Tensi Panas Perang Tarif Dagang AS dengan Eropa Demi Rebut Greenland
Denmark tegaskan nasib Greenland ada di tangan rakyatnya.(foto: pexels-mikhail-nilov)
MerahPutih.com - Tensi politik luar negeri antara Amerika Serikat dan Negara Negara Eropa meningkat setelah rencana Presiden Amerika Serikat mengambil alih Greenland yang merupakan koloni Denmark hingga 1953 dan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark meski telah memperoleh otonomi pada 2009.
Akibat perebutan ini, Trump mengancam peningkatan tarif ekspor terhadap barang-barang yang dikirim Eropa ke Amerika.
Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel mengatakan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif pada beberapa negara Eropa terkait Greenland sebagai pemerasan.
"Sekutu tidak memperlakukan satu sama lain seperti ini, Apa yang terjadi adalah pemerasan. Dan itu tidak perlu, karena tidak membantu memperkuat aliansi. Itu juga tidak berkontribusi pada keamanan Greenland," kata van Weel kepada stasiun televisi NPO 1.
Baca juga:
Prabowo Subianto Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tenang dan Mampu Bertahan dari Gempuran Perang Dagang
Weel menambahkan, ia sangat terkejut dengan eskalasi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, terutama setelah pertemuan antara AS, Denmark, dan Greenland pada 14 Januari.
"Denmark mengajukan permintaan: 'Bergabunglah dengan kami, beberapa negara lagi, untuk menunjukkan kepada AS bahwa kami menanggapi masalah keamanan dengan serius.' Niatnya positif, tetapi kemudian justru dihukum karena itu,” kata van Weel.
Pernyataan Weel menanggapi pengumuman Trump pada Sabtu yang akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda dan Finlandia pada Februari yang kemudian akan meningkat menjadi 25 persen dan tetap berlaku hingga AS dapat membeli Greenland.
Pada 17 Januari, Menteri Pertahanan Belanda Ruben Brekelmans mengatakan bahwa Belanda akan mengirimkan bukan satu tetapi dua perwira ke Greenland untuk melakukan misi pengintaian bersama dengan sekutu NATO demi keamanan wilayah tersebut.
Trump telah berulang kali mengatakan bahwa Greenland harus menjadi bagian dari AS, dengan alasan wilayah itu strategis bagi keamanan nasional.
Namun, otoritas Denmark dan Greenland menolaknya dan memperingatkan AS agar tidak merebut pulau itu, seraya menekankan untuk menghormati integritas teritorial bersama mereka.
Senat Amerika Serikat dari Partai Demokrat menyatakan akan mengajukan rancangan undang-undang untuk menghentikan rencana Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor terhadap negara-negara Eropa, di tengah memanasnya ketegangan terkait wacana pembelian Greenland.
Langkah itu disampaikan Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer pada Sabtu, sebagai respons atas kebijakan yang dinilai berisiko memperburuk ekonomi dan hubungan transatlantik.
“Tarif ceroboh Donald Trump sudah menaikkan harga dan merusak perekonomian kita, dan sekarang ia justru memperburuk keadaan,” kata Schumer dalam sebuah pernyataan.
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Tensi Panas Perang Tarif Dagang AS dengan Eropa Demi Rebut Greenland
Warga Greenland Turun ke Jalan Tolak Rencana AS Ambil Pulau Tersebut
Obsesi Donald Trump Caplok Greenland Bakal Jadi Lonceng Kematian NATO
Trump Kritik Pasukan Khusus Denmark Cupu, Gagal Lindungi Greenland dari Rusia-China
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Sambangi KPK Bahas Tarif Resiprokal Amerika Serikat
Ancaman Terbaru Trump, AS Kenakan Tarif 25% ke Negara Rekan Dagang Aktif Iran
AS Siapkan Rencana Aneksasi, Pasukan NATO Bakal Ditempatkan di Greenland
Menlu: AS Ingin Beli Greenland Bukan Menginvasi
Niat Caplok Greenland, AS Bahas Opsi Gunakan Kekuatan Militer
Ditolak Tegas PM Greenland, Presiden AS Donald Trump Tetap Lanjutkan Niat Menganeksasi Greenland