Kesehatan Mental

Telusuri Bahaya Depresi Pada Anak

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Sabtu, 23 Juli 2022
Telusuri Bahaya Depresi Pada Anak

Depresi pada anak dapat ditandai dengan beberapa gejala seperti lesu dan tidak bersemangat, (Freepik/Freepik)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APAKAH kamu tahu jika anak juga bisa depresi? Ya, depresi tak hanya terjadi pada orang dewasa saja, tapi juga bisa menimpa anak-anak. Sebenarnya, rasa sedih, kesal, dan suasana hati buruk merupakan hal yang normal terjadi pada anak.

"Tetapi ketika suasana hati yang sedih atau buruk berlangsung selama berminggu-minggu atau lebih lama dan ada pula perubahan lain dalam perilaku anak, itu mungkin tanda depresi," tulis kidshealth.org.

Banyak hal dapat menyebabkan depresi pada anak. Beberapa anak memiliki gen yang membuat mereka lebih sensitif terhadap depresi. Mereka mungkin memiliki anggota keluarga lain yang mengalami depresi.

Sementara anak lainnya mungkin telah mengalami hal-hal yang membuat stres. Antara lain karena kehilangan, trauma, kesulitan berkomunikasi, dan kondisi kesehatan yang serius. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan kesedihan atau kesedihan, dan terkadang depresi.

Alodokter menyebut depresi pada anak dapat ditandai dengan beberapa gejala seperti lesu dan tidak bersemangat, tidak mau bermain, perubahan perilaku, dan penurunan prestasi di sekolah.

Depresi pada anak dapat membatasi kemampuannya untuk beraktivitas secara normal. Kondisi ini bisa terjadi karena beberapa faktor : mulai dari bullying di sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, perceraian orang tua, kematian orang terdekat, hingga gangguan mental seperti bipolar, autisme, atau OCD.

Kondisi anak yang depresi sering kali tidak disadari. Hal ini karena anak-anak belum dapat menyampaikan perasaannya dengan baik. Oleh karena itu, orang tua perlu mencermati perubahan emosi dan perilaku anak.

Baca juga:

Tanda Gejala Depresi Bagi Anak-Anak, Laki-laki, dan Perempuan

depresi pada anak
Kondisi anak yang depresi sering kali tidak disadari. (Unsplash/Idzard Schiphof)

Gejala

Gejala depresi pada anak dapat dibagi menjadi gejala fisik dan gejala mental. Beberapa gejala fisik pada anak yang mengalami depresi adalah sering sakit kepala, sakit perut, berat badan tidak bertambah atau terlihat semakin kurus, nafsu makan berkurang atau justru bertambah dengan cepat, terlihat letih dan lesu, serta sulit tidur.

Gejala mental ditandai dengan kemungkinan anak mengalami tantrum atau mudah mengamuk. Terlebih jika dirinya dikritik. Dia juga tampak sedih atau bahkan putus asa. Kegiatan di sekolahnya juga terganggu. Misalnya dia tak mau dan mampu menyelesaikan tugas sekolah karena susah berkonsentrasi.

Hubungan dengan teman dan keluarga tak rapat lagi. Dia juga kehilangan pada aktivitas, minat, atau hobinya. Lalu sering muncul perasaan bersalah dan pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Kemudian merasa dirinya tidak berharga. Akhirnya dia terlihat gelisah atau cemas

Anak dapat dicurigai mengalami depresi bila gejala-gejala tersebut berlangsung hingga lebih dari 2 minggu dan mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Apabila tidak ditangani, gejala depresi pada anak bisa semakin parah dan membahayakan nyawanya.

Baca juga:

Anak Murung tak Melulu Jadi Pertanda Depresi

Depresi pada anak
Jika anakmu terdiagnosis mengalami depresi, ia perlu mendapatkan perawatan dan pengobatan sesuai saran psikolog atau psikiater anak. (Unsplash/Caleb Woods)

Penanganan

Jika anakmu terdiagnosis mengalami depresi, ia perlu mendapatkan perawatan dan pengobatan sesuai saran psikolog atau psikiater anak. Beberapa langkah penanganan yang umumnya dilakukan untuk mengatasi depresi pada anak meliputi konseling dan psikoterapi, termasuk terapi perilaku kognitif; terapi bermain; dan pemberian obat-obatan antidepresan.

Perawatan yang disarankan untuk anak dengan depresi akan disesuaikan dengan berat ringannya gejala depresi, respons anak terhadap terapi, serta kemampuan anak untuk mengikuti sesi terapi dengan baik.

Selain penanganan dari psikolog atau psikiater, peran orang tua sangat penting dalam proses pemulihan depresi pada anak. Orang tua perlu mendampingi anak selama terapi dan memberi dukungan kepada anak yang sedang depresi.

Terapi depresi membutuhkan waktu cukup lama sebelum hasilnya dapat terlihat. Oleh karena itu, orang tua perlu bersabar dan memberikan dukungan emosional selama anak menjalani proses terapi.

Orang tua juga perlu memastikan anak mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi waktu tidurnya, berolahraga secara rutin, dan memiliki kesempatan untuk melakukan hobinya. Hal ini akan memberikan dampak positif pada suasana hatinya.

Ketika anak mengalami depresi, orang tua tentu akan ikut prihatin, sedih, bahkan frustrasi. Namun, cobalah untuk tetap sabar dan memahami kondisi anak, karena hubungan yang positif dengan orang tua akan sangat membantu anak dalam menghadapi depresi.

Jika kamu melihat anak memiliki tanda-tanda yang dicurigai sebagai depresi pada anak, segeralah bawa ia ke psikolog atau psikiater anak. Dengan begitu, ia akan mendapatkan perawatan dan penanganan yang tepat untuk mengatasi depresi yang dialaminya. (dgs)

Baca juga:

Dampak Mengerikan dari Depresi yang Jarang Diketahui

#Kesehatan Mental #Anak-anak
Bagikan
Ditulis Oleh

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.

Berita Terkait

Indonesia
Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, Dosen dan Hakim Aktif Diminta Segera Dinonaktifkan
Beberapa anak terlaporkan mengidap penyakit seperti pneumonia, bronkitis, infeksi saluran kemih (ISK), hingga mengalami stunting akibat kekurangan gizi dan dehidrasi
Angga Yudha Pratama - Minggu, 03 Mei 2026
Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, Dosen dan Hakim Aktif Diminta Segera Dinonaktifkan
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Indonesia
Pramono Anung Dukung Pembatasan Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret 2026
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendukung kebijakan pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang mulai berlaku 28 Maret 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 09 Maret 2026
Pramono Anung Dukung Pembatasan Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret 2026
Indonesia
Guru SD Jember Paksa 22 Siswa Telanjang, KPAI Kecam Keras Tindakan Merendahkan Martabat Anak
Menurut KPAI, tindakan melucuti pakaian siswa tidak bisa dibenarkan dengan alasan penegakan disiplin sekolah
Angga Yudha Pratama - Kamis, 12 Februari 2026
Guru SD Jember Paksa 22 Siswa Telanjang, KPAI Kecam Keras Tindakan Merendahkan Martabat Anak
Fun
Liburan Keluarga Makin Seru, Nickelodeon Playtime Paw Patrol Hadir di Carstensz Mall Tangerang
Nickelodeon Playtime Paw Patrol resmi dibuka di Carstensz Mall, Tangerang. Hadir dengan konsep aman, bersih, dan edukatif untuk anak.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 27 Januari 2026
Liburan Keluarga Makin Seru, Nickelodeon Playtime Paw Patrol Hadir di Carstensz Mall Tangerang
Bagikan