Kenaikan Harga Sejumlah Komoditas Dorong Lonjakan Nilai Ekspor

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
Kenaikan Harga Sejumlah Komoditas Dorong Lonjakan Nilai Ekspor

Ilustrasi ekspor produk. (Foto: MerahPutih.com/Didik)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - NERACA perdagangan Indonesia mencatatkan surplus dengan nilai USD 0,09 miliar pada April 2026. Surplus tersebut ditopang kinerja sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar USD 3,53 miliar, sedangkan sektor migas defisit sebesar USD 3,44 miliar. Dengan catatan tersebut, Indonesia mempertahankan tren surplus neraca perdagangan untuk 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, jika dilihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-April 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 5,64 miliar. Surplus tersebut terutama didorong surplus nonmigas sebesar USD 14,16 miliar dan defisit migas sebesar USD 8,52 miliar.

"Namun, nilai surplus Januari-April 2026 tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama untuk 2025 yang mencapai USD 11,07 miliar," ujar Menteri Busan kepada wartawan, Senin (8/8).

Tiga komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar selama periode Januari-April 2026 yakni lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) senilai USD 11,71 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) USD 8,34 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD 5,71 miliar. Sementara itu, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) menjadi penyebab defisit perdagangan tertinggi, yaitu sebesar USD 9,87 miliar, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) USD 4,95 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) USD 2,80 miliar.

Baca juga:

Neraca Perdagangan Mei 2025 Surplus USD 4,30 Miliar


Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia pada Januari-April 2026 dengan nilai USD 6,81 miliar, disusul India USD 4,44 miliar dan Filipina USD 2,77 miliar. Sementara itu, defisit nonmigas terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar USD 8,03 miliar, disusul Australia USD 3,05 miliar dan Argentina USD 0,73 miliar.

Mendag Busan menyampaikan Kemendag terus memperkuat diversifikasi pasar ekspor, mendorong penghiliran industri, serta meningkatkan ekspor produk bernilai tambah agar kinerja perdagangan nasional tidak bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.

Kemendag terus bersinergi memantau dan menentukan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas perdagangan, memperkuat daya saing ekspor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso


Pada April 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 25,30 miliar. Nilai itu tumbuh 12,32 persen ketimbang Maret 2026 (MtM) atau naik 21,98 persen jika dibandingkan dengan April 2025 (YoY). Peningkatan ekspor bulanan ini didorong kenaikan ekspor nonmigas sebesar 13,66 persen, sedangkan ekspor migas turun 9,81 persen (MtM).

Beberapa komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, yakni kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) yang meningkat 54,44 persen, tembakau dan rokok (HS 24) 43,49 persen, kayu dan barang dari kayu (HS 44) 40,91 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) 38,71 persen, serta mesin dan peralatan mekanis (HS 84) 37,26 persen (MtM).

Ia memaparkan ekspor nonmigas juga dipengaruhi peningkatan permintaan negara-negara mitra dagang utama. Tiga negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pertumbuhan tertinggi pada April 2026, yaitu Uni Emirat Arab dengan kenaikan 305,21 persen, Afrika Selatan (288,40 persen), dan Belgia (117,84 persen) (MtM).

Secara kumulatif, pada Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 92,15 miliar atau meningkat 5,48 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Kinerja tersebut ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 6,28 persen menjadi USD 87,74 miliar, sedangkan ekspor migas terkontraksi 8,30 persen menjadi USD 4,41 miliar.

"Tren positif ini menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia yang tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global," ujar Mendag Budi.

Mendag Budi menjelaskan kinerja ekspor pada periode Januari–April 2026 didorong pertumbuhan ekspor sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen jika dibandingkan dengan Januari—April 2025. Kenaikan ekspor kumulatif tersebut terutama ditopang ekspor nikel dan barang dari padanya (HS 75) yang melonjak 63,99 persen, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 55,30 persen, bahan kimia organik (HS 29) 30,86 persen, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) 25,34 persen, serta timah dan barang daripadanya (HS 80) 24,62 persen (CtC).

"Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia," kata Mendag.

Di sisi lain, ekspor sektor pertanian turun 26,27 persen. Sektor pertambangan dan lainnya juga turun 8,44 persen (CtC).

"Kakao dan olahannya (HS 18) serta kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas pertanian dengan penurunan terdalam, masing-masing sebesar 36,33 persen dan 33,48 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC)," tambah Mendag Budi.

Dari sisi tujuan ekspor Indonesia, ekspor nonmigas ke Mesir mencatat lonjakan signifikan sebesar 42,74 persen pada Januari—April 2026, diikuti Spanyol 33,18 persen, Afrika Selatan 23,13 persen, Hongkong 21,31, dan Tiongkok 20,58 persen (CtC). Sementara itu, jika dilihat secara kawasan, ekspor nonmigas seperti ke Asia Tengah lainnya (Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan), Afrika Utara, dan Afrika Selatan menunjukkan performa positif yang kuat selama periode Januari—April 2026.

Pada April 2026, nilai impor tercatat sebesar USD 25,21 miliar. Nilai ini meningkat 31,28 persen dibandingkan Maret 2026 (MtM) dan tumbuh 22,49 persen dibandingkan April 2025 (YoY). Lonjakan impor secara bulanan terutama disebabkan oleh tumbuhnya impor migas sebesar 45,09 persen (MtM) dan impor nonmigas sebesar 28,55 persen (MtM).

Busan menyatakan kenaikan impor ini terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kenaikan impor tertinggi dialami barang konsumsi sebesar 56,67 persen, diikuti bahan bahan baku dan penolong 35,46 persen dan barang modal 6,33 persen (MtM).

"Kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakat serta kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal," ujar Mendag Busan.

Selanjutnya, secara kumulatif, total impor pada Januari—April 2026 mencapai USD 86,51 miliar atau naik 13,40 persen dibanding Januari—April 2025 (CtC). Kenaikan tersebut ditopang impor migas sebesar 17,58 persen dan impor nonmigas sebesar 12,70 persen (CtC).

Sementara itu, dilihat dari golongan penggunaan barangnya (Broad Economic Categories/BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan selama periode Januari—April 2026. Impor barang modal meningkat paling tinggi sebesar 19,02 persen, diikuti barang konsumsi 15,68 persen dan bahan baku atau penolong 11,67 persen (CtC).

"Kenaikan impor barang modal didorong peningkatan impor beberapa komoditas utama, antara lain, komputer, pesawat udara, mesin untuk proses elektroplating dan elektrolisis, mesin untuk pengolah suhu, serta mobil listrik," jelasnya.

Dari sisi komoditasnya, lonjakan impor nonmigas tertinggi selama Januari—April 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang meningkat signifikan sebesar 516,83 persen. Kemudian, garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) 84,65 persen; bijih logam, terak dan abu (HS 26) 63,15 persen; berbagai produk kimia (HS 38) 37,72 persen, serta buah-buahan (HS 08) 34,75 persen (CtC).

Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia masih didominasi dari Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 53,12 persen. Di sisi lain, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar, antara lain, Meksiko yang naik 282,69 persen, Spanyol 125,56 persen, serta Prancis 117,65 persen (CtC).(asp)

Baca juga:

Perjanjian Dagang Indonesia-Amerika Hanya Atur Tata Kelola Aliran Data Terkait Perdagangan Digital





#Menteri Perdagangan #Neraca Perdagangan #Mendag Budi Santoso
Bagikan
Ditulis Oleh

Asropih

Berita Terkait

Indonesia
Kenaikan Harga Sejumlah Komoditas Dorong Lonjakan Nilai Ekspor
Indonesia mempertahankan tren surplus neraca perdagangan untuk 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
Kenaikan Harga Sejumlah Komoditas Dorong Lonjakan Nilai Ekspor
Indonesia
Surplus Dagang Indonesia Mulai Susut, Tekanan Inflasi Makin Terasa
Perhatian utama pasar saat ini bukan lagi sekadar besarnya ekspor Indonesia, melainkan kecepatan kenaikan impor migas yang mulai menggerus surplus perdagangan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 03 Juni 2026
Surplus Dagang Indonesia Mulai Susut, Tekanan Inflasi Makin Terasa
Berita Foto
Raker Mendag dengan Komisi VI DPR Bahas Perjanjian Dagang dengan Canada
Menteri Perdagangan, Budi Santoso saat memberikan pemaparan dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 19 Mei 2026
Raker Mendag dengan Komisi VI DPR Bahas Perjanjian Dagang dengan Canada
Indonesia
Kinerja Ekspor Indonesia Maret 2026 Tumbuh 1,62 Persen
Kinerja ini terutama ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 0,98 persen yang menjadi USD 63,60 miliar.
Dwi Astarini - Rabu, 06 Mei 2026
Kinerja Ekspor Indonesia Maret 2026 Tumbuh 1,62 Persen
Indonesia
Mendag Budi Santoso Dorong Pertumbuhan Ekonomi lewat Hobi Burung Kicau
Melalui lomba tersebut, Mendag Busan mengajak masyarakat untuk menunjukkan semangat melestarikan lingkungan.
Dwi Astarini - Senin, 04 Mei 2026
Mendag Budi Santoso Dorong Pertumbuhan Ekonomi lewat Hobi Burung Kicau
Indonesia
Demi Swasembada Pangan, Kemendag Perketat Impor Sejumlah Komoditas
Kemendag resmi menerbitkan Permendag 11/2026 yang memperketat impor komoditas pangan seperti gandum, kacang, hingga beras pakan. Berlaku mulai 8 Mei 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 30 April 2026
Demi Swasembada Pangan, Kemendag Perketat Impor Sejumlah Komoditas
Indonesia
Pantau Pasar Rawasari, Mendag Budi Santoso Sebut Harga Bahan Pokok Masih Stabil Jelang Lebaran 2026
Menteri Perdagangan, Budi Santoso memastikan, harga bahan pokok masih stabil menjelang Lebaran 2026.
Soffi Amira - Senin, 16 Maret 2026
Pantau Pasar Rawasari, Mendag Budi Santoso Sebut Harga Bahan Pokok Masih Stabil Jelang Lebaran 2026
Indonesia
Mendag Pastikan Harga Bahan Pokok di Kudus Stabil Jelang Lebaran 2026
Kementerian Perdagangan turun langsung ke pasar-pasar rakyat untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga bapok menjelang Idul Fitri 2026.
Dwi Astarini - Kamis, 12 Maret 2026
Mendag Pastikan Harga Bahan Pokok di Kudus Stabil Jelang Lebaran 2026
Indonesia
Jelang Lebaran 2026, Mendag Pastikan Pasokan Bahan Pokok di Jakarta Aman
Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan harga dan pasokan bahan pokok di Jakarta masih stabil menjelang Lebaran 2026 setelah meninjau Pasar Kramat Jati.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Maret 2026
Jelang Lebaran 2026, Mendag Pastikan Pasokan Bahan Pokok di Jakarta Aman
Indonesia
Menteri Perdagangan Tegaskan Minyak Goreng Melimpah di Makassar, Warga Jangan Panik
Karena stok bahan pokok cukup dan harganya stabil, Mendag mengimbau masyarakat untuk berbelanja seperti biasa.
Dwi Astarini - Rabu, 04 Maret 2026
Menteri Perdagangan Tegaskan Minyak Goreng Melimpah di Makassar, Warga Jangan Panik
Bagikan