Merahputih.com - Eskalasi perang dagang Kanada vs AS resmi memasuki babak paling memanas setelah pemerintah Kanada memberlakukan tarif balasan Kanada hingga 50 persen terhadap jajaran produk Amerika Serikat bernilai 28 miliar Dolar Kanada atau sekitar Rp 357 triliun mulai Selasa (8/9).
Langkah drastis ini terpaksa diambil Ottawa lantaran perundingan kesepakatan dagang antar-kedua negara mengalami jalan buntu tanpa titik terang. Kebijakan anyar ini dipastikan langsung berdampak pada kenaikan harga berbagai barang kebutuhan harian serta mengocok ulang rantai pasok global.
Skema tarif balasan Kanada ini menghantam ratusan komoditas impor asal Negeri Paman Sam mulai dari bahan baja, produk furnitur, hingga kaus katun.
Baca juga:
Perang Dagang dengan Kanada Memanas, Donald Trump Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America
Menariknya, di tengah kepungan tensi perang dagang Kanada vs AS yang makin membara, pihak Ottawa memilih mencoret produk ikan segar dan lobster dari daftar sasaran tarif impor AS setelah mendapatkan protes keras dari pelaku industri perikanan domestik.
Mengingat hubungan dagang bilateral kedua negara tercatat sebagai yang terbesar di dunia dengan nilai mencapai hampir 900 miliar Dolar pada 2025, aksi saling kunci kebijakan tarif impor AS dan Kanada ini membuat para pelaku bisnis di kedua belah perbatasan kelimpangan.
Sikap Saling Kunci: Carney Buka Pintu, AS Sebar Gertakan Baru

Aksi saling balas ini merupakan rentetan dari runtuhnya negosiasi pada akhir Agustus lalu. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menegaskan bahwa negaranya sebenarnya masih membuka pintu untuk mencapai kesepakatan yang adil dan tahan lama.
Kami siap untuk duduk bersama dan mencapai kesepakatan itu kapan pun pihak Amerika siap,
tegas Mark Carney dinukil BBC.
Namun, respons bernada dingin justru datang dari pihak Washington. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menilai bola liar kini sepenuhnya berada di tangan pemerintah Kanada.
Kami sudah menawarkan kesepakatan terbaik, tetapi mereka melihatnya langsung lalu balik badan begitu saja,
cetus Greer dalam wawancaranya dengan Fox News.
Tak cuma itu, Greer juga memperingatkan bahwa AS bisa saja membalas balik dengan melarang impor beberapa produk unggulan Kanada.
Sentimen diperkeruh oleh gertakan Presiden Donald Trump yang mengancam akan menghentikan seluruh aktivitas bisnis AS dengan produsen pesawat raksasa asal Kanada, Bombardier, jika pabriknya tidak dipindahkan ke wilayah Amerika.
Padahal, Bombardier merupakan tulang punggung ekonomi Kanada yang menyumbang lebih dari C$7 miliar terhadap PDB negara pada 2024.
Rincian Produk Sasaran dan Peta Kebijakan Tarif
Perang tarif ini sebenarnya dipicu oleh serangkaian kebijakan ketat yang diterapkan AS terlebih dahulu, sebelum akhirnya dibalas secara bertahap oleh Kanada.
-
Pajak Awal dari AS: AS telah menetapkan bea masuk 25% untuk mobil dan truk asal Kanada, plus pajak untuk material baja, aluminium, hingga kayu.
-
Tarif Tambahan AS: Pada akhir Agustus, Trump memperparah keadaan dengan mematok tarif 50% untuk produk susu, minuman beralkohol, stik hoki, hingga parfum asal Kanada.
-
Balasan Setimpal Kanada: Ottawa membalas dengan mengenakan tarif hingga 50% pada baja, furnitur, hingga pakaian katun AS, serta mempertahankan pajak atas mobil dan truk AS yang tidak mematuhi perjanjian USMCA/CUSMA.
Efek Domino bagi Konsumen dan Gambaran Ekonomi Kanada
Meskipun jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Kanada mendukung langkah tegas pemerintahnya, para ekonom memperingatkan adanya 'harga mahal' yang harus dibayar. Konsumen diperkirakan bakal menghadapi lonjakan harga barang pokok sehari-hari.
Baca juga:
Perang Dagang dengan Kanada Memanas, Donald Trump Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America
Dunia usaha di Kanada pun mulai bersiap menghadapi skenario terburuk dari konflik berkepanjangan ini.
Dunia usaha memahami pentingnya tindakan balasan, tetapi kami tidak ingin melihat eskalasi yang tanpa akhir. Meski begitu, para pelaku bisnis mulai bersiap bahwa perselisihan perdagangan ini bakal berlangsung lama,
ungkap Candace Laing, CEO dan Presiden Kamar Dagang Kanada.
Sebelum perang tarif ini meletus, ekonomi Kanada sebenarnya sempat menunjukkan taji dengan pertumbuhan PDB sebesar 3,3% di kuartal kedua.
Namun, imbas ketegangan dagang ini langsung terasa ketika Kanada harus kehilangan sekitar 41.000 lapangan kerja pada bulan Agustus saja.
Sebagai langkah antisipasi, PM Carney kini gencar mendorong diversifikasi pasar agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada AS. Data terbaru bulan Juli menunjukkan pangsa ekspor Kanada ke Negeri Paman Sam telah menyusut menjadi 66%, turun cukup signifikan dari rata-rata historis sebesar 75%.