Panduan Tidur di Tengah Pandemi
Tidur membantu nakes dan membuat orang tersadar arti sehat dan bugar. (Foto: Unsplash/Mpho Mojapelo)
PANDEMI COVID-19 yang melanda berbagai Negara, baik maju maupun berkembang, menimbulkan satu masalah baru bagi banyak orang, yakni kesulitan tidur atau insomnia. Padahal tidur memiliki fungsi mengistirahatkan tubuh yang lelah pasca beraktivitas, dan sadar tidak sadar mengembalikan imun tubuh yang hilang.
Bukan hanya itu saja, di kondisi sekarang tidur menghadirkan satu fungsi baru, yaitu mengurangi beban nakes (tenaga kesehatan). Hadirnya COVID-19 yang menular, dan menimbulkan komplikasi penyakit disebabkan rasa kelelahan. Oleh karena itu, mengatur pola tidur membuat orang yang melakukannya merasakan apa arti sehat dan bugar.
Baca juga:
Menurut sumber-sumber resmi, tidur yang cukup sesuai jam standar, akan memperkuat sistem pertahanan tubuh dan membuat tubuh lebih mudah menerima vaksin. Tidur cukup mengefektifkan vaksin yang diberikan, sehingga yang bersangkutan tidak tertular COVID-19.
Berdasarkan sumber covid19.go.id, manusia umumnya tidur selama enam sampai tujuh jam. Serta direkomendasikan tidur sebelum jam 11 malam, dan bangun sebelum jam lima pagi. Naiknya imunitas dalam tubuh mengurangi korban tertular COVID-19, yang selama ini membuat nakes kelelahan.
Akan tetapi, rekomendasi tidur dari lembaga pemerintah, tidak mudah menjalankannya. Tidur di bawah jam 11 malam berlaku untuk orang tua, tapi sulit diberlakukan untuk pemuda ataupun remaja. Penelitian pada Februari 2021 membuktikan bahwa remaja punya masalah kurangnya jam tidur dan transisi tidur-bangun yang kacau.
Penelitian itu mengambil umur remaja 12-15 tahun, tapi tidak menutup kemungkinan usia 17 tahun ke atas mengalami hal serupa. Oleh karena itu, rekomendasi tidur bisa dilakukan dengan panduan tidur. Hal yang perlu dilakukan adalah niat dari diri sendiri.
Sebelumnya ada penjelasan manfaat dari tidur untuk nakes, sehingga secara pribadi akan ada dorongan untuk tidur lebih cepat. Baik suka maupun tidak suka. Tapi, saat dorongan untuk bangun lebih besar ketimbang tidur, ada baiknya melakukan hal positif. Hal positif dilakukan supaya tubuh secara otomatis lelah.
Baca juga:
Tubuh yang lelah mendorong si pemilik tubuh untuk beristirahat. Karenanya, hal positif yang bisa dilakukan sebagai persiapan tidur adalah nonton bareng (nobar) bersama teman-temanmu. Gunakan platform Discord, dan nonton satu film bersama teman-temanmu, atau sekadar curhat bersama.
Tindakan itu memberi stimulus rasa lelah pasca acara selesai, lalu lakukan doa menurut kepercayaanmu. Karena doa juga membantu proses mu untuk tidur dan masuk ke alam mimpi. Usahakan perutmu kosong sebelum tidur, supaya mengurangi ke kamar mandi saat bangun. Hindari minum kopi di malam hari, karena kafein membuat mata selalu melek, sedangkan tubuh sudah mau rebahan.
Penelitian pada Februari 2021 mengenai faktor masalah tidur anak remaja (12-15 tahun) saat pandemi COVID-19, dikarenakan kurangnya pengetahuan dan tips pengendalian sikap sebelum tidur. Karenanya, perbanyak informasi positif mengenai tips tidur, dan carilah informasi positif yang membuat pikiran rileks, serta hati nyaman.
Selain tidur cukup, berolahraga, dan makan makanan sehat juga membentuk imunitas tubuh. Akan tetapi, tidur tetaplah senjata jitu melawan COVID-19, karena melindungi diri sendiri dan orang lain, terutama keluarga. Tidur juga membantu menekan tingginya penyebaran pandemi, tapi tidak secara langsung. (bed)
Baca juga:
Bagikan
Berita Terkait
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta