MerahPutih.com - Donald Trump akan dilantik sebagai Presiden AS ke-47 pada 20 Januari 2025 di mana isu tarif dagang akan diterapkan AS encuat ke publik saat kepemimpinan Trump nanti.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendukung langkah pemerintah untuk melobi penurunan tarif dagang dengan AS.
Namun, Ketua Apindo Shinta Kamdani menilai sebelum melakukan negosiasi, pemerintah perlu dengan cermat memahami arah kebijakan dagang Trump saat menjabat nanti, terutama dampaknya terhadap China.
"Tapi saya rasa kita perlu lihat dulu ini bagaimana kebijakan Trump, terutama dengan China ya, dengan China yang kelihatannya akan dikenakan tarif yang tinggi. Nah karena Indonesia kita juga punya surplus, apakah kita juga terimbas juga nih? Ini kita mesti menjadi perhatian kita," ujar Shinta.
Baca juga:
Imbas Perang Dagang Amerika dan Tingkok, Ekspor Produk Kayu Ringan Indonesia Meningkat
Shinta mengakui, ke depannya, para pengusaha Indonesia memang perlu untuk mewaspadai kebijakan proteksionisme Trump.
Ia menegaskan, penerapan tarif impor AS yang tinggi bukan pertama kali dialami Indonesia. Indonesia sebelumnya juga pernah melobi Pemerintah AS untuk keringanan tarif beberapa produk khusus asal Indonesia.
"Jadi sebelumnya di era Presiden Trump sebelumnya kita sudah mulai menegosiasikan, misalnya seperti Limited Trade Deal. Pada waktu itu kan tujuannya juga untuk special tarif juga ya, untuk produk tertentu, kita pernah ngomong GSP (Generalized System of Preferences) dan lain-lain," jelasnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia bakal berupaya mengajukan penurunan tarif dagang dengan Amerika Serikat (AS) melalui kerja sama bilateral antara kedua negara.
"Kita sedang meminta supaya akan ada kerja sama ekonomi secara bilateral, supaya tarifnya kita turunkan," kata Airlangga. (*)