MerahPutih.com - Indonesia berhasil mengamankan tarif impor nol persen untuk produk tekstil dan pakaian jadi ke pasar Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini membuat produk tekstil Indonesia lebih kompetitif dibanding negara lain, sekaligus menjaga penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut.
“Hal ini tentunya memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini akan sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kamis (19/2).
Baca juga:
Target Dongkrak Ekspor Tekstil 10 Kali Lipat
Airlangga menambahkan, kebijakan ini akan membantu industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia memperluas penetrasi ke pasar AS, yang disebutnya berukuran sekitar 28 kali lebih besar dibanding pasar domestik.
Dalam jangka panjang, langkah ini diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun mendatang.
“Indonesia merencanakan untuk mengembangkan ekspor industri tekstil dari sekitar USD 4 miliar ke USD 40 miliar dalam 10 tahun,” ujarnya.
Baca juga:
Hasil Negosiasi Panjang
Kesepakatan ini merupakan hasil proses negosiasi intensif sejak pengumuman kebijakan tarif resiprokal AS pada April 2025. Awalnya, Indonesia dikenakan tarif sebesar 32 persen oleh AS. Setelah proses panjang, disepakati tarif resiprokal 19 persen sebagai dasar. Namun, Indonesia berhasil mengamankan tarif 0–10 persen untuk produk tertentu melalui perjanjian dagang. (Asp)