Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Tradisi Indonesia

2 Raja Keraton Solo Gelar Grebeg Mulud, Gunungan Ludes saat Doa belum Selesai

Dwi Astarini - 1 jam, 45 menit lalu

MERAHPUTIH.COM - DUA raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningkrat, PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purbaya, menggelar kegiatan adat Grebeg Mulud atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Keraton Surakarta, Rabu (26/8).

Warga menyambut acara tersebut bahkan sudah berebut dua gunungan sepasang jaler dan estri sebelum dibacai doa oleh pemuka agama ulama Masjid Agung Keraton. Gunungan ludes dalam waktu sekitar 10 menit.

Grebeg Mulud dimulai dulu oleh kubu PB XIV Hangabehi atau Gusti Mangkubumi atau Paku Buwana XIV yang tiba di Masjid Agung Solo sekitar pukul 10.00 WIB.

Mereka membawa dua pasang gunungan yang berisi hasil bumi. Gunungan itu menjadi perhatian masyarakat maupun wisatawan. Para pengunjung telah memadati halaman Masjid Agung Solo.

Baca juga:

Grebeg Maulud Keraton Surakarta, Ribuan Warga Berebut 2 Gunungan


Gunungan diletakkan di halaman Masjid Agung Solo, sedangkan perwakilan keraton dan pengurus masjid berdoa untuk puncak acara sekaten tersebut. Warga yang antusias memperebutkan dua gunungan meskipun proses doa belum selesai. Gunungan habis dalam sekian detik. Pembagian gunungan berjalan tertib dibantu petugas gabungan dan abdi dalem.


Sementara itu, kelompok Sri Susuhunan Pakubuwono Empat Belas juga membawa dua pasang gunungan dari hasil bumi dari Keraton Solo ke Masjid Agung Solo. Gunungan itu didoakan bersama perwakilan Keraton dan pengurus Masjid Agung Solo sebelum dibagikan kepada warga maupun pengunjung.

Dua pasang gunungan dibagikan di halaman Masjid Agung Solo, sidanya di depan Kori Kamandungan. Pembagian gunungan berjalan tertib meskipun warga mengambil hasil bumi sebelum doa belum selesai.

“Saya dapat roti, sayur, dan intip dari gunungan untuk ngalap berkah. Istilahnya punya keyakinan,” kata warga Mulyani warga Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Subakir, 65, Rabu (26/8).


Subakir menjelaskan selalu mengikuti tradisi Hajaddalem Pareden Garebeg Mulud setiap tahun. Para pedagang juga sudah diatur sehingga tradisi sekaten lebih rapi atau tertata. “Saya ikut ambil gunungan tiap ada gunungan sekaten Keraton Solo,” katanya.


Penghulu Tafsir Anom di Keraton Kasunanan Solo Kanjeng Raden Tumenggung KH Muhammad Muhtarom menjelaskan Hajaddalem Pareden Garebeg Mulud merupakan acara puncak sekaten. “Garebeg Mulud merupakan wujud syukur Keraton Solo dan masyarakat dan abdi dalem dengan adanya kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan harapan masyarakat meneladani Nabi Muhammad,” ujar Muhtarom.

Masjid Agung Solo, kata dia, melayani dua internal Keraton Solo yang mengadakan Hajaddalem Pareden Garebeg Mulud. Tujuannya sama-sama untuk bersyukur kepada Tuhan.

“Diharapkan, Keraton Solo mendapatkan ketentraman, kembali kuncoro, menjadi pusat peradaban kembali, menjadi pusat tata nilai kembali. Keraton Solo menjadi pusat tata nilai kembali bisa membawa kebahagian bagi masyarakat,” pungkasnya.(Ismail/Jawa Tengah)

Baca juga:

Peringatan Maulid Nabi, Keraton Surakarta Tiadakan Tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud










Baca Artikel Asli