Sains

Riset Neurosains Ungkap Mengapa Manusia Mudah Terdistraksi

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Rabu, 13 Maret 2024
Riset Neurosains Ungkap Mengapa Manusia Mudah Terdistraksi

Bukan karena otak terlalu sederhana, tapi justru karena kerja otak sangat rumit. (Pexels/Google Deepmind)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Otak manusia berfungsi untuk memfokuskan perhatian pada informasi, lalu mengendalikannya. Penelitian terdahulu telah menunjukkan bagaimana cara kerja otak dapat berfokus pada informasi dan menyaringnya.

Belakangan, penelitian terbaru dari ahli neurosains di Carney Institute for Brain Science di Brown University mengungkapkan bagaimana otak mengoordinasi dua fungsi penting tersebut hingga menyebabkan manusia sering terdistraksi (teralihkan fokusnya).

“Dengan cara yang sama kita menyatukan lebih dari 50 otot untuk melakukan tugas fisik seperti menggunakan sumpit, penelitian kami menemukan bahwa kita dapat mengoordinasikan berbagai bentuk perhatian untuk melakukan tindakan ketangkasan mental,” kata Harrison Ritz, seorang peneliti di Brown University, seperti dikutip newsweek (8/3).

Para peneliti mengambil sejumlah sampel dari peserta yang diminta melakukan serangkaian tugas kognitif. Aktivitas otak mereka kemudian diukur menggunakan mesin fMRI.

Baca juga:

Sains: Perempuan Bisa Ketahui Pria Lajang dari Aroma Tubuhnya

Tugas peserta adalah mengamati kumpulan titik-titik hijau dan ungu yang berputar-putar dan mereka diminta untuk membedakan antara pergerakan dan warna titik-titik tersebut.

Dalam satu tugas, peserta diberikan skenario dengan jumlah titik hijau dan ungu yang sama, tapi beberapa titik bergerak jauh lebih cepat dibandingkan titik lainnya. Peserta kemudian diminta untuk memutuskan warna mana yang mewakili proporsi lebih besar dari titik-titik yang bergerak cepat.

Dua bagian otak bekerja sama selama tugas ini: sulcus intraparietal dan korteks anterior cingulate.

Sulcus bekerja memfokuskan perhatian dan memanipulasi informasi dalam memori otak, sedangkan korteks anterior cingulate berperan dalam pengambilan keputusan, pembelajaran, dan motivasi.

“Anda dapat membayangkan sulkus intraparietal serupa dua tombol di pemutar radio: satu yang mengatur fokus dan satu lagi yang mengatur penyaringan,” kata Ritz.

Dalam penelitian mereka, anterior cingulate cortex melacak apa yang terjadi dengan titik-titik tersebut. Ketika anterior cingulate cortex menyadari bahwa gerakan membuat tugas menjadi lebih sulit, ia mengarahkan sulkus intraparietal untuk menyesuaikan tombol penyaringan untuk mengurangi kepekaan terhadap gerakan.

Dalam skenario ketika titik-titik ungu dan hijau hampir mencapai 50/50, anterior cingulate cortex mungkin juga mengarahkan sulkus intraparietal untuk menyesuaikan tombol fokus guna meningkatkan sensitivitas terhadap warna.

Sekarang bagian otak yang relevan menjadi kurang sensitif terhadap gerakan dan lebih sensitif terhadap warna yang sesuai, sehingga peserta lebih mampu membuat pilihan yang tepat.

Ritz mengatakan, temuan ini menantang kesalahpahaman umum tentang otak manusia dan konsentrasi.

“Ketika orang berbicara tentang keterbatasan pikiran, mereka sering mengartikannya sebagai 'manusia tidak memiliki kapasitas mental' atau 'manusia tidak memiliki daya komputasi,'” kata Ritz.

Temuan ini mendukung perspektif berbeda tentang mengapa manusia tidak fokus sepanjang waktu. Bukan karena otak terlalu sederhana, tapi justru karena kerja otak sangat rumit. Koordinasilah yang sulit. (dru)

Baca juga:

4 Alasan Orang Selingkuh Menurut Neurosains

#Sains
Bagikan
Ditulis Oleh

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.

Berita Terkait

Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Dunia
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies asli Floreana, 'Chelonoidis niger niger', punah pada 1840-an karena pelaut mengambil mereka dari pulau tersebut untuk sumber makanan dalam pelayaran.
Dwi Astarini - Senin, 23 Februari 2026
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Indonesia
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Presiden Prabowo Subianto bertemu profesor dari 24 universitas top Inggris yang tergabung dalam Russell Group. Kerja sama pendidikan hingga rencana bangun 10 kampus baru di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Fun
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Museum MACAN meluncurkan Water Turbine Project, program pendidikan seni kolaborasi dengan Grundfos Indonesia. Angkat isu air, lingkungan, dan keberlanjutan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 18 Desember 2025
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Lifestyle
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Jejak-jejak yang sebagian berdiameter hingga 40 sentimeter itu tersusun sejajar dalam barisan paralel.
Dwi Astarini - Rabu, 17 Desember 2025
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Bagikan