Sains

Studi Tunjukkan Keberadaan DNA Serangga pada Setiap Cangkir Teh

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 28 Juli 2022
Studi Tunjukkan Keberadaan DNA Serangga pada Setiap Cangkir Teh

Materi tanaman kering merupakan sumber yang menjanjikan untuk analisis DNA lingkungan. (Foto: freepik/azerbaijan_stockers)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DNA dari ratusan spesies serangga terus ada di daun teh kering hingga akhirnya tiba di cangkir yang kamu minum hampir setiap hari. Demikian menurut sebuah penelitian terbaru.

Jejak kecil DNA dapat membantu peneliti melacak serangga dari waktu ke waktu, seperti penurunan populasi dan jenis yang berinteraksi dengan tanaman sebelum panen dan pengemasan, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Biology Letters.

Serangga itu bisa termasuk lebah yang menyerbuki tanaman, ulat yang membuat kepompong di atasnya, dan laba-laba yang membuat jaring di sekelilingnya.

“Ada interaksi yang sangat spesifik dan samar yang hanya sedikit kita ketahui, karena pada dasarnya tidak ada yang berusaha mempelajari ini sebelumnya,” kata Henrik Krehenwinkel selaku penulis utama studi dan ahli genetika ekologi di Universitas Trier di Jerman pada majalah Smithsonian.

Baca juga:

Penelitian Besar Data DNA Mengungkap Petunjuk Baru Kanker

Studi Tunjukkan Keberadaan DNA Serangga di Setiap Cangkir Teh
Tim peneliti menganalisis berbagai teh dan herbal yang diproduksi secara komersial. (Foto: freepik/DejaVu Designs)

Krehenwinkel dan rekan-rekan peneliti menemukan, materi tanaman kering merupakan sumber yang menjanjikan untuk analisis DNA lingkungan, yang telah menjadi metode penelitian populer di bidang biomonitoring dalam beberapa tahun terakhir.

Para peneliti telah menggunakan air, tanah, dan permukaan tanaman untuk sampel. Untuk penelitian ini, para peneliti memilih teh dan herbal karena daun biasanya dihancurkan dan dikeringkan, yang memungkinkan adanya jejak DNA.

“Dalam sampel seperti kopi yang diproses sangat berat, kamu mungkin hanya memiliki sedikit DNA yang tersisa. Jadi kami mencoba pada hal-hal yang sealami mungkin,” kata Krehenwinkel.

Tim peneliti membeli teh dan ramuan herbal di toko bahan makanan lokal yang berasal dari empat benua. Mereka membeli beberapa versi produk yang sama dari merek yang berbeda untuk menguji berbagai macam asal.

Kemudian, tim mengembangkan metode untuk mengekstrak dan memperkuat DNA arthropoda dari bahan tanaman. Sebagian besar DNA dalam daun teh berasal dari tanaman teh, tetapi sejumlah kecil dapat ditelusuri ke serangga.

“Mungkin 99,999 persen, atau kira-kira sebesar itu, dari DNA yang kami ekstrak adalah DNA tanaman, dan hanya sebagian kecil yang tersisa, adalah DNA serangga yang tentu saja bagus untuk peminum teh karena mereka ingin minum tehnya dan bukan serangganya,” kata Krehenwinkel.

Baca juga:

Studi: MSG Bisa Bantu Pemenuhan Gizi Lansia

Studi Tunjukkan Keberadaan DNA Serangga di Setiap Cangkir Teh
Teh mint mengandung DNA dari serangga yang ditemukan di daerah penghasil peppermint. (Foto: freepik/tawatchai07)

Tim peneliti menganalisis berbagai teh dan herbal yang diproduksi secara komersial seperti chamomile, mint, dan peterseli. Sampel berisi jejak DNA untuk berbagai komunitas serangga, dengan total lebih dari 1.200 spesies berbeda di lebih dari 20 ordo. Rata-rata, mereka menemukan lebih dari 200 jenis artropoda yang berbeda di setiap sampel teh.

Secara umum, spesies cocok dengan distribusi yang diketahui untuk tanaman dan artropoda. Misalnya, teh mint mengandung DNA dari serangga yang ditemukan di daerah penghasil peppermint di Pacific Northwest, dan teh hijau mengandung DNA dari serangga asli Asia Timur.

Metode pengujian dapat diterapkan pada tanaman kering apa pun, tulis para peneliti, yang dapat menjadikannya cara itu alat yang berharga untuk memantau spesies serangga yang terancam punah dan melacak hama tanaman.

Krehenwinkel juga tertarik untuk mengekstrak DNA serangga dari tanaman kering yang dikumpulkan beberapa dekade lalu dan disimpan di koleksi museum, untuk kemudian dapat dibandingkan dengan tanaman modern untuk melacak bagaimana spesies telah berubah. Cara ini berpotensi membantu upaya konservasi serangga juga.

Metode baru tersebut, menurut Krehenwinkel, juga dapat memungkinkan para peneliti untuk melakukan perjalanan kembali ke masa lalu dan memahami bagaimana komunitas telah berubah. (aru)

Baca juga:

Studi Terbaru: Konsumsi Alkohol Tidak Sehat untuk Usia di Bawah 40 Tahun

#Sains #Dna
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menemukan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal kritis dan dapat lenyap pada 2075.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
 Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Lifestyle
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Wahana penjelajah NASA, Volatiles Investigating Polar Exploration Rover (VIPER), dijadwalkan untuk memulai misi ke wilayah kutub selatan bulan pada 2027.
Dwi Astarini - Kamis, 22 Oktober 2026
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Lifestyle
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Bagikan