Pilkada Butuh Banyak Uang Memicu Politik Transaksional, Guru Besar STIK Yakin Bakal Ada Ancaman Demokrasi

Frengky AruanFrengky Aruan - Jumat, 16 Januari 2026
Pilkada Butuh Banyak Uang Memicu Politik Transaksional, Guru Besar STIK Yakin Bakal Ada Ancaman Demokrasi

Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Albertus Wahyurudhanto.(Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Polemik Pilkada langsung dan tak langsung tengah menjadi perdebatan di level elit. Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Albertus Wahyurudhanto menilai tingginya biaya politik dalam pelaksanaan Pilkada langsung telah mendorong menguatnya praktik politik transaksional yang berpotensi merusak kualitas demokrasi di tingkat daerah.

Albertus menegaskan bahwa perdebatan mengenai Pilkada seharusnya tidak berhenti pada dikotomi antara pemilihan langsung atau tidak langsung.

Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada lemahnya sistem rekrutmen elite politik dan tingginya ongkos kontestasi politik.

Pilkada langsung hari ini cenderung menjadi arena kompetisi modal.

“Kandidat dengan kekuatan finansial besar lebih dominan, sementara integritas, kapasitas, dan rekam jejak kepemimpinan sering kali terabaikan,” ujarnya dalam salah satu acara diskusi di Jakarta dikutip Jumat (16/1).

Baca juga:

Pengamat Semprot Wacana Pilkada DPRD yang Rawan Transaksi Gelap, Rakyat Cuma Jadi Penonton Elite Pesta Pora

Ia menjelaskan, mahalnya biaya pencalonan dan kampanye mendorong praktik politik uang sejak proses penjaringan di internal partai hingga penyelenggaraan pemerintahan pasca-pemilihan.

Dampaknya, kebijakan publik berisiko tidak berpihak pada kepentingan masyarakat, melainkan pada pengembalian modal politik.

Menanggapi wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD, Prof. Albertus menilai mekanisme tersebut tidak otomatis menghapus praktik transaksional, namun berpotensi menekan biaya politik jika disertai pengawasan ketat dan sistem yang transparan.

“Risiko politik uang memang tidak sepenuhnya hilang, tetapi ruang transaksi bisa lebih sempit dan lebih mudah diawasi secara institusional,” katanya.

Ia juga menyinggung pengalaman historis pemilihan kepala daerah melalui DPRD sebelum era reformasi. Menurutnya, meskipun memiliki keterbatasan demokratis, terdapat pelajaran penting terkait efisiensi pemerintahan dan stabilitas kebijakan.

Baca juga:

Sekjen PKS Tegaskan Perlu Kajian Mendalam dan Partisipatif untuk Penentuan Pilkada Langsung atau Lewat DPRD

“Model lama tentu tidak bisa diterapkan secara mentah. Namun demokrasi harus rasional, berbiaya wajar, dan tidak membebani sistem pemerintahan,” tegasnya.

Albertus menekankan bahwa jika Pilkada melalui DPRD kembali dipertimbangkan, maka harus dibarengi reformasi menyeluruh.

“Mulai dari seleksi berbasis meritokrasi, keterbukaan pengambilan keputusan, hingga peningkatan akuntabilitas DPRD kepada publik,” jelas Albertus yang juga mantan Komisioner Kompolnas ini. (Knu)

#DPRD #Pemilihan Kepala Daerah #Politik Uang
Bagikan
Ditulis Oleh

Frengky Aruan

Berita Terkait

Indonesia
Pilkada Butuh Banyak Uang Memicu Politik Transaksional, Guru Besar STIK Yakin Bakal Ada Ancaman Demokrasi
Polemik Pilkada langsung dan tak langsung tengah menjadi perdebatan di level elit.
Frengky Aruan - Jumat, 16 Januari 2026
Pilkada Butuh Banyak Uang Memicu Politik Transaksional, Guru Besar STIK Yakin Bakal Ada Ancaman Demokrasi
Indonesia
Pengamat Semprot Wacana Pilkada DPRD yang Rawan Transaksi Gelap, Rakyat Cuma Jadi Penonton Elite Pesta Pora
Kecenderungan biaya politik menjadi lebih mahal itu ada karena hanya segelintir elite yang memegang akses
Angga Yudha Pratama - Kamis, 15 Januari 2026
Pengamat Semprot Wacana Pilkada DPRD yang Rawan Transaksi Gelap, Rakyat Cuma Jadi Penonton Elite Pesta Pora
Indonesia
Sekjen PKS Tegaskan Perlu Kajian Mendalam dan Partisipatif untuk Penentuan Pilkada Langsung atau Lewat DPRD
Baik pilkada langsung maupun tidak langsung sama-sama memiliki dasar konstitusional dan dinilai demokratis. ?
Dwi Astarini - Selasa, 13 Januari 2026
Sekjen PKS Tegaskan Perlu Kajian Mendalam dan Partisipatif untuk Penentuan Pilkada Langsung atau Lewat DPRD
Indonesia
Ketua Komisi II DPR: Wacana Pilkada Lewat DPRD Belum Masuk Prolegnas
Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda menegaskan wacana Pilkada melalui DPRD belum masuk Prolegnas dan belum menjadi agenda resmi DPR.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 13 Januari 2026
Ketua Komisi II DPR: Wacana Pilkada Lewat DPRD Belum Masuk Prolegnas
Indonesia
PDIP Desak Pilkada Langsung Tetap Dipertahankan, Usul Gunakan E-Voting
Mendorong penerapan teknologi untuk efisiensi anggaran tanpa mengurangi kualitas demokrasi.
Dwi Astarini - Senin, 12 Januari 2026
PDIP Desak Pilkada Langsung Tetap Dipertahankan, Usul Gunakan E-Voting
Indonesia
PDIP Kritik Wacana Pilkada Lewat DPRD: Demokrasi Jangan Maju Mundur seperti Poco-Poco
PDIP mengkritik wacana Pilkada melalui DPRD. Menurut PDIP, menekan politik uang tak boleh mengorbankan hak pilih rakyat.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 11 Januari 2026
PDIP Kritik Wacana Pilkada Lewat DPRD: Demokrasi Jangan Maju Mundur seperti Poco-Poco
Indonesia
Golkar Beri Sinyal Dukung Kepala Daerah Dipilih Anggota DPRD, Sebut Lebih Demokratis, Beda dengan Orde Baru
Partai Golkar baru akan menyetujui pemilihan kepala daerah lewat DPRD jika partisipasi publik tetap berjalan maksimal.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Januari 2026
Golkar Beri Sinyal Dukung Kepala Daerah Dipilih Anggota DPRD, Sebut Lebih Demokratis, Beda dengan Orde Baru
Indonesia
Tolak Keras Pilkada Lewat DPRD, Gerakan Rakyat: Ini Permufakatan Elit Rampas Kedaulatan
Gerakan Rakyat menilai usulan Pilkada via DPRD sebagai langkah mundur reformasi dan permufakatan elit yang mengancam demokrasi.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 09 Januari 2026
Tolak Keras Pilkada Lewat DPRD, Gerakan Rakyat: Ini Permufakatan Elit Rampas Kedaulatan
Indonesia
PDIP akan Bahas Wacana Pilkada lewat DPRD di Rakernas
Ada pembicaraan informal, tapi belum masuk pada tahap pendekatan politik yang intens.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Januari 2026
PDIP akan Bahas Wacana Pilkada lewat DPRD di Rakernas
Indonesia
Mayoritas Pemilih Partai Politik Tolak Pilkada Dipilih DPRD
Hanya 53,3 persen publik percaya partai politik bekerja untuk kepentingan rakyat, sementara 39,3 persen menyatakan tak percaya.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 07 Januari 2026
Mayoritas Pemilih Partai Politik Tolak Pilkada Dipilih DPRD
Bagikan