Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Masih akan Terjadi pada Agustus-September
Seorang pegawai di BMKG menjelaskan kondisi cuaca melalui bagan di Kantor BMKG, Jakarta, Selasa (14/1/2020). ANTARA/Katriana
MerahPutih.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak kemarau masih akan terjadi antara Agustus hingga September 2020.
"Kalau perkiraannya sebetulnya Agustus-September karena nanti di Oktober kita sudah mulai rutin banyak hujan," kata Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Agie Wandala Putra di Jakarta, Senin (24/8)
Tapi melihat variasinya ternyata cukup banyak, misalnya beberapa belakangan ini, seperti kemarin ada hujan, walaupun sementara. Dijelaskannya, secara alamiah memang di periode Agustus-September ini suhunya lebih hangat dibanding periode-periode lainnya.
Ia mengatakan puncak kemarau tersebut dapat terlihat dari suhu yang cukup hangat. Di Pulau Jawa sendiri, suhu terpanas kemarin tercatat terjadi di daerah Ciputat, Jakarta Selatan, yaitu sebesar 35,5 derajat Celsius.
Kemudian, daerah Majalengka juga kemarin suhunya tercatat cukup panas sebesar 35,4 derajat Celsius, sedangkan di Tangerang Selatan, suhunya juga tercatat sebesar 35,0 derajat elsius.
"Artinya suhu udara kemarin relatif cukup hangat, tercatat. Di hari sebelumnya, di Pulau Jawa paling panas di Semarang sebesar 35,2 derajat Celsius. Tapi sebenarnya itu relatif. Di Ciputat juga masih cukup hangat 35 derajat Celsius," katanya dilansir Antara
Artinya adalah bahwa di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, baik barat maupun timur saat ini memang sedang melalui periode kemarau.
Sementara itu, hujan yang sempat terjadi di beberapa daerah tersebut pada beberapa hari sebelumnya sebenarnya terjadi karena bagian dari fenomena gelombang tropis yang bersifat sementara waktu.
Periode kemarau tersebut, ucap dia, juga terlihat dari tutupan awan yang cukup minim yang biasanya menghalangi radiasi secara langsung.
"Terutama di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, sehingga kondisinya memang menjadi cukup panas ataupun cukup terik saat di luar ruangan," paparnya.
Kondisi terik tersebut lebih cenderung dikarenakan adanya pemanasan radiasi matahari. Kemudian, penyebab lainnya adalah karena wilayah di bagian selatan kondisi udaranya relatif lebih kering dibandingkan wilayah lain, sehingga kelembabannya relatif rendah.
"Akibatnya ketika kita keluar, udaranya terasa lebih panas," pungkasnya. (*)
Bagikan
Berita Terkait
Gempa Pacitan, BMKG Sebut Aktivitas Subduksi sebagai Penyebab
Gempa Pacitan Pagi Tadi Ternyata Masuk Kategori Megathrust, Untung tidak di Atas M 7,0
BMKG Ingatkan Kota-Kota di Jawa hingga Papua Siaga Hujan Lebat pada Jumat 6 Februari 2026
Prakiraan Cuaca Jumat 6 Februari: Jakarta Bakal Diguyur Hujan Ringan Siang Hingga Sore Hari
Prakiraan Cuaca Jakarta 5 Februari 2026: Pagi Cerah Berawan, Siang Hari Bakal Diguyur Hujan
Hujan Intensitas Tinggi di Jakarta, BMKG Keluarkan Peringatan Waspada
Jakarta Cerah pada Selasa (3/2) Pagi, BMKG Peringatkan Hujan Ringan Guyur Tiga Wilayah Saat Sore
Prakiraan Cuaca Jakarta Senin 2 Februari: Hujan Merata Hingga Malam
BMKG Ungkap Puncak Musim Hujan Jabodetabek, Warga Diminta Tetap Waspada
BMKG Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi di Perairan Sumatera Utara hingga 2,5 Meter