MERAHPUTIH.COM — KEBAKARAN hutan mengamuk di wilayah barat laut Ontario, Kanada. Akibatnya, langit di area itu menghitam, membawa asap menyebar hingga wilayah timur laut Amerika Serikat. Kualitas udara di Toronto tercatat sebagai yang terburuk di antara kota-kota besar dunia pada Rabu (15/7). Kondisi ini memicu peringatan kesehatan dan imbauan agar masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan.
Kebakaran hutan saat ini melanda wilayah yang jarang berpenduduk, ratusan kilometer dari Toronto. Meski tidak secara langsung mengancam kawasan perkotaan, asapnya telah menyebar ke wilayah yang sangat luas.
Baca juga:
Kebakaran Klub Malam di Bangkok, Sedikitnya 28 Orang Tewas, 25 Luka Kritis
Kualitas Udara Tercatat Amat Buruk
Environment Canada melaporkan Indeks Kesehatan Kualitas Udara (Air Quality Health Index/AQHI) di Toronto mencapai 10+. Indeks itu dikategorikan sebagai ‘risiko sangat tinggi’. Prakiraan cuaca menunjukkan kondisi udara berbahaya ini diperkirakan akan berlangsung hingga Kamis malam.
Pemerintah setempat mengeluarkan peringatan setelah kualitas udara mencapai tingkat yang tidak sehat. Warga diminta mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan lebih sering beristirahat jika harus berada di luar pada Rabu dan Kamis. Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service) menyatakan asap mungkin akan bertahan hingga akhir pekan.
"Kami mungkin belum melihat kondisi terburuknya untuk New York City. Kami juga mungkin belum melihat kondisi terburuk di kawasan Great Lakes, wilayah utara New York, maupun New England," kata Dan Westervelt, profesor riset asosiasi di Lamont, Columbia University, dikutip The Korea Times.
Perusahaan teknologi pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, menempatkan Toronto sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, melampaui Kinshasa dan Delhi. Sementara itu, New York berada di peringkat kelima.
Dalam beberapa tahun terakhir, asap kebakaran hutan dari Kanada bagian utara telah menjadi fenomena yang hampir rutin terjadi setiap musim panas di wilayah Amerika Serikat. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan kereta milik Canadian National Railway melintas di tengah kobaran api di dekat Armstrong, Ontario.
Operator kereta tersebut mengatakan seluruh karyawan Canadian National di wilayah itu serta warga Armstrong telah dievakuasi pada Senin malam. Sebagai langkah pencegahan, perusahaan juga menghentikan sementara operasional kereta di sekitar Armstrong, yang berjarak lebih dari 500 kilometer di utara Toronto, akibat ancaman kebakaran hutan.
Baca juga:
Acara Piala Dunia Terimbas
Sementara itu, Kota New York mulai merasakan dampaknya beberapa hari sebelum negara bagian tetangganya, New Jersey, dijadwalkan menjadi tuan rumah final Piala Dunia pada Minggu. Pemerintah Kota Toronto membatalkan FIFA Fan Festival serta acara nonton bareng pertandingan Piala Dunia Inggris vs Argentina di Nathan Phillips Square karena buruknya kualitas udara.
Di kawasan New York City, lebih dari 80.000 orang diperkirakan akan menghadiri final Piala Dunia di stadion terbuka di New Jersey pada Minggu. Sementara itu, sekitar 50.000 orang berencana menyaksikan pertandingan melalui layar raksasa di Central Park, Manhattan, yang saat ini diselimuti kabut asap.
Baca juga:
Kebakaran Hebat Landa Permukiman Padat di Kemayoran, 26 Unit Damkar Dikerahkan
Musim Kebarakan Terburuk Kedua dalam Sejarah
Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul mengatakan melalui media sosial bahwa asap dan kabut akibat kebakaran hutan di Kanada telah menciptakan kondisi udara yang tidak sehat di seluruh wilayah negara bagian. Ia mengimbau masyarakat, terutama mereka yang memiliki gangguan kesehatan, untuk meningkatkan kewaspadaan.
Pemerintah Kanada menyatakan musim kebakaran hutan pada 2026 dimulai lebih lambat jika dibandingkan dengan 2023 dan 2025. Itu merupakan dua musim kebakaran terburuk dalam sejarah. Namun, pemerintah tetap memperingatkan bahwa risiko kebakaran masih tinggi karena suhu di berbagai wilayah Kanada lebih hangat dari biasanya.
Hingga Rabu, terdapat 835 kebakaran hutan aktif di Kanada, dengan 112 di antaranya masih belum terkendali. Sejauh ini, sekitar 1,9 juta hektare lahan telah terbakar. Sebagian besar kebakaran terjadi di provinsi Manitoba, Saskatchewan, dan Ontario.
Greg Evans, profesor teknik kimia dan kimia terapan di University of Toronto, mengatakan Toronto kini menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni gelombang panas ekstrem dan asap kebakaran hutan.
"Saya memperkirakan kondisi seperti ini akan semakin sering terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Oleh karena itu, kota-kota dan masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi situasi seperti ini di masa depan," ujarnya.(dwi)
Baca juga:
Gelombang Panas Menyapu AS Akhir Pekan ini, Jadwal Piala Dunia Berpotensi Terpengaruh

