Pertama, Skotlandia Sediakan Pembalut Gratis

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 27 November 2020
Pertama, Skotlandia Sediakan Pembalut Gratis

Skotlandia jadi negara pertama yang menggratiskan pembalut dan tampon. (Foto Pexels@Karolina Grabowska)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MENSTRUASI acap diibaratkan seperti tamu tak diundang. Meski sudah dicatat sekalipun, kadang ada saja waktu ketika tamu bulanan itu datang mendadak. Tentu tidak menjadi masalah jika kamu kebetulan sedang berada di rumah. Namun, kebayang enggak sih mendadak 'dapet' ketika sedang bepergian? Wah, pasti panik banget banget deh. Hal yang terjadi kemudian ialah kerepotan mencari pembalut. Nah, masalah itulah yang mau diselesaikan di Skotlandia.

Seperti dilaporkan BBC, 'period poverty' ternyata jadi masalah besar di Skotlandia. Istilah itu mengacu pada kondisi ketika seseorang yang memiliki keterbatasan finansial akhirnya tidak mampu membeli maupun mengakses kebutuhan pembalut dan tampon. Padahal, rata-rata menstruasi berlangsung selama lima hari.

BACA JUGA:

3 Alasan Mengapa Kamu Gemetaran Sehabis Olahraga

Perempuan bisa menghabiskan biaya 8 pound sterling (Rp150 ribu) dalam sebulan hanya untuk kebutuhan sanitasi. Sebuah survei yang dilakukan Young Scot terhadap lebih dari 2.000 orang menemukan data bahwa ternyata satu dari empat responden di sekolah atau universitas kesulitan mengakses produk sanitasi menstruasi.

Melihat masalah tersebut, Parlemen Skotlandia akhirnya bertindak. Pada Selasa (24/11), mereka melakukan pemungutan suara mengenai masalah penyediaan pembalut gratis di toilet umum. Untungnya hasil pemungutan suara mendukung penuh RUU Produk Menstruasi yang sudah dikampanyekan sejak beberapa bulan terakhir. "Tidak mudah untuk mencapai kesuksesan ini tetapi bersama kita bisa. Hari bersejarah untuk Skotlandia," tutur Monica Lennon, anggota parlemen yang pertama kali memperkenalkan RUU ini setahun lalu.

skotlandis
Kampanye mengenai ketersediaan pembalut dan tampon di fasilitas publik sudah dikampanyekan selama berbulan-bulan. (Foto Daily Records)

Dengan RUU tersebut, pemerintah Skotlandia akan mengalokasikan 8,7 juta pound sterling atau setara dengan Rp163,9 juta per tahun untuk menyediakan produk kesehatan tersebut. Langkah ini jelas jadi sebuah pencapaian luar biasa. Sejumlah pihak, seperti kelompok kesetaraan dan hak perempuan serta politisi langsung angkat bicara. "Bangga untuk memilih undang-undang yang inovatif ini, menjadikan Skotlandia negara pertama di dunia yang menyediakan produk menstruasi gratis untuk semua yang membutuhkannya. Kebijakan ini penting untuk wanita dan anak perempuan," cuit Menteri Pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon melalui akun Twitternya.

Nantinya fasilitas publik seperti sekolah dan universitas dituntut untuk menyediakan pembalut dan tampon di toilet. Kedua benda penting bagi perempuan itu akan selalu disediakan seperti halnya tisu.

tampon
Nantinya pembalut dan tampon akan disediakan gratis seperti halnya tisu. (Foto Pexels@Karolina Grabowska)

Mengutip Cosmo PH, period poverty sebenarnya merupakan sebuah isu global yang harus diselesaikan. Sebab hal ini memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Banyak yang beranggapan produk sanitasi hanyalah hal biasa. Padahal di luar sana akses terhadap pembalut, edukasi mengenai kebersihan menstruasi, fasilitas, dan manajemen pembuangannya masih minim. Belum lagi harga mahal yang harus dikeluarkan perempuan setiap bulannya.

"Ini akan membuat perbedaan besar bagi kehidupan wanita dan anak perempuan serta semua orang yang mengalami menstruasi," jelas Lennon. Pembicaraan mengenai RUU ini jelas jadi kemajuan besar karena otoritas lokal sudah memberikan setiap orang kesempatan untuk mendapatkan haknya. "Ini adalah pesan penting di tengah pandemi global bahwa kita masih dapat menempatkan hak-hak perempuan dan anak-anak perempuan di bagian atas agenda politik," tambahnya.(Sam)

BACA JUGA:

Pasanganmu Pengaruhi Kesehatanmu

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan