Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

24 Atlet Tuli Galang Dana untu Berlaga di Malaysia, NPC Indonesia Turun Tangan

Dwi Astarini - Selasa, 01 September 2026

MERAHPUTIH.COM - SEBANYAK 24 atlet tuli Indonesia menggelar penggalangan dana mandiri dengan target Rp 700 juta karena belum mendapat anggaran resmi. Dana itu diperlukan untuk mengikuti ajang Asia Pacific Deaf Multi-Sport Championship (APDMSC) di Penang, Malaysia, pada 2–10 Oktober 2026.

Saat menanggapi kejadian tersebut, Kepala Departemen Hukum National Paralympic Committee (NPC) Indonesia Satriawan Sulaksono mengatakan pengiriman atlet untuk mengikuti kejuaraan di level Asia maupun dunia dilakukan melalui perencanaan jangka panjang.

Selama ini penentuan kejuaraan yang diikuti setiap atlet ataupun kontingen wajib melewati proses konsolidasi antarorganisasi pembina, dalam hal ini NPC Indonesia dan Kemenpora.

“Keikutsertaan atlet NPC Indonesia dalam kejuaraan internasional merupakan bagian dari rangkaian tryout pemusatan latihan nasional menuju Paralimpiade yang bertujuan mengumpulkan poin demi memenuhi syarat kualifikasi, melalui proses perencanaan dan review dengan Kemenpora sebelumnya," ucap Satriawan, Senin (31/8).

Baca juga:

NPC Indonesia Keluhkan Indonesia Batal Jadi Tuan Rumah World Abilitysports Games



Berkaitan dengan pembinaan atlet disabilitas rungu atau tuli, Satriawan menjelaskan status keanggotaan International Committee of Sports for the Deaf (ICSD) menjadi syarat mutlak bagi sebuah negara untuk mengirimkan kontingen ke ajang internasional olahraga tuli yaitu Deaflympics. "Sebagaimana NPC Indonesia bernaung di bawah IPC, APC, dan APSF, pembinaan olahraga prestasi tuna rungu di Indonesia seharusnya bernaung pada organisasi yang diakui ICSD sebagai lembaga tertinggi olahraga tunarungu,” ujar Satriawan.

Sahabat atlet tuli yang ingin berprestasi di kancah olahraga, kata dia, tidak perlu khawatir. Pemerintah melalui Kemenpora sangat berkomitmen mendukung kemajuan dan prestasi olahraga disabilitas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Satriawan menambahkan langkah-langkah administratif dan konsolidasi perlu segera dituntaskan bersama agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di ruang publik.

Para atlet tuli diharapkan dapat berhimpun di bawah naungan organisasi yang resmi diakui keanggotaannya secara internasional sehingga seluruh persiapan teknis dan kebutuhan fasilitas dapat dikoordinasikan secara terstruktur bersama Kemenpora. Di Indonesia, organisasi yang diakui keanggotaannya oleh ICSD bernama PATRIN (Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia).

"Kami berharap seluruh atlet tunarungu yang saat ini aktif bisa bergabung atau berkomunikasi dengan PATRIN sehingga bisa mengikuti event-event internasional yang diselenggarakan," ucap dia.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) NPC Indonesia Rima Ferdianto menuturkan pihaknya tidak bisa ikut mengintervensi situasi yang kini sedang ramai menjadi pembahasan publik karena NPC Indonesia dan PATRIN berada di bawah organisasi internasional yang berbeda.

"Kemenpora juga sudah mengundang siapa organisasi yang berhak menangani atlet tunarungu dengan membawa semua legalitas dan dokumen, mereka yang menunjukkan bahwa mereka ialah member dari federasi internasional. Jadi sebenarnya masalah ini sudah clear bahwa atlet tunarungu bukan dari NPC Indonesia yang memberangkatkan, melainkan dari federasi nasional tunarungu yang bernama PATRIN," pungkasnya.(Ismail/Jawa Tengah)

Baca Artikel Asli