Headline

Pemilihan Wagub DKI Molor, Pengamat Salahkan Lemahnya Diplomasi Politik PKS

Eddy FloEddy Flo - Senin, 12 Agustus 2019
  Pemilihan Wagub DKI Molor, Pengamat Salahkan Lemahnya Diplomasi Politik PKS

Pengurus PKS dan Gerindra DKI Jakarta usai pertemuan membahas mekanisme pencalonan cawagub DKI Jakarta (MP/Asropih)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Setahun sudah posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak ditinggalkan Sandiaga Uno. Berdasarkan kesepatakan partai pengusung yakni Gerindra dan PKS, jatah Wagub DKI akan diisi kader atau calon dari PKS.

Namun, setelah kurang lebih 350 hari, PKS tak juga meloloskan kadernya untuk menjadi pendamping Anies Baswedan. Ada apa dengan partai dakwah ini?

Baca Juga: Wagub DKI Molor, Pengamat Salahkan Kekalahan Prabowo di Pilpres

Pengamat politik Wempy Hadir menyoroti lemahnya diplomasi PKS dibalik kegagalan DPRD DKI Jakarta memilih pengganti Sandiaga Uno.

"Maka konsekuensi logisnya adalah PKS mesti melakukan konsolidasi kekuatan politik agar segera dibahas terkait dengan nasib cawagub yang mereka usung," kata Wempy kepada MP (merahputih.com) di Jakarta, Senin (12/8).

Pengamat Poliitk Wempy Hadir
Pengamat politik Wempy Hadir (Foto: Dok Pribadi)

Lebih lanjut, Wempy memaparkan faktor kekuatan politik PKS yang tidak signifikan di parlemen Kebon Sirih membuat konsolidasi pemilihan Wagub menjadi tidak menentu dan gampang buyar.

"Saya melihat bahwa PKS tidak memiliki kekuatan secara politik yang signifikan," tambah Direktur Indo Polling Network ini.

Wempy beranggapan, tarik ulur ini bisa saja dibaca bahwa Gerindra juga punya kepentingan untuk posisi wagub DKI Jakarta. Apalagi gubernur Anies Baswedan bukan merupakan kader Gerindra.

Sementara pada pilgub kali lalu, segala sumber daya yang dimiliki oleh Gerindra dikerahkan untuk memenangkan pasangan Anies-Sandi saat itu.

Nah energi begitu besar yang sudah dikeluarkan tidak mungkin mau dihilangkan begitu saja. Apalagi pertarungan di pilpres kader dari Gerindra kalah.

"Artinya mempertahankan posisi wakil gubernur dari kader Gerindra adalah sebuah pilihan strategis bagi partai. Sehingga pembahasan terkait dengan posisi wagub DKI Jakarta masih menemukan jalan buntu," jelas Wempy.

Situasi ini tentu bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, bagi Anies ketiadaan wakil gubernur tidak terlalu dipikirkan. Sebab tugas- tugas lain bisa didelegsikan kepala dinas terkait atau Sekda.

Tapi partai pengusung seperti Gerindra ketiadaan wakil gubernur sangat merugikan. Sebab semua keputusan strategis diambil alih oleh gubernur sendiri.

Pertemuan Fraksi Gerindra dan PKS di DPRD DKI Jakarta
Pertemuan pengurus DPD Partai Gerindra DKI Jakarta dan DPW PKS DKI Jakarta di kantor DPD Gerindra DKI, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (5/11) sore. Foto: MP/Asropih

"Sementara partai tentu membutuhkan kader yang bisa menterjemahkan visi dan misinya dalam bentuk kebijakan publik. Kalau kebijakan publiknya mendapatkan respon yang positif, maka parpol-lah yang mendapatkan benefit. Demikianpun sebaliknya," jelas Wempy.

Baca Juga: Anies Jengkel Kursi Wagub DKI Terlalu Lama Kosong

Wempy yakin, kelemahan dari ketiadaan Wagub DKI Jakarta bisa saja menjadi alasan bagi Anies suatu saat jika ada kebijakan publik yang tidak berhasil atau janji kampanye yang tidak terpenuhi.

"Akhirnya kekuasaan jatuh pada pencitraan semata dibandingkan dengan menunaikan janji-janji saat kampanye yang lalu," tutup Wempy Hadir.

Kursi Wagub DKI dipastikan kosong hingga pelantikan Presisden dan Wakil Presiden, Oktober mendatang. Alasannya, Pansus DPRD memilih untuk menyerahkan tugas mencari pendamping Anies Baswedan itu ke periode selanjutnya

Sebelumnya, Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) tatib Pemilihan Wagub DKI Jakarta Bestari Barus menyebut, pelaksanaan Rapimgab pembahasan tatib Wagub DKI kemungkinan akan terlaksana setelah Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024 dilantik.

Alasannya, sisa masa kerja yang dimiliki DPRD periode 2014-2019, tinggal beberapa minggu lagi. Anggota DPRD baru akan dilantik pada 26 Agustus 2019 mendatang.(Knu)

Baca Juga: Pengamat Ungkap Penyebab Molornya Pemilihan Wagub DKI

#Pengamat Politik #Wakil Gubernur DKI Jakarta #Partai Keadilan Sejahtera (PKS) #Sandiaga Uno
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Mengenang Kepergian Guruh Soekarnoputra, Seniman Legendaris yang Dibalut Kain Favorit Fatmawati
Kabar duka menyelimuti Indonesia. Guruh Soekarnoputra meninggal dunia hari ini di usia 73 tahun. Simak detail pemakaman dan pesan terakhir almarhum di sini.
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 26 September 2026
Mengenang Kepergian Guruh Soekarnoputra, Seniman Legendaris yang Dibalut Kain Favorit Fatmawati
Indonesia
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Indonesia diperkirakan menuju kapitalisme negara atau welfare state. Ekonom mengungkapkan risikonya.
Soffi Amira - Jumat, 04 September 2026
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Indonesia
Rano Karno Tegaskan Jakarta Harus Jadi Ruang Aman untuk Berdiskusi dan Menyampaikan Pendapat
Wakil Gubernur DKI menegaskan Jakarta harus menjadi ruang publik yang inklusif, terbuka bagi diskusi, dan menjamin kebebasan masyarakat berpendapat.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 18 Juli 2026
Rano Karno Tegaskan Jakarta Harus Jadi Ruang Aman untuk Berdiskusi dan Menyampaikan Pendapat
Indonesia
Pengamat Curiga Ada Oknum Lain di Kejagung, Minta Febrie Adriansyah Bongkar Pemilik Emas dan Uang Sitaan
Pengamat Politik, Fernando Emas, mencurigai ada oknum lain di Kejagung dalam kasus korupsi eks Jampidsus, Febrie Adriansyah.
Soffi Amira - Kamis, 16 Juli 2026
Pengamat Curiga Ada Oknum Lain di Kejagung, Minta Febrie Adriansyah Bongkar Pemilik Emas dan Uang Sitaan
Indonesia
Kasus Febrie Adriansyah Dinilai tak Berdiri Sendiri, Pengamat: Bongkar Semua yang Terlibat
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, meminta semua nama yang terlibat dalam kasus Febrie Adriansyah dibongkar.
Soffi Amira - Selasa, 14 Juli 2026
Kasus Febrie Adriansyah Dinilai tak Berdiri Sendiri, Pengamat: Bongkar Semua yang Terlibat
Indonesia
Pengamat: Pola Komunikasi Pemerintahan Prabowo Kini Makin Terpusat di Lingkaran Inti Presiden
Direktur Eksekutif Citra Institute Yusak Farchan menilai pola komunikasi pemerintahan Prabowo semakin terpusat pada figur-figur di lingkaran inti Presiden.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Pengamat: Pola Komunikasi Pemerintahan Prabowo Kini Makin Terpusat di Lingkaran Inti Presiden
Indonesia
Rano Karno Ungkap Penyebab Utama Kebakaran Jakarta, 95 Persen karena Korsleting
Sebanyak 95 persen kebakaran di Jakarta disebut dipicu korsleting listrik. Rano Karno menyoroti kebiasaan penggunaan stopkontak berlebihan.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 02 Juni 2026
Rano Karno Ungkap Penyebab Utama Kebakaran Jakarta, 95 Persen karena Korsleting
Indonesia
Meningkat dari Tahun Lalu, Pemprov DKI Jakarta Salurkan 210 Ekor Sapi untuk Kurban Idul Adha 2026
Rinciannya, 160 sapi dari BUMD, 44 sapi dari Baznas Bazis, serta 6 sapi dari HIPMI.
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Meningkat dari Tahun Lalu, Pemprov DKI Jakarta Salurkan 210 Ekor Sapi untuk Kurban Idul Adha 2026
Indonesia
Sekitar 68 Ribu Hewan Kurban Disembelih di Jakarta saat Idul Adha 2026, Wagub Rano Tekankan Aspek Kesehatan dan Kelayakan
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan, 68 ribu hewan kurban itu dipotong selama tiga hari.
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Sekitar 68 Ribu Hewan Kurban Disembelih di Jakarta saat Idul Adha 2026, Wagub Rano Tekankan Aspek Kesehatan dan Kelayakan
Indonesia
DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda
DPR menilai fenomena 'inflasi pengamat' relevan. Habiburokhman menyebut sebagian kritik bersifat provokatif hingga berpotensi jadi propaganda politik.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 April 2026
DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda
Bagikan