Merombak Kabinet harus Ada Evaluasi Kinerja Menteri yang Terukur

Andika PratamaAndika Pratama - Minggu, 18 April 2021
Merombak Kabinet harus Ada Evaluasi Kinerja Menteri yang Terukur

Presiden Jokowi. Foto: Setkab

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Wacana perombakan atau reshuffle kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai memanas. Sejumlah menteri disebut bakal segera terdepak.

Pengamat politik Wempy Hadir menilai, Jokowi juga harus melihat performance atau kinerja seluruh menteri.

"Harus ada evaluasi yang terukur terhadap kinerja menteri, jika tidak maka masyarakat hanya melihat reshuffle hanya sharing of power (bagi kekuasaan) saja," kata Wempy Hadir, Minggu (18/4).

Jika melihat dari kinerja dan sejumlah tolok ukur lainnya, diakui Wempy, ada sejumlah kementerian ataupun pejabat di lingkungan pemerintahan yang kinerjanya jauh dari harapan Presiden. Salah satunya terkait posisi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko.

"Posisi Moeldoko menjadi beban yang besar di pemerintahan Jokowi. Menurut saya Pak Jokowi tidak perlu ragu mengevaluasi Moeldoko," ujarnya.

Presiden Jokowi. Foto: Setkab

Untuk posisi menteri, setidaknya ada tiga posisi kementerian yang kinerjanya tidak terlalu menonjol, bahkan cenderung di bawah harapan masyarakat. Padahal, di masa seperti sekarang ini tentunya presiden butuh tim yang mampu membantu Indonesia segera keluar dari krisis sebagai akibat dari pandemi berkepanjangan.

"Kedua posisi Menteri Desa. Saya tidak melihat ada progres yang kuat yang ditunjukkan Mendes. Ketiga Menteri Tenaga Kerja, belakangan banyak sekali suara dari pekerja-pekerja kita yang tidak mengalami advokasi dari Kementerian Tenaga Kerja, termasuk persoalan THR," katanya.

Kemudian, posisi Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) yang juga dinilainya perlu untuk dikoreksi. Dirinya meyakini, kekacauan hukum yang terjadi belakangan juga tidak terlepas dari lemahnya kepemimpinan kementerian tersebut.

Wempy juga meragukan partai yang berada di koalisi akan mendukung kinerja lembaga eksekutif. Menurut Wempy, partai politik terkadang tidak akan mengusung atau mengeksekusi visi dan misi lembaga eksekutif melainkan visi dan misi partai.

“Terkadang partai politik itu membentuk lingkaran setan. yang diusung atau yang dieksekusi adalah visi dan misi partai, bukan visi dan misi Pak Jokowi dan Pak Ma’aruf Amin,” ucap Wempy.

Berdasarkan data dipaparkan oleh Wempy, presentase koalisi pemerintah hari ini di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah 70,9 persen dan partai oposisi sebesar 29,04 persen.

Besarnya presentase koalisi yang ada saat ini, menurut Wempy, menjadikan isu pelebaran reshuffle menjadi sesuatu yang tidak perlu. Wempy menuturkan bahwa pemerintah seharusnya melakukan evaluasi di seluruh kementerian ketika ingin melebarkan perombakan kabinet.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui kinerja dari seorang menteri sehingga publik mengetahui alasan digantinya seorang menteri.

“Saya melihat selama ini pemerintah belum terbuka kepada publik, apa indikator pemerintah sehingga ini [menteri] layak diganti, dan ini tidak layak diganti,” ucap Wempy.

Ia malah menyebutkan, Partai Amanat Nasional (PAN) memungkinkan untuk bergabung dengan koalisi pemerintahan Joko Widodo.

Menurut Wempy, PAN berbeda dengan partai oposisi lainnya seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat yang menunjukkan sikap oposisinya di ruang publik.

PAN, kata Wempy, tidak mengambil garis embarkasi yang cukup kuat ketika menyatakan dirinya sebagai partai oposisi.

Wempy menuturkan bahwa PAN memiliki kepentingan untuk masuk ke dalam kekuasaan atau koalisi pemerintahan Jokowi.

Seandainya memang terjadi, hal ini menurutnya dapat meningkatkan persentase koalisi mencapai absolut atau 78,61 persen. (Knu)

#Reshuffle Kabinet #Jokowi #Presiden Jokowi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Gibran Didesak Pemakzulan dan tak Bisa Maju Pilpres 2029, Jokowi: tak Masalah
Jokowi menegaskan negara Indonesia punya mekanisme demokrasi yang harus dilalui, sesuai dengan konstitusi serta sesuai aturan hukum yang berlaku.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
Gibran Didesak Pemakzulan dan tak Bisa Maju Pilpres 2029, Jokowi: tak Masalah
Indonesia
Putusan MK tak Temukan Bukti Ijazah Gibran Setara SMA, Jokowi: Kalau tak Lulus SMA enggak Bisa S-1
Ia mengatakan setiap negara memiliki sistem pendidikan berbeda-beda. Atas dasar tersebut, Wapres Gibran telah melalui tahapan pendidikan itu.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
Putusan MK tak Temukan Bukti Ijazah Gibran Setara SMA, Jokowi: Kalau tak Lulus SMA enggak Bisa S-1
Indonesia
Wacana Pemakzulan Gibran, Jokowi: Ikuti Mekanisme Demokrasi
Jokowi menyilakan untuk mengikuti mekanisme demokrasi yang tersedia.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
Wacana Pemakzulan Gibran, Jokowi: Ikuti Mekanisme Demokrasi
Indonesia
Jokowi Tanggapi Putusan MK soal Ijazah Gibran, Singgung Sistem Tiap Negara Berbeda
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, merespons putusan MK soal ijazah Gibran Rakabuming Raka. Ia menegaskan, anak sulungnya itu kuliah sampai S1.
Soffi Amira - Kamis, 08 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Putusan MK soal Ijazah Gibran, Singgung Sistem Tiap Negara Berbeda
Indonesia
Jokowi Ingatkan Pemakzulan Gibran Harus Ikuti Mekanisme Demokrasi dan Konstitusi
Pernyataan itu disampaikan Jokowi menanggapi kemungkinan munculnya upaya pemakzulan Gibran setelah MK membacakan putusan.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 08 Oktober 2026
Jokowi Ingatkan Pemakzulan Gibran Harus Ikuti Mekanisme Demokrasi dan Konstitusi
Indonesia
MK Tak Temukan Ijazah SMA Gibran, Jokowi Ungkap Hal Penting soal Pendidikan Sang Anak
Jokowi menegaskan Gibran Rakabuming Raka telah menyelesaikan pendidikan S1 saat menanggapi putusan MK soal ijazah SMA.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Oktober 2026
MK Tak Temukan Ijazah SMA Gibran, Jokowi Ungkap Hal Penting soal Pendidikan Sang Anak
Indonesia
Bocoran Obrolan Dinner Jokowi-Prabowo, PSI Buka Terlalu Kecil Kalau Cuma Bahas Ijazah Gibran
PSI bongkar isi obrolan pertemuan makan malam Jokowi dan Prabowo di Kertanegara saat sidang MK perkara ijazah SMA Wapres Gibran
Wisnu Cipto - Rabu, 07 Oktober 2026
Bocoran Obrolan Dinner Jokowi-Prabowo, PSI Buka Terlalu Kecil Kalau Cuma Bahas Ijazah Gibran
Indonesia
Jadi Menko, Ini Kementerian Dalam Penguasaan Bahlil Lahadalia
Sementara kantor untuk kementerian koordinator itu sendiri saat ini masih akan berada di Kementerian ESDM.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Oktober 2026
Jadi Menko, Ini Kementerian Dalam Penguasaan Bahlil Lahadalia
Indonesia
Profil Syahganda Nainggolan, Kepala Bakom Baru yang Dilantik Prabowo
Syahganda Nainggolan baru dilantik sebagai Kepala Bakom. Berikut profil dan rekam jejaknya.
Soffi Amira - Jumat, 02 Oktober 2026
Profil Syahganda Nainggolan, Kepala Bakom Baru yang Dilantik Prabowo
Indonesia
Tugas dan Fungsi Komjen Dedi Prasetyo, Kepala Badan Reforma Agraria Pilihan Prabowo
Penunjukan ini merupakan bagian dari perombakan (reshuffle) pejabat kementerian dan lembaga di bawah Kabinet Merah Putih.
Dwi Astarini - Jumat, 02 Oktober 2026
Tugas dan Fungsi Komjen Dedi Prasetyo, Kepala Badan Reforma Agraria Pilihan Prabowo
Bagikan