Waspadai Komplikasi dan Kematian Akibat Peradangan Usus Kronis
Perhatikan kesehatanmu. (Foto: Magaziner Center for Wellness)
KESEHATAN menjadi salah satu prioritas utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari, terlebih di masa pandemi COVID-19 ini. Makanan dan pola makan harus dijaga agar tidak mengalami peradangan usus kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD). Namun sampai saat ini, kesadaran masyarakat masih rendah terhadap IBD.
Salah satu gejala umum IBD adalah diare. Namun, masyarakat masih sulit membedakan mana diare biasa dan diare yang mengarah pada IBD. IBD merupakan sekelompok penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada usus kecil dan besar. Penyakit ini ditandai dengan peradangan saluran cerna berulang karena respon imun yang abnormal.
Dalam sebuah webinar bertajuk “Virtual Seminar Media”, Rabu (20/1), Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH menjelaskan, Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan IBD adalah dua gangguan yang berbeda.
Baca juga:
"Baik IBD maupun IBS menyebabkan sakit perut, kram, dan buang air besar yang mendesak. Namun, IBS masih diklasifikasi sebagai gangguan fungsional dan tidak menimbulkan peradangan, sedangkan IBD diklasifikasi sebagai gangguan organik yang disertai dengan kerusakan pada saluran cerna," tuturnya.
Pada dasarnya, IBD terbagi menjadi dua tipe, yaitu Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn’s Disease (CD). Pada UC, terjadi peradangan dan luka di sepanjang lapisan superfisial usus besar dan rectum, sehingga sering merasa nyeri di bagian kiri bawah perut. Sedangkan pada CD, terjadi peradangan hingga lapisan saluran pencernaan yang lebih dalam. Hal ini menyebabkan sering merasa nyeri di bagian kanan bawah perut.
"Penyebab IBD belum diketahui jelas. IBD tentu disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh. Namun, kesalahan pada diet dan tingkat stres berlebih juga bisa memicu terjadinya IBD. Faktor keturunan juga berperan dalam IBD meskipun angka penderitanya sangat sedikit," jelasnya.
Baca juga:
dr. Rabbinu Rangga Pribadi, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM-FKUI menyatakan dalam praktiknya, pengobatan IBD sangatlah dinamis karena proses penyakitnya yang juga dinamis. Artinya, IBD dapat terkontrol dengan obat serta diet, namun di waktu lain penyakit tersebut dapat kambuh.
Kesadaran dan pengetahuan tentang IBD sangat diperlukan bagi pasien IBD, keluarga, dan care giver agar semakin meningkat. Saat didiagnosis IBD, pasien perlu memahami bahwa proses peradangan pada penyakit ini dapat mereda jika berkomitmen menjalani pengobatan dan modifikasi gaya hidup.
Disarankan pula untuk berkumpul dengan pasien-pasien IBD lain untuk dapat saling berbagi pengalaman dan saling menguatkan. (and)
Baca juga:
Jangan Asal Diet, Kekurangan Karbohidrat Bisa Sebabkan Kanker Usus!
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Menu Makanan Penangkis Flu Musim Hujan Rekomendasi Dietisien RSCM
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo