MerahPutih.com - Ratusan warga Solo memadati pelataran Masjid Agung Surakarta untuk mengikuti tradisi Grebeg Besar dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5).
Gunungan yang dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta hingga Masjid Agung langsung menjadi rebutan warga begitu prosesi selesai. Tidak ada hitungan menit isi gunungan jaler habis jadi rebutan warga.
Baca juga:
Makna Tradisi Grebeg Gunungan Idul Adha di Yogyakarta, Simbol Syukur dan Berkah
Gunungan jaler (laki-laki) berisi hasil bumi seperti kacang panjang, tebu, cabai merah, dan telur asin, sementara gunungan estri (perempuan) berisi makanan siap saji. Selain itu, terdapat gunungan jodang yang turut dikirab.
Makna Filosofis Gunungan
Tradisi Grebeg Besar bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga menjadi simbol syukur raja dan Keraton Surakarta atas terselesaikannya puasa Arafah dan Idul Adha.
Baca juga:
Warga Berebut 5.000 Kue Keranjang Grebeg Sudiro Imlek di Solo
Penghulu Tafsir Anom Keraton Solo, Muhammad Muhtarom, menjelaskan Grebeg Besar merupakan ritual adat turun-temurun.
Setahun ada tiga kali grebeg, yakni grebeg sekaten, grebeg poso atau syawal, dan grebeg besar. Kalau ini grebeg besar,
Penghulu Tafsir Anom Keraton Solo, Muhammad Muhtarom
Muhtarom menambahkan, gunungan jaler melambangkan peran laki-laki sebagai pencari nafkah, sedangkan gunungan estri melambangkan perempuan yang mengelola hasil nafkah untuk kebutuhan keluarga.
Gunungan jaler simbol seorang laki-laki harus mencari nafkah. Gunungan estri melambangkan seorang wanita yang harus mampu mengelola penghasilan suami,
Penghulu Tafsir Anom Keraton Solo, Muhammad Muhtarom
Antusiasme Warga
Tradisi ini selalu menarik perhatian masyarakat. Sri Tanjung, warga Solo, mengaku rela berdesakan demi mendapatkan isi gunungan.
Saya ikut rebutan gunungan dapat kacang panjang dan potongan tebu. Nanti akan dimasak di rumah,
Sri Tanjung, warga Solo
Berbeda dengan Sri, warga lain bernama Juang memilih akan menyimpan hasil rebutannya sebagai simbol budaya.
“Saya dapat kacang panjang, cabai merah, bendera merah putih, dan potongan tebu. Tidak dimasak, hanya disimpan untuk melestarikan budaya,” tandasnya. (Ismail/Jawa Tengah)

