MERAHPUTIH.COM - EKSPOR Indonesia pada Maret mencatatkan kinerja positif sebesar USD 22,53 miliar atau tumbuh 1,62 persen jika dibandingkan dengan Februari 2026 (MtM), meskipun secara tahunan masih terkontraksi 3,10 persen (YoY). Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (Busan) mengatakan peningkatan ekspor secara bulanan didorong lonjakan ekspor migas sebesar 18,60 persen, sedangkan ekspor nonmigas tumbuh terbatas sebesar 0,75 persen.
Kenaikan ekspor nonmigas ditopang peningkatan signifikan pada sejumlah komoditas utama, di antaranya bijih logam, perak, dan abu (HS 26) yang melonjak 8.055,36 persen, aluminium (HS 76) 112,99 persen, serta logam mulia dan perhiasan (HS 71) 98,89 persen.
"Pertumbuhan juga didukung peningkatan permintaan dari mitra dagang utama, khususnya Hong Kong yang tumbuh 78,20 persen, Thailand 67,08 persen, dan Taiwan 29,38 persen (MtM)," kata Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) kepada wartawan, Rabu (6/5).
Secara kumulatif, pada Januari–Maret 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 66,85 miliar atau tumbuh tipis 0,34 persen jika dibandingkan dengan Januari-Maret 2025 (CtC).
"Kinerja ini terutama ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 0,98 persen yang menjadi USD 63,60 miliar di tengah kontraksi ekspor migas sebesar 10,58 persen yang menjadi USD 3,25 miliar," ucapnya.
Mendag Busan juga menjelaskan, pada periode Januari-Maret 2026, sektor industri pengolahan menjadi pendorong pertumbuhan ekspor. Industri pengolahan juga mendominasi struktur pangsa total ekspor di periode tersebut sebesar 82,25 persen. "Sepanjang tiga bulan pertama 2026, pertumbuhan ekspor didorong kinerja sektor industri pengolahan naik 3,96 persen (CtC) atau menjadi USD 54,98 miliar dibandingkan periode Januari—Maret 2025 yang sebesar USD 52,89 miliar," jelasnya.
Baca juga:
Catat Rekor Ekspor Baru, Korea Selatan Jual Album K-Pop Senilai Rp 1,6 Triliun dalam Kuartal I 2026
Ekspor dengan kenaikan tertinggi terjadi pada nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang melonjak 60,60 persen, timah dan barang daripadanya (HS 80) 49,09 persen, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 40,97 persen, bahan kimia organik (HS 29) 21,44 persen, dan bahan kimia anorganik (HS 28) 14,46 persen (CtC).
Menurutnya, peningkatan itu dipengaruhi tren harga global dan permintaan dari mitra dagang. Namun demikian, kinerja ekspor sektor pertanian turun 32,18 persen dan sektor pertambangan dan lainnya turun 11,17 persen (CtC). Kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas sektor pertanian dengan penurunan ekspor terdalam sebesar 40,15 persen.
Dari sisi tujuan ekspornya, ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Maret 2026 menunjukkan pertumbuhan yang kuat di sejumlah pasar. Lonjakan ekspor tertinggi tercatat ke Spanyol sebesar 38,86 persen (CtC), diikuti Mesir 25,43 persen, Tiongkok 17,49 persen, Thailand 13,58 persen, serta Belanda 11,37 persen. Selain itu, ekspor ke kawasan nontradisional seperti Asia Tengah lainnya, Afrika Utara, Asia Timur, Amerika Selatan lainnya, dan Afrika Barat juga mencatatkan kinerja positif.
Impor Seluruh Golongan Barang Turun pada Maret 2026
Impor Indonesia tercatat sebesar USD 19,21 miliar, terkontraksi 8,08 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (MtM), tapi masih tumbuh 1,51 persen dibandingkan Maret 2025 (YoY). Penurunan impor bulanan ini dipengaruhi pelemahan impor nonmigas sebesar 15,14 persen (MtM) di tengah lonjakan impor migas yang meningkat signifikan sebesar 58,73 persen.
Mendag Busan menegaskan penurunan impor pada Maret 2026 terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang, dengan kontraksi terdalam pada impor barang modal yang turun 15,75 persen, diikuti barang konsumsi sebesar 11,64 persen serta bahan baku dan penolong sebesar 5,21 persen (MtM). "Penurunan ini dipengaruhi faktor musiman libur panjang Idul Fitri, tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta pelemahan permintaan domestik," imbuhnya.
Secara kumulatif, impor Indonesia Januari–Maret 2026 mencapai USD 61,30 miliar, naik 10,05 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Pertumbuhan ini terutama ditopang impor nonmigas yang naik 12,16 persen, sedangkan impor migas terkontraksi sebesar 1,72 persen.
Sementara itu, berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan. Kenaikan tertinggi dicatatkan barang modal sebesar 24,02 persen, diikuti bahan baku dan penolong 6,89 persen serta barang konsumsi 6,12 persen (CtC). Peningkatan impor barang modal ini didorong, antara lain, oleh permintaan terhadap komoditas strategis seperti telepon pintar, komputer, serta pesawat terbang.
Dari sisi komoditas, lonjakan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) sebesar 546,55 persen (CtC). Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 71,95 persen; diikuti bijih logam, terak dan abu (HS 26) sebesar 60,64 persen; serta logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik 44,71 persen.
Kenaikan juga terjadi pada berbagai produk kimia (HS 38) yang tumbuh 36,31 persen. Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi dari Tiongkok, Australia, dan Jepang dengan kontribusi gabungan mencapai 52,97 persen. Namun demikian, pertumbuhan impor tertinggi tercatat dari beberapa negara nontradisional, antara lain, Meksiko yang meningkat 383,37 persen, Spanyol 177,70 persen, serta Oman 138,90 persen (CtC) yang menunjukkan semakin beragamnya sumber pasokan impor Indonesia.(asp)
Baca juga:
Ekspor CPO Indonesia Terus Menguat, Kukuhkan Sebagai Raja Sawit