RDP dengan DPR, Pakar Pemilu Sebut E-Voting Rawan Diretas

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - 2 jam, 26 menit lalu
RDP dengan DPR, Pakar Pemilu Sebut E-Voting Rawan Diretas

Gedung DPR RI. (Foto: MerahPutih.com/Dicke Prasetia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Akademisi Universitas Brawijaya, George Towar Ikbal Tawakkal, menilai Indonesia belum siap menerapkan sistem pemungutan suara elektronik (electronic voting atau e-voting) dalam pelaksanaan pemilihan umum (pemilu).

Pandangan tersebut disampaikannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2).

George menyatakan dirinya cenderung tidak sepakat dengan penerapan e-voting, baik menggunakan model direct recording electronic (DRE), e-voting murni, maupun sistem hibrida. Menurutnya, meskipun terdapat berbagai varian sistem e-voting, seluruhnya masih menyisakan persoalan serius terkait kesiapan dan keamanan.

“Saya masih melihat kita belum siap, karena rawan untuk diretas. Keamanan siber itu ngeri. Kejahatan siber bisa datang dari mana saja, entah dari lawan politik atau pihak iseng,” ujar George dalam rapat tersebut.

Baca juga:

Hasil Rakernas, PDIP Dorong E-Voting Solusi Hemat Biaya Pilkada Langsung

Selain aspek keamanan, George juga menyoroti persoalan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu berbasis digital. Ia mengutip hasil penelitian Riera dan Brown di kawasan Amerika Latin yang menunjukkan bahwa penerapan e-voting justru memicu krisis kepercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu.

“Masalahnya bukan hanya teknis, tapi juga kepercayaan publik. Dalam banyak kasus, masyarakat tidak percaya dengan hasil e-voting. Instrumen digitalnya juga sering kali tidak siap,” katanya.

Baca juga:

Istana Respons Usulan E-Voting Pilkada, Sebut Perlu Kajian Mendalam

George menambahkan, pengalaman sejumlah negara maju dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia. Ia menyebut negara-negara seperti Jerman dan Belanda pernah menerapkan sistem e-voting, namun pada akhirnya menghentikan praktik tersebut.

“Negara-negara besar itu pernah memakai e-voting, tetapi kemudian dibatalkan. Sekarang mereka tidak mau lagi karena isu kepercayaan terus dipersoalkan,” ucapnya.

Oleh karena itu, George meminta pemerintah dan DPR untuk berhati-hati sebelum mendorong digitalisasi penuh dalam penyelenggaraan pemilu. Ia menegaskan bahwa legitimasi hasil pemilu jauh lebih penting dibandingkan efisiensi teknologi semata. (Pon)

#E-Voting #Komisi II DPR #Pemilu #Rapat Dengar Pendapat
Bagikan
Ditulis Oleh

Ponco Sulaksono

Berita Terkait

Indonesia
RDP dengan DPR, Pakar Pemilu Sebut E-Voting Rawan Diretas
Akademisi Universitas Brawijaya menilai Indonesia belum siap menerapkan e-voting karena rawan diretas dan berpotensi menurunkan kepercayaan publik.
Ananda Dimas Prasetya - 2 jam, 26 menit lalu
RDP dengan DPR, Pakar Pemilu Sebut E-Voting Rawan Diretas
Indonesia
RDP dengan Komisi III DPR, PPATK Ungkap Terima 43 Juta Laporan dan Analisis Dana Rp 2.085 T
PPATK memaparkan kinerja 2025 di DPR. Sebanyak 43 juta laporan transaksi diterima dengan nilai analisis mencapai Rp 2.085 triliun.
Ananda Dimas Prasetya - 2 jam, 57 menit lalu
RDP dengan Komisi III DPR, PPATK Ungkap Terima 43 Juta Laporan dan Analisis Dana Rp 2.085 T
Berita
Kubu Pro Junta Militer Menang Pemilu, Kuasi 86 Persen Kursi Parlemen
Parlemen Myanmar, yang terdiri atas dua majelis, memiliki jumlah total kursi sebanyak 664, tetapi dengan 25 persen kursi dialokasikan untuk perwira militer.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 31 Januari 2026
Kubu Pro Junta Militer Menang Pemilu, Kuasi 86 Persen Kursi Parlemen
Indonesia
Revisi UU Pemilu, NasDem Ingin Ambang Batas Parlemen Sampai 7 Persen
Penghapusan ambang batas berpotensi melahirkan fragmentasi partai yang berlebihan dan melemahkan efektivitas pemerintahan
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 30 Januari 2026
Revisi UU Pemilu, NasDem Ingin Ambang Batas Parlemen Sampai 7 Persen
Indonesia
Camat di Medan Main Judol Pakai Uang Pemda Rp 1,2 Miliar, Komisi II DPR: Harus Dipecat dari ASN
Komisi II DPR meminta camat di Medan yang bermain judol dengan uang Pemda, segera dipecat dari ASN.
Soffi Amira - Kamis, 29 Januari 2026
Camat di Medan Main Judol Pakai Uang Pemda Rp 1,2 Miliar, Komisi II DPR: Harus Dipecat dari ASN
Indonesia
Rapat Komisi III DPR Panas, Kapolres Sleman Dicecar soal Penanganan Kasus Hogi Minaya
Rapat Komisi III DPR berlangsung panas. Kapolres Sleman dicecar soal pertanyaan KUHP dalam kasus Hogi Mihaya.
Soffi Amira - Kamis, 29 Januari 2026
Rapat Komisi III DPR Panas, Kapolres Sleman Dicecar soal Penanganan Kasus Hogi Minaya
Indonesia
Komisi III DPR Minta Kejari Sleman Hentikan Perkara Hogi Minaya demi Kepentingan Hukum
Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, meminta agar perkara Hogi Mihaya dihentikan demi kepentingan hukum.
Soffi Amira - Kamis, 29 Januari 2026
Komisi III DPR Minta Kejari Sleman Hentikan Perkara Hogi Minaya demi Kepentingan Hukum
Indonesia
Istana Respons Usulan E-Voting Pilkada, Sebut Perlu Kajian Mendalam
Mensesneg, Prasetyo Hadi, merespons usulan soal e-voting Pilkada. Ia meminta hal itu membutuhkan kajian mendalam.
Soffi Amira - Senin, 19 Januari 2026
Istana Respons Usulan E-Voting Pilkada, Sebut Perlu Kajian Mendalam
Indonesia
Komisi II DPR Nilai Kunjungan Prabowo ke IKN Bawa Pesan Politik Keberlanjutan
Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda menilai, kunjungan Presiden RI, Prabowo Subianto, ke Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa pesan politik.
Soffi Amira - Selasa, 13 Januari 2026
Komisi II DPR Nilai Kunjungan Prabowo ke IKN Bawa Pesan Politik Keberlanjutan
Indonesia
Ketua Komisi II DPR: Wacana Pilkada Lewat DPRD Belum Masuk Prolegnas
Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda menegaskan wacana Pilkada melalui DPRD belum masuk Prolegnas dan belum menjadi agenda resmi DPR.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 13 Januari 2026
Ketua Komisi II DPR: Wacana Pilkada Lewat DPRD Belum Masuk Prolegnas
Bagikan