Waspada Varian Baru COVID-19 Bernama ‘Mu’
Perlu penelitian lebih lanjut dari WHO. (Foto: Unsplash/Viktor Forgacs)
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan varian baru COVID-19 bernama Mu yang disebut kebal terhadap vaksin. Varian ini dikenal sebagai B.1.621 dan pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari 2021 dan mengklasifikasikannya sebagai variant of interest (VOI).
Mengutip laman Livescience, label VOI berarti prevalensi varian tersebut meningkat di beberapa area dan mutase ini cenderung memengaruhi karakteristik virus, seperti penularan atau tingkat keparahan penyakit. Menurut WHO sendiri, varian Mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan vaksin.
Data awal studi laboratorium menunjukkan antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap vaksinasi COVID-19 atau infeksi sebelumnya kurang mampu menetralisir atau meningkat dan menonaktifkan varian Mu.
Baca juga:
Sejak diidentifikasi di Kolombia, kasus sporadic dan beberapa wabah yang lebih besar telah dicatat di seluruh dunia. Di luar Amerika Selatan, kasus telah dilaporkan di Inggris, Eropa, AS, dan Hong Kong. Sementara varian tersebut membuat kurang dari 0,1 persen dari infeksi COVID-19 secara global, itu mungkin mulai berkembang di Kolombia dan Ekuador, masing-masing menyumbang 39 persen dan 13 persen dari kasus COVID-19.
WHO menyatakan masih memerlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami varian Mu dan penyebarannya. Terkait penularannya, otoritas kesehatan di Inggris mencatat varian ini tidak menyebar sangat cepat dan tidak lebih menular daripada varian Delta. Tetapi, Mu punya kemampuan menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin.
Baca juga:
Dinkes DKI Temukan 33 Kasus COVID-19 Varian Baru Masuk Jakarta
“Strain Mu membutuhkan studi lebih lanjut untuk memastikan apakah itu akan terbukti menular, lebih mematikan, atau lebih resisten terhadap vaksin dan perawatan saat ini,” kelas WHO.
Dalam laporan Public Health England (PHE) pada Juli mengatakan sebagian besar ditemuan di London pada orang berusia 20-an. Beberapa dari mereka yang dites positif Mu telah menerima satu atau dua dosis vaksin COVID-19.
Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa varian Mu lebih berbahaya daripada Delta. Satu hal yang harus dikhawatirkan dari varian ini adalah memiliki mutasi genetik P681H. Mutasi genetik ini juga ditemukan pada varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Kent, Inggris. (and)
Baca juga:
Ditemukan COVID-19 Varian India, Gibran Larang Warga Solo Bepergian ke Zona Merah
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya