Slow Living Bukan Menyerah dari Kehidupan
Slow living memiliki konsep tidak menyerah dengan kehidupan yang berjalan cepat. (Foto: Freepik/Rawpixels)
SLOW living. Istilah ini mengemuka lagi dan jadi bahan perbincangan di Twitter beberapa hari lalu. Apa sih slow living?
Slow living atau menjalani kehidupan dengan lambat dan santai mungkin terdengar kontradiktif pada era serbainstan dan terburu-buru seperti saat ini. Orang-orang slow living dianggap malas-malasan atau bahkan tak punya ambisi dan motivasi mengejar kehidupan. Juga alasan untuk menyerah dari kompetisi hidup.
Benarkah?
Melansir Purewow, slow living jauh sekali dari tuduhan tadi. "Alih-alih menyerah pada tekanan masyarakat untuk mengambil bagian dalam gaya hidup yang serba cepat, kamu memperlambat dan fokus untuk menghargai hal-hal kecil yang mungkin diabaikan," tulis purewow.com.
Slow living adalah alternatif atau cara pandang lain melihat dunia.
Dunia akhir-akhir terasa bergerak cepat, bahkan terlalu cepat. Saat naik transportasi umum, orang-orang saling berebut masuk dan keluar.
Naik tangga atau eskalator di stasiun KRL juga saling berdesakan. Semua orang terburu-buru, berjalan setengah berlari. Cepat dan mungkin terlalu cepat.
Baca juga:
Melihat, merasakan, dan menjalaninya terasa melelahkan. Lari, bergerak, saling berebut setiap saat membuat tubuh dan pikiran jadi kewalahan. Akhirnya, orang mulai berpikir untuk menjalankan gaya hidup slow living.
Menjalani hidup slow living berarti lebih fokus pada rutinitas, menyediakan waktu untuk melakukan hobi yang benar-benar disukai, bahkan menikmati alam tanpa harus bersama telepon genggam, menjauh dari gawai pintar sementara waktu.
Inti dari slow living adalah menjalani dan melakukan semua hal yang membuat kamu merasa lebih baik. Dengan begitu, banyak manfaat yang bisa didapat. Misalnya merasa lebih bahagia, tidak terlalu stres, dan hidup lebih damai.
Semuanya bergantung pada pola pikir bagaimana kamu ingin menjalani hidup yang lebih bermakna. Hal ini juga mencakup pemikiran tentang apa saja yang ingin kamu hargai dalam hidup.
Melalui pola pikir ini, kamu berarti mencoba melakukan segalanya dengan kecepatan yang tepat dan tidak terburu-buru. Slow living berfokus pada melakukan segala sesuatu dengan baik, bukan dengan cepat.
Baca juga:
Kamu bisa memprioritaskan waktu untuk hal yang benar-benar penting. Meskipun harus dilakukan dengan lambat dan lama, hasilnya diharapkan sempurna.
Slow living tidak mengenal istilah sibuk sama dengan sukses. Slow living justru mengedepankan kualitas bukan kuantitas.
Mereka yang menjalani hidup slow living menjalankannya dengan niat, sadar, dan telah mempertimbangkan berbagai hal yang harus dilalui.
Jika kamu masih bertanya apa itu slow living, singkatnya sama dengan mematikan autopilot dan memberi ruang merefleksikan diri dan menjalani hidup dengan kesadaran penuh.
Slow living berarti hidup lebih baik, bukan lebih cepat. Bukan tertinggal tapi mengedepankan prioritas dan kenyamanan. (dgs)
Baca juga:
Tembus Perguruan Tinggi di Korea Selatan walau Belajar Santai
Bagikan
Hendaru Tri Hanggoro
Berita Terkait
Ladies, Kenali Tubuh, Siklus, dan Ritme Alami Diri untuk Bekal Menyusun Resolusi Tahun Baru
Tumbler Tahan Banting Pilihan Terbaik untuk Dukung Gaya Hidup Hijau Ramah Lingkungan
TYESO Resmi Hadir di Indonesia lewat Kerja Sama Eksklusif dengan PT USS
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Ibu Negara Prancis Brigitte Macron Disebut Kena Gangguan Kecemasan karena Dituduh sebagai Laki-Laki
Self-Care Menjadi Ruang Ekspresi dan Refleksi bagi Perempuan, Penting untuk Jaga Kesehatan Mental
The Everyday Escape, 15 Menit Bergerak untuk Tingkatkan Suasana Hati
Smart Posyandu Difokuskan untuk Kesehatan Jiwa Ibu setelah Melahirkan