MerahPutih.Com - Jalur rempah di masa lalu menjadi sebuah penanda kejayaan Nusantara. Berpijak pada kejayaan tersebut, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita akan menata ulang tata niaga rempah-rempah demi meningkatkan nilai tambah sebagai komoditas unggulan ekspor.
Menteri Enggar yang hadir dalam peresmian pameran Jalur Rempah "Kedatuan Sriwijaya, the Great Maritime Empire",menjelaskan akan menggalakkan kembali kejayaan rempah-rempah Indonesia dengan memenuhi kebutuhan dalam negeri dan meningkatkan ekspor.
"Kita akan coba tata perdagangan atau niaga komoditi rempah yang sempat berjaya apalagi beberapa komoditi itu hanya terdapat di sejumlah negara, termasuk Indonesia," kata Enggartiasto Lukita di Museum Nasional Jakarta, Jumat (3/11).
Menteri Enggar sebagaimana dilansir Antara menyayangkan Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah rempah-rempah, seperti cengkeh dan lada, padahal komoditas tersebut bisa dipenuhi dari dalam negeri dilihat dari segi iklim dan kondisi tanah yang subur.
Selain itu, harga lada di sejumlah daerah, seperti di Pulau Bangka, kian merosot hingga ke posisi Rp 65.000 dari sebelumnya Rp 70.000 per kilogram.
Dibanding tahun sebelumnya, harga lada sempat melambung tinggi di posisi Rp 170.000 per kilogram dan kemudian jatuh ke posisi Rp 120.000 per kilogram.
Enggar mengakui saat ini kinerja ekspor rempah-rempah masih menurun. Menurut dia, Indonesia harus mengembalikan kejayaan dan bersaing dengan Singapura yang saat ini dikenal menjadi eksportir rempah-rempah.
"Indonesia dibandingkan Singapura yang tidak punya bahan, jauh sekali. Sumbernya dari Indonesia, dijual melalui Singapura kemudian Singapura dikenal eksportir rempah-rempah yang dihasilkan dari Indonesia," ungkap Mendag Enggartiasto Lukita.
Ada pun Pameran Jalur Rempah "Kedatuan Sriwijaya, the Great Maritime Empire" di Museum Nasional berlangsung pada 4-28 November 2017 dengan menampilkan bukti sejarah, peninggalan arkeologis serta seni instalasi tentang perkembangan Kerajaan Sriwijaya yang di antaranya terkait jalur rempah.(*)