Merahputih.com - Aktivitas pekerja memintal benang bahan baku tekstil di Karta Ajies Garment, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026).
Dunia industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional kembali menghadapi tantangan berat. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya memicu ketegangan global, tetapi juga mulai berdampak langsung pada sektor manufaktur Indonesia.
Sentimen global yang dipicu oleh kenaikan harga minyak, salah satunya akibat penutupan Selat Hormuz, menimbulkan efek domino ke berbagai sektor industri. Industri tekstil menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan harga bahan baku mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 40%.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pelaku industri terhadap keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. Kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu utama naiknya harga berbagai bahan baku tekstil.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menjelaskan bahwa harga paraxylene—bahan baku utama poliester—telah mencapai sekitar USD 1.300 per ton. Angka tersebut naik sekitar 40% dibandingkan dua pekan sebelumnya.