MerahPutih.Com - Pihak kepolisian Indonesia masih terus mendalami keterlibatan WNI sebagai pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Jolo, Filipina beberapa waktu lalu.
Langkah awal yang diambil kepolisian yakni melakukan tes dna terhadap potongan tubuh pasutri yang diduga pelaku bom bunuh diri tersebut. Hal ini dipandang penting karena kesimpulan pelaku aksi berdarah itu didapat hanya dari keterangan tersangka lain yang ditangkap otoritas Filipina.
Baca Juga: Terduga Teroris Padang Berencana Ledakan Bom Bunuh Diri Pada Aksi 22 Mei Lalu
Sementara itu, pengujian secara ilmiah sampai sekarang hasilnya tidak ada. Maka, pengujian secara ilmiah dirasa perlu dilakukan guna menguatkan keterangan para tersangka itu.
"Secara ilmiah akan lebih menguatkan keterangan sementara yang diberikan oleh tersangka yang sudah ditangkap di Filipina," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di kantor Divisi Humas Polri, Jakarta, Rabu (24/7).
Untuk itu, akan dilakukan pencocokan DNA dengan keluarga pelaku yang ada di Sulawesi Selatan. Terkait hal ini, Detasemen Khusus 88 Antiteror telah berkoordinasi dengan Kepolisian Filipina.
"Dari sisi scientific, Densus 88 sudah bekerja sama dengan kepolisian Filipina (untuk) tes DNA beberapa potongan tubuh yang di dapat di lokasi kejadian," katanya.
Baca Juga: Jaringan Teroris di Indonesia Terima Dana dari Venezuela dan Jerman
"Setelah dicocokkan identik DNA, nanti akan ada penyampaian secara resmi bahwa kedua orang itu merupakan pengebom bunuh diri," ujar dia lagi.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Año mengatakan jika dua pelaku dua bom bunuh diri yang menewaskan 22 orang di Jolo itu diduga warga negara Indonesia. Dua terduga pelaku ini disebut masuk kelompok Abu Sayyaf.
Menurut Eduardo, tujuan dari pasangan Indonesia ini adalah untuk memberi contoh dan memengaruhi teroris Filipina melakukan pemboman bunuh diri.(Knu)
Baca Juga: Teroris yang Ditangkap di Padang Menyasar Acara HUT RI dan Polda Sumbar