MerahPutih.com - Pelemahan nilai tukar (rupiah) bakal terus dipengaruhi peningkatan kekhawatiran terkait ketegangan perdagangan ekonomi global atau perang dagang. Apalagi AS menerapkan tarif baru sebesar 25 persen untuk semua impor baja dan aluminium.
"Langkah ini telah meningkatkan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan perdagangan dan dampak potensialnya terhadap ekonomi global," ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (10/2).
Selain itu, China mulai hari ini telah mengenakan tarif tambahan 15 persen terhadap batu bara dan gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat sebagai bentuk balasan atas pemberlakuan tarif impor barang dari AS sebesar 10 persen. Sejumlah barang dari AS juga akan dikenai bea masuk 10 persen.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menilai kondisi ketenagakerjaan AS yang masih solid menjadi faktor kurs rupiah melemah.
Baca juga:
Tekanan Terhadap Rupiah Berlanjut, Harus Bisa Kurangi Ketergantungan Impor
Tercatat, tingkat pengangguran AS bulan Januari 2025 menurun jadi 4,0 persen dari sebelumnya 4,1 persen, kenaikan upah naik 0,5 persen dari sebelumnya 0,3 persen, dan ekspektasi inflasi naik 4,3 persen dari sebelumnya 3,3 persen.
"Hasil data ini tentu saja mendukung penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya," katanya. (*)