MerahPutih.com - Pemerintah Iran langsung membentuk badan pemerintahan sementara beranggotakan tiga orang untuk memimpin negara menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan rudal Amerika Serikat dan Israel beberapa hari lalu.
“Sebuah badan baru telah dibentuk yang terdiri dari tiga orang. Jadi mereka akan bertanggung jawab sampai pemimpin baru terpilih. Mereka sedang bekerja untuk mempersiapkan landasan bagi pemilihan pemimpin baru,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, dalam keterangannya kepada media, dikutip Antara, Kamis (5/3).
Baca juga:
Proses Pemilihan Pemimpin Baru
Awal pekan ini, anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Qomi, menyebutkan proses pemilihan pemimpin tertinggi baru sedang berlangsung.
Anggota presidium badan negara, Mahmoud Rajabi, menambahkan informasi final mengenai hasil pemilihan akan diumumkan sekretariat Majelis Pakar. Majelis Pakar merupakan lembaga yang berwenang memilih pemimpin tertinggi Iran
Adapun, badan dewan kepempinan sementara yang dibentuk ini hanya berfungsi sebagai pengisi kekosongan kepemimpinan. Berikut tiga nama yang mengisi kursi pimpinan sementara Iran:
1. Ayatollah Alireza Arafi
Posisi: Anggota Dewan Penjaga Konstitusi sejak 2019, Wakil Ketua Majelis Pakar.
Peran: Dewan Penjaga berwenang memeriksa hukum dan kebijakan agar sesuai prinsip Islam, menyetujui calon pemilihan, serta memiliki hak veto atas undang-undang.
Latar belakang: Memimpin salat Jumat di Qom, pusat keagamaan penting Iran, serta mengawasi sistem seminari yang mendidik para pemimpin agama.
Signifikansi: Arafi dikenal sebagai tokoh berpengaruh dalam ranah hukum Islam dan pendidikan ulama, sekaligus memiliki peran langsung dalam pemilihan pemimpin tertinggi.
2. Masoud Pezeshkian
Posisi: Presiden Iran sejak 2024.
Latar belakang: Politikus reformis, ahli bedah jantung, pernah bertugas di militer saat perang Iran–Irak.
Karier: Mantan Menteri Kesehatan di era Presiden Mohammad Khatami, kemudian anggota parlemen mewakili Tabriz.
Platform politik: Reformasi ekonomi, pelonggaran pembatasan sosial, keterlibatan konstruktif di luar negeri, tetap dalam kerangka konstitusional Republik Islam.
Pernyataan terbaru: Menyebut Iran memiliki “hak sah untuk membalas dendam” atas pembunuhan Khamenei.
3. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Posisi: Ketua Kehakiman Iran sejak Juli 2021.
Latar belakang: Pemimpin agama senior, dikenal sebagai tokoh garis keras.
Karier: Menteri Intelijen (2005–2009), Jaksa Agung, Wakil Ketua Hakim Pertama.
Signifikansi: Bersekutu dengan sayap konservatif pemerintah, memiliki pengaruh besar dalam lembaga peradilan dan keamanan negara. (*)