Kesehatan

Vaksin COVID-19 Masa Depan Bisa Berbentuk Pil atau Inhaler

P Suryo RP Suryo R - Sabtu, 31 Juli 2021
Vaksin COVID-19 Masa Depan Bisa Berbentuk Pil atau Inhaler

Di masa depan vaksin COVID-19 berbentuk bubuk atau inhaler. (Foto: Pexels/cottonbro)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SAAT ini, perlindungan terhadap COVID-19 datang melalui suntikan. Namun ke depan, vaksin tersebut bisa berasal dari inhaler atau bahkan pil.

Di laboratorium Medicon Village, Swedia, ahli kimia Ingemo Andersson mengangkat inhaler plastik tipis, setengah ukuran kotak korek api. Timnya berharap produk kecil ini dapat memainkan peran besar dalam perang global melawan virus corona yang memungkinkan orang untuk mengonsumsi versi bubuk vaksin masa depan di rumah.

Baca Juga:

Tiongkok Uji Coba Vaksin COVID-19 Semprotan Hidung

vaksin
Vaksin cair membutuhkan penyimpanan dalam suhu dingin sementara hal itu tidak berlaku pada vaksin bubuk yang kering. (Foto: 123RF/pitinan)

"Mudah dan sangat murah untuk diproduksi," kata Johan Waborg, CEO perusahaan, yang biasanya membuat inhaler untuk pasien asma seperti diberitakan bbc.com (28/7).

"Kamu cukup mengeluarkan sedikit plastik dan kemudian inhaler vaksin diaktifkan dan kamu hanya memasukkannya ke dalam mulut, ambil napas dalam-dalam dan tarik napas," dia menambahkan.

Perusahaan Iconovo bekerja sama dengan start-up penelitian imunologi di Stockholm, ISR, yang telah mengembangkan vaksin bubuk untuk melawan COVID-19. Vaksin ini menggunakan protein virus COVID-19 yang diproduksi, tidak seperti Pfizer, Moderna dan Astra Zeneca yang menggunakan RNA atau DNA yang mengkode protein ini, dan dapat tahan pada suhu hingga 40 derajat Celcius.

Suhu tersebut sangat kontras dengan kondisi yang diperlukan untuk menyimpan vaksin virus corona yang tersedia secara umum saat ini yang disetujui oleh WHO, dan semuanya dalam bentuk cair.

Vaksin-vaksin yang ada harus disimpan dalam botol kaca pada suhu serendah -70 derajat Celcius, sebelum dipindahkan ke lemari es, atau vaksin tersebut kehilangan efektivitas. Hal itu yang dikenal sebagai cold chain.

"Yang membuat vaksin [bubuk] ini berbeda adalah kamu dapat mendistribusikannya dengan sangat mudah tanpa cold chain, dan dapat diberikan tanpa memerlukan tenaga kesehatan," kata pendiri ISR Ola Winquist, seorang profesor imunologi di Karolinska Institute, salah satu universitas kedokteran terkemuka di Swedia.

Baca Juga:

Berkat COVID-19, Ilmuwan Bisa Temukan Vaksin Kanker dan HIV

Vaksin bubuk

vaksin
Di laboratorium Medicon Village, Swedia, mengembangkan vaksin bubuk yang bisa digunakan dengan inhaler. (Foto: 123RF/gpointstudio)


Perusahaan saat ini sedang menguji vaksinnya pada varian Beta (Afrika Selatan) dan Alpha (Inggris) dari COVID-19. Penemuan ini terbukti sangat berguna dalam mempercepat peluncuran vaksin di Afrika di mana saat ini tidak ada produsen vaksin dalam negeri, iklim yang lebih hangat, dan pasokan listrik yang terbatas telah menyebabkan tantangan besar dalam hal penyimpanan dan pengiriman vaksin.

Masih tahapan sebelum uji coba menunjukkan potensi penuh dari vaksin kering ISR. Termasuk apakah vaksin tersebut dapat memberikan tingkat perlindungan yang sama dengan daftar vaksin saat ini yang disetujui WHO?

Sejauh ini, vaksi itu hanya diuji pada tikus, meskipun ISR dan Iconovo telah mengumpulkan dana yang cukup untuk memulai studi pada manusia dalam dua bulan ke depan.

Ada optimisme dalam komunitas medis bahwa jika vaksin bubuk seperti ini terbukti berhasil. Mereka dapat merevolusi respons global terhadap pandemi virus corona. Juga mempermudah penyimpanan dan pendistribusian vaksin untuk penyakit lain.

"Ini benar-benar akan membuka peluang untuk daerah yang sulit dijangkau dan mungkin menyelamatkan," kata Stefan Swartling Peterson, kepala kesehatan global Unicef dari 2016 hingga 2020, sekarang profesor transformasi global untuk kesehatan di Karolinska.

Sementara perusahaan di seluruh dunia sedang menyelidiki vaksin bubuk, Swartling Peterson menunjuk ke perusahaan rintisan lain dengan "teknologi yang menjanjikan". Ziccum sedang menguji teknologi yang dirancang untuk mengeringkan vaksin cair yang ada atau yang akan datang dengan cara yang tidak membatasi keefektifannya.

Hal ini dapat mempermudah untuk mendirikan apa yang disebut fasilitas "pengisian dan penyelesaian" di negara-negara berkembang, yang memungkinkan mereka untuk menyelesaikan tahap akhir produksi vaksin di dalam negeri.

Bubuk vaksin akan dicampur dengan larutan air steril sesaat sebelum imunisasi, dan kemudian disuntikkan menggunakan botol dan jarum.

Namun, teknologi tersebut juga "membuka untuk berbagai jenis cara lain", mulai dari inhaler hingga pil, kata CEO Ziccum Göran Conradsson, "Butuh banyak penelitian dan pengembangan untuk itu, tapi pada prinsipnya, ya."

Baca Juga:

3 Hal yang Bisa Dilakukan Kalau Kamu Sudah Dapat Vaksin Penuh

Alternatif ramah lingkungan

vaksin
Bentuk vaksin baru dapat merevolusi respons global terhadap pandemi virus corona. (Foto: 123RF/mrjo7)


Janssen, yang membuat vaksin Covid dosis tunggal yang disetujui untuk digunakan di Inggris oleh regulator obat-obatan bulan lalu, telah mengerjakan proyek percontohan yang dirancang untuk menganalisis kemampuan pengeringan udara Ziccum.

Raksasa farmasi itu tidak akan mengatakan apakah ini terkait dengan virus corona atau penyakit menular lainnya, tetapi seorang juru bicara mengatakan penelitian itu adalah bagian dari fokus mendalam pada "menjelajahi teknologi baru yang berpotensi memudahkan distribusi, administrasi, dan kepatuhan" vaksin untuk masa depan.

Teknologi bubuk juga dapat membantu mereka yang takut jarum suntik, dan menawarkan alternatif lebih ramah lingkungan untuk vaksin cair, dengan mengurangi listrik yang dibutuhkan untuk menyalakan lemari es dan freezer yang biasanya digunakan untuk menyimpan botol vaksin.

"Tidak ada yang aman sampai semua orang aman," kata Mr Conradsson, "Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi jika [masih] memiliki virus corona yang menyebar di suatu tempat di bagian dunia."

"Kita harus bisa memberikan vaksin ke populasi di semua pengaturan untuk mengatasi epidemi dan pandemi secara global," ujar Ingrid Kromann, juru bicara Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (Cepi), sebuah organisasi nirlaba global yang bekerja untuk mempercepat pengembangan vaksin COVID-19.

Dia mengatakan, vaksin berbasis bubuk masih dalam tahap awal pengembangan dan "masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan", misalnya untuk merampingkan dan meningkatkan proses manufaktur.

"Namun jika berhasil, itu dapat berkontribusi pada akses yang lebih baik ke vaksin, lebih sedikit pemborosan, dan biaya program vaksinasi yang lebih rendah," demikian Kromann. (aru)

Baca Juga:

Mengenal Vaksin COVID-19 Merah Putih dengan Pendekatan DNA

#Kesehatan #Vaksinasi #Vaksin Covid-19
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Fun
Apa Itu Nutri-Level? Kenali Arti Warna Label Gizi dan Kaitannya dengan Pencegahan Diabetes
Kenali Nutri-Level, sistem label gizi dengan empat kategori warna untuk membantu masyarakat memahami kandungan gula, garam, dan lemak pada produk.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 04 November 2026
Apa Itu Nutri-Level? Kenali Arti Warna Label Gizi dan Kaitannya dengan Pencegahan Diabetes
Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Bagikan