MerahPutih.com - Sebanyak 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mendapat akses pembiayaan dari Bank Jakarta. Pembiayaan tersebut menggunakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Non-KUR bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), dengan plafon pinjaman hingga Rp 500 juta.
Langkah ini diambil Pemprov DKI Jakarta untuk memperkuat ekonomi pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.
Proses penandatanganan Akad Kredit Massal Bank Jakarta yang dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno berlangsung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (2/9).
"Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha," ujar Rano.
Pembiayaan Diharapkan Dorong UMKM Naik Kelas
Rano optimistis dukungan dana permodalan tersebut dapat meningkatkan kapasitas para pelaku UMKM di Pasar Induk Kramat Jati.
Dengan tambahan modal, para pedagang diharapkan dapat mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan.
Karena itu, Rano mengapresiasi kolaborasi Bank Jakarta dengan Perumda Pasar Jaya yang dinilainya konkret dalam mendukung UMKM dan ekonomi kerakyatan.
Rano menjelaskan, selain 100 orang yang melakukan akad kredit massal pada hari ini, dari total lebih dari 5.000 pelaku usaha yang ada di Pasar Induk Kramat Jati, Bank Jakarta telah menyalurkan program pembiayaan bagi 167 pedagang dengan besaran nominal mencapai sekitar Rp 48 miliar.
Ia berharap kegiatan akad kredit massal tersebut dapat menarik minat lebih banyak pedagang di Pasar Kramat Jati untuk mengikuti program pembiayaan UMKM dari Bank Jakarta.
Baca juga:
Bank Jakarta Ingin Jadi Financial Operating System, Hubungkan Warga, UMKM, dan Investor
Rano Ingatkan Pentingnya Literasi Keuangan
Meski demikian, Rano mengingatkan akses pembiayaan formal juga harus diikuti dengan literasi keuangan.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar pelaku UMKM mampu menerapkan manajemen keuangan yang sehat sehingga usaha dapat terus berkembang.
Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain,
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.
Bank Jakarta Siapkan KUR dan Non-KUR
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan program tersebut bukan sekadar kegiatan penyaluran kredit.
Menurutnya, pembiayaan itu merupakan bagian dari upaya Bank Jakarta membangun akses keuangan yang semakin luas bagi pelaku usaha mikro agar dapat berkembang dan naik kelas.
Kepada pedagang, Agus mengaku memberikan dukungan permodalan melalui program KUR maupun Non-KUR.
"Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang," katanya.
Baca juga:
Agus menjelaskan, bagi pedagang yang ingin mengakses permodalan, pihaknya menyiapkan program pembiayaan melalui KUR ataupun Non-KUR.
Untuk program KUR, Agus menjelaskan tidak memerlukan jaminan dengan plafon pinjaman hingga Rp 100 juta.
Sedangkan untuk program Non-KUR, pedagang bisa menjadikan lapak dagangannya sebagai jaminan. Pedagang yang mengakses program Non-KUR bisa mendapat plafon pinjaman hingga Rp 500 juta dengan bunga sekitar 10 persen per tahun.
Agus menegaskan keberhasilan program pembiayaan tidak semata-mata diukur dari jumlah kredit yang berhasil disalurkan.
Bagi Bank Jakarta, keberhasilan bukan diukur dari seberapa besar kredit yang disalurkan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pembiayaan membuat usaha pedagang berkembang, omzet bertambah, lapangan kerja tercipta dan semakin banyak UMKM Jakarta naik kelas,
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo.
(Asp)