MerahPutih Peristiwa - Freddy Sellano (44) adalah seorang wartawan spesialis perang, atau biasa diutus untuk mencari berita di daerah-daerah konflik. Sebelum menjadi seorang video journalist di Kantor Berita Indonesia Antara TV, lelaki kelahiran Maluku ini adalah seorang kontributor TV untuk kantor berita Amerika dengan penghasilan ratusan sampai ribuan dolar per berita yang ia kirim dari daerah konflik atau medan perang.
Namun, karena rasa nasionalisme dan kecintaanya terhadap Indonesia, Freddy Sellano akhirnya memutuskan bergabung dan membesarkan Kantor Berita Indonesia Antara TV, pada tahun 2009 silam.
Di LKBN Antara, Freddy ditugasi atau ditempatkan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Belakangan, Freddy ditarik ke dalam kantor dan menjadi koordinator kameramen (koorkam), untuk mendidik dan menggembelng jurnalis-jurnalis muda LKBN Antara TV.
"Dulu waktu konflik Ambon tahun 2002, gua terjebak di tengah-tengah konflik, untung saat itu gua diberikan satu set lengkap baju anti peluru beserta helm anti peluru, jadi saat gua ngambil gambar itu, pasukan jihad terbang di atas kepala gua," cerita Freddy, tahun 2010.
Di Ambon, Freddy menceritakan bahwa ia mendapat banyak intimidasi dan diminta untuk berpihak kepada salah satu golongan yang saat itu tengah bertikai. Namun, demi menjaga objektifitas dan netralitasnya di medan tempur, Freddy selalu mahir berdiplomasi dan bisa keluar dari situasi konflik yang selalu menyudutkan dirinya.
"Saat di Ambon itu gua sampai habis tiga camera, semuanya rusak kena tembak, kemudian gua ganti dan minta kirim kamera baru, dan pada suatu ketika, di hari Jumat, saat itu perang antargolongan tengah berada di puncaknya, gua cari angle yang tepat dan bagus untuk posisi gambar, saking asiknya gua ngambil gambar enggak sadar kalau ternyata gua jadi sasaran tembak oleh sniper kedua belah pihak," kenang Freddy.
Alhasil, kamera ketiga yang dimiliki Freddy pun rusak tertembak. Setelah melepas baju anti peluru dan celana yang juga anti peluru, serta helm perangnya, "ternyata gua kena tembak 27 kali, termasuk tiga di kepala, yang paling banyak di punggung sama di dada."
Kini Freddy Sellano sudah tiada, ia meninggal dunia hari ini Kamis (07/01) di Maluku, Ambon, tanah kelahirannya. Ia sakit stroke yang beberapa bulan belakangan dideritanya. Freddy meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan yang saat ini berusia 3 tahun.
Freddy Sellano adalah sahabat, kakak dan guru yang baik. Atas arahan dan bimbingannya, jurnalis asuhannya mahir menggunakan kamera, dan menjadi seorang video jurnalis (VJ). Sebuah profesi bergengsi di kalangan wartawan, karena seorang VJ memiliki kelengkapan utuh. Ia mampu menjadi seorang camera person handal, mengambil gambar dengan baik, bagus dan sesuai dengan harapan publik, namun pada saat bersamaan, ia juga menjadi seorang reporter, yang melaporkan berita dari tempat kejadian perkara, membuat naskah dan mencatat time code adalah bagian dari kehidupannya.
Selamat jalan Freddy Sellano, semoga semua jasa dan kebaikanmu terhadap bangsa ini dikenang dan menjadi contoh bagi para jurnalis broadcasting muda, agar tidak manja, dan memiliki spirit tempur seperti dirimu, tak kenal panas-hujan, siang-malam, bahkan di bawah desingan peluru pun kau tetap mengabarkan setiap peristiwa yang terjadi di hadapanmu, agar dunia tahu. Selamat jalan, Sang Pencatat Sejarah. (aka)
BACA JUGA: