Uji Coba Vitamin A untuk Pengobatan Kehilangan Penciuman Akibat COVID-19
Sebuh studi yang mencari pengobatan terhadap perubahan indera penciuman karena COVID-19. (Foto: Unsplash/Tran Trang)
TETES hidung vitamin A mungkin dapat mengobati kehilangan atau perubahan indra penciuman pada beberapa orang yang menderita COVID-19, demikian menurut para peneliti Inggris.
University of East Anglia sedang melakukan uji coba selama 12 minggu. Hanya beberapa pasien sukarelawan yang akan menerima perawatan tetapi semua akan diminta untuk mengendus bau yang menyengat seperti telur busuk dan mawar.
Baca Juga:
Selain itu, pemindaian otak akan memeriksa apakah vitamin tersebut telah memperbaiki jalur penciuman atau "saraf penciuman" yang terluka. Kehilangan atau perubahan indra penciuman adalah gejala umum COVID-19, meskipun banyak virus lain, seperti flu, juga dapat menyebabkannya.
Kebanyakan orang secara alami mendapatkannya kembali indera penciumannya dalam beberapa minggu. Kehilangan penciuman sementara dikenal sebagai anosmia. Ini adalah gejala neurologis dan salah satu indikator COVID-19 yang paling awal dan paling sering dilaporkan.
Faktanya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa itu adalah salah satu indikator terkuat COVID-19 dibandingkan dengan gejala lain seperti demam dan batuk. Kehilangan penciuman sementara dikenal sebagai anosmia. Ini adalah gejala neurologis dan salah satu indikator COVID-19 yang paling awal dan paling sering dilaporkan.
Namun, banyak mengalami gangguan penciuman yang berkelanjutan yang disebut parosmia. Orang yang menderita parosmia setelah COVID-19 berarti bau banyak hal umum telah berubah untuknya. Air keran, misalnya, baunya sangat menyengat, seperti bau dari rawa atau selokan. Bumbu ketumbar memiliki bau deodoran, dan telur, berbau seperti karet terbakar.
Baca Juga:
Kehilangan indera penciuman itu sangat mengganggu kehidupan dan dapat memengaruhi pola makan seseorang secara dramatis. Selain itu, hal-hal sederhana seperti mandi atau gosok gigi juga tidak menyenangkan karena indra penciuman terganggu.
Peneliti utama Prof Carl Philpott dari UEA's Norwich Medical School dan James Paget University Hospitals NHS Trust mengatakan "Kami ingin mengetahui apakah ada peningkatan ukuran dan aktivitas jalur penciuman yang rusak di otak pasien ketika mereka dirawat dengan tetes hidung vitamin A."
"Kami akan mencari perubahan ukuran olfactory bulb - area di atas hidung tempat saraf penciuman bergabung dan terhubung ke otak. Kami juga akan melihat aktivitas di area otak yang terkait dengan mengenali bau," ujar Philpott seperti diberitakan BBC (29/9).
Vitamin A atau retinol dapat membantu menjaga:
- Sistem kekebalan, pertahanan tubuh terhadap penyakit dan infeksi
- Penglihatan, terutama penglihatan dalam cahaya redup
- Melapisi kulit dan beberapa bagian tubuh, termasuk hidung
Banyak makanan dari susu, serta beberapa sayuran, mengandung vitamin yang larut dalam lemak ini. Namun, orang yang mengonsumsi suplemen vitamin A perlu hati-hati karena terlalu banyak bisa berbahaya. (aru)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya