
Baca juga:
Trump Ancam Hancurkan Jembatan dan Pembangkit Listrik, Iran Bersiap Gelapkan Sekutu AS
Nasib Gencatan Senjata Bubar Jalan
Pada 18 Juni lalu, AS dan Iran sebetulnya sudah sempat menandatangani memorandum penghentian konflik di perairan Selat Hormuz yang terjadi sejak 28 Februari. Namun, sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
CENTCOM menyebut serangan itu sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal komersial. Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah. Presiden Trump kemudian menegaskan gencatan senjata antara AS dan Iran tidak lagi berlaku. (*)