Headline

Wapres Iran Masoemeh Ebtekar Ajak Kaum Perempuan Sebarkan Islam Wasathiyah

Eddy FloEddy Flo - Rabu, 02 Mei 2018
Wapres Iran Masoemeh Ebtekar Ajak Kaum Perempuan Sebarkan Islam Wasathiyah

Wapres Iran Masoemeh Ebtekar (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Kunjungan kenegaraan ke Indonesia benar-benar dimanfaatkan Wakil Presiden Iran untuk urusan Perempuan dan Keluarga Ulama Masoemeh Ebtekar untuk memperkenal kedudukan perempuan dalam konstelasi politik domestik di negaranya.

Masoemeh Ebtekar tampil sebagai juru bicara kaumnya kepada dunia luar yang selama ini cenderung memandang Iran sebagai negara yang konservatif terhadap kaum perempuan. Apalagi belakangan media-media Barat menyudutkan Iran lantaran larangan perempuan menonton langsung sepak bola di dalam stadion.

Ketika menghadiri Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia tentang Islam "wasathiyah" di Bogor, Wapres Iran Ebtekar mengingatkan peran perempuan dalam menyebarkan konsep Islam moderat (wasathiyah).

"Perempuan memiliki kemampuan monitoring yang dapat mempromosikan dialog yang konstruktif, dan dapat memberikan pemahaman di antara masyarakat," kata Masoemeh Ebtekar di Istana Bogor, Selasa (1/5).

Menurut Masoemeh, di dalam Islam laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki peran. Tapi khusus perempuan memiliki hak dan tanggung jawab khusus yang telah diatur dalam Islam.

Peran perempuan tidak sebatas sebagai keberlangsungan kehidupan (bilogis) tetapi memberi warna dalam kehidupan, dan semangat hidup, katanya.

Wapres Iran Masoemeh Ebtekar dan Antara
Wakil Presiden Republik Islam Iran Bidang Wanita dan Urusan Keluarga Masoumeh Ebtekar melakukan sesi wawancara eksklusif dengan Antara (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Persoalan Utama Islam Bukan Soal Sunni dan Syiah Tapi....

Lebih lanjut, dalam wawancara eksklusif dengan Kantor Berita Antara, Masoemeh Ebtekar menyinggung dikotomi Sunni dan Syiah yang kerap menjadi perdebatan tiada akhir dalam masyarakat Islam dunia, khususnya di Tanah Air.

Masoemeh menyatakan persoalan Sunni dan Syiah bukan persoalan esensial di dunia Islam karena terdapat urusan yang lebih krusial yakni musuh islam yang menyebarkan kebencian.

"Persoalan utama di dunia Islam sekarang bukan Sunni dan Syiah tapi persoalan musuh Islam yang menyebarkan kebencian," kata Ebtekar.

Menurut dia, di kalangan Sunni dan Syiah sejatinya tidak ada konflik sebagaimana terjadi di Iran. Persaudaraan juga sudah terjalin dengan baik di antara dua mazhab besar itu. Orang Sunni dan Syiah juga sudah saling menikahi meski memiliki perbedaan latar belakang.

"Kami tidak memiliki konflik, kita hidup bersama," kata dia menanggapi persaudaraan Sunni dan Syiah yang telah memiliki perkembangan hubungan yang baik dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam hal itu, Ebtekar menyoroti banyaknya perkembangan persepsi publik mengenai perbedaan Sunni-Syiah yang terus dipertajam oleh orang-orang yang tidak menyukai persatuan Islam.

Ia mengatakan pihak-pihak itu sebagai kalangan yang sangat cerdas dalam memecah belah persatuan umat dengan memperuncing perbedaan.

Wapres Iran berdialog dengan Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Wakil Presiden Iran Urusan Wanita dan Keluarga, Masoumeh Ebtekar (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

"Mereka juga sangat brilian dalam menciptakan citra Islam yang negatif, radikal, sehingga agama ini seolah penuh dengan ajaran kekerasan, kebencian, aksi brutal," kata dia.

Atas kenyataan itu, Ebtekar mengajak setiap Muslim untuk sadar dengan hal tersebut. Jangan sampai setiap Muslim terlena karena sejatinya Islam adalah memuliakan kemanusiaan dan melawan terorisme.

"Tugas perempuan mendidik dan mempertahankan kehidupan anaknya. Tetapi tentu peran laki-laki tidak bisa dilupakan, menjadi pelengkap dalam sebuah keularga," katanya.

Ia mengatakan Islam sangat menghargai peran perempuan, sebagai mana Rasulullah SAW telah memuliahkan perempuan, memiliki anak perempuan Fatimah yang menjadi teladan bagi semua wanita.

Kini, katanya, perempuan mampu bangkit dalam segala hal, menguasai ilmu pengetahuan, menjadi apa saja yang diinginkan. Seperti di Iran banyak perempuan aktif di dunia pendidikan.

Masoemeh dan Presiden Jokowi
Wapres Iran Masoemeh Ebtekar dan Presiden Jokowi (Foto: ksp.go.id)

Ia menambahkan mempromosikan Islam "wasathiyah" bukan hanya dalam geografis sejarah, tetapi kemampuan kehidupan, kemampuan menggunakan teknologi digital, meningkatkan kemampuan membaca, dan logika.

"Contoh Islam moderat ini perlu kita kembangkan kepada anak-anak muda kita, dengan dialog dan interaksi, membawa generasi muda memahami Islam 'wasathiyah', dan perempuan bisa memainkan perannya disini," katanya.

Masoemeh menjadi salah satu pembicara perempuan dalam acara dialog dan diskusi sesi pertama KTT ulama dan cendekiawan Muslim dunia membahas tentang Islam "wasathiyah" yang berlangsung di Bogor.

Selain Masoemeh, sejumlah pembicara lainnya juga ikut menyampaikan pendampat dan pandanganan tentang Islam "wasathiyah" seperti Dr Abdullah M Al Matouq dari Kuwait, Ahmed Bin Mohammad Al Jarawn (PEA) selaku presiden dari Global Council for Tolerance and Peace/ Former Speaker of the Arab parliament. Diskusi ini dimoderatori oleh H.E Ali Rashed Al Naumi, Secretary General of Muslim Council of Elders.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Konflik Mahmoud Abbas dan Kelompok Hamas Ancam Persatuan Palestina

#Aliran Syiah #Iran # Islam Wasathiyah
Bagikan
Ditulis Oleh

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian

Berita Terkait

Dunia
Israel Belum Siap Serangan Balasan, Trump Batalkan Serangan ke Iran
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyatakan keprihatinan mendalam mengenai potensi dampak terhadap stabilitas regional.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 19 Januari 2026
Israel Belum Siap Serangan Balasan, Trump Batalkan Serangan ke Iran
Dunia
Negara-Negara Eropa Perintahkan Warganya Secepatnya Tinggalkan Iran
Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan jumlah korban tewas akibat aksi protes nasional di Iran telah melampaui 2.500 orang
Wisnu Cipto - Kamis, 15 Januari 2026
Negara-Negara Eropa Perintahkan Warganya Secepatnya Tinggalkan Iran
Indonesia
Ancaman Invasi AS dan Kerusuhan Iran, DPR Soroti Keselamatan WNI
Situasi Iran kian memanas usai ancaman invasi AS dan kerusuhan meluas. Komisi I DPR RI meminta Kemlu menyiapkan evakuasi demi keselamatan WNI.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Ancaman Invasi AS dan Kerusuhan Iran, DPR Soroti Keselamatan WNI
Indonesia
Ancaman Invasi AS ke Iran, Pemerintah RI Keluarkan Imbauan untuk WNI
Situasi keamanan Iran memanas usai ancaman invasi Amerika Serikat. Kemlu RI mengimbau WNI menunda perjalanan dan meningkatkan kewaspadaan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Ancaman Invasi AS ke Iran, Pemerintah RI Keluarkan Imbauan untuk WNI
Dunia
Korban Tewas di Iran Bertambah Jadi 2.500, Jumlah Terbesar dalam Beberapa Dekade Terakhir
Besarnya jumlah korban mengingatkan pada kekacauan yang menyertai Revolusi Islam 1979.
Dwi Astarini - Rabu, 14 Januari 2026
Korban Tewas di Iran Bertambah Jadi 2.500, Jumlah Terbesar dalam Beberapa Dekade Terakhir
Indonesia
Kemenlu Belum Akan Evakuasi WNI Dari Iran
Berdasarkan penilaian KBRI dan dengan memperhatikan kondisi di lapangan hingga Senin (12/1), evakuasi juga belum diperlukan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 14 Januari 2026
Kemenlu Belum Akan Evakuasi WNI Dari Iran
Indonesia
Trump Kembali Ancam Iran, Siap Ambil Tindakan Keras
Iran menekankan bahwa intervensi Amerika Serikat itu secara khusus melanggar prinsip kedaulatan nasional, nonintervensi dalam urusan internal negara, dan larangan ancaman atau penggunaan kekerasan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 14 Januari 2026
Trump Kembali Ancam Iran, Siap Ambil Tindakan Keras
Dunia
Iran Bergolak, Demo Ekonomi Berubah Ricuh hingga 2.000 Orang Tewas
Kedubes Iran di Jakarta mengungkap penyebab kerusuhan massal di Iran yang menewaskan ribuan orang. Demo ekonomi disebut disusupi aksi kekerasan dan intervensi asing.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Januari 2026
Iran Bergolak, Demo Ekonomi Berubah Ricuh hingga 2.000 Orang Tewas
Dunia
Kelompok HAM Sebut Sedikitnya 648 Pengunjuk Rasa Tewas dalam Penindakan di Iran, Khawatirkan Jumlahnya Bisa saja Lebih Banyak
Sayangnya, pemadaman internet selama hampir empat hari yang diberlakukan otoritas Iran membuat sangat sulit untuk memverifikasi laporan secara independen.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Januari 2026
Kelompok HAM Sebut Sedikitnya 648 Pengunjuk Rasa Tewas dalam Penindakan di Iran, Khawatirkan Jumlahnya Bisa saja Lebih Banyak
Dunia
Ancaman Terbaru Trump, AS Kenakan Tarif 25% ke Negara Rekan Dagang Aktif Iran
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan baru berupa tarif sebesar 25 persen terhadap semua negara yang masih menjalin perdagangan dengan Iran.
Wisnu Cipto - Selasa, 13 Januari 2026
Ancaman Terbaru Trump, AS Kenakan Tarif 25% ke Negara Rekan Dagang Aktif Iran
Bagikan