Pakar Gizi Bagikan Kiat Siapkan Bekal Berkualitas untuk Anak
Bekal anak tidak perlu dalam porsi berlebih. (Pexels/Katerina Holmes)
PAKAR gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Anna Vipta Resti Mauludyani, SP, M.Gizi membagikan kiat bagi orang tua dalam menyiapkan bekal bergizi untuk anak, terutama anak usia dini, dengan memerhatikan porsi, tampilan, serta gizi seimbang.
Menurut Anna, konsep bekal sebetulnya merupakan makan untuk selingan sehingga sebaiknya orang tua jangan menyiapkan bekal dalam porsi penuh atau besar. Dia juga mengingatkan bahwa bekal bukan pengganti sarapan sehingga sebaiknya sarapan tetap dilakukan di rumah sebelum anak berangkat ke sekolah.
Baca juga:
Tips Kreasi Bekal Makan Anak nan Praktis dan Bergizi
"Siapkan saja dengan porsi kecil. Kembali lagi bekal adalah snack (selingan), jadi anggapannya bekal adalah snack. Snack, tidak terlalu banyak porsinya," terang Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB itu dalam bincang virtual yang dikutip Antara, Jumat (18/11).
Dengan memahami bahwa bekal sebagai makanan selingan, Anna menjelaskan porsi yang disajikan dalam bekal hanya sepuluh persen dari total kebutuhan kalori anak dalam sehari. Sebagai contoh, anak memiliki total kebutuhan kalori sebanyak 1.400 kkal, sehingga porsi bekal cukup 140 kkal saja.
"140 kkal sebanyak apa, sih? Mungkin kalau kita bayangkan pakai nasi, kalau nasi itu kira-kira hanya setengah centong sebelum ditambah lauk pauk, sayur, dan buah. Dengan setengah centong nasi saja itu sudah cukup sebetulnya, jadi tidak perlu sampai memenuhi tempat bekal," ungkap Anna.
Dengan porsi kecil dan sesuai kebutuhan anak, Anna mengatakan mereka akan merasa menikmati bekal yang dibawa dan bukan malah terpaksa untuk menghabiskan karena porsi berlebih.
Baca juga:
Salah Penyajian Bekal Sebabkan Kanker, Berikut Hal Penting yang Harus Diperhatikan Saat Membawa Bekal
Selain porsi, orang tua juga disarankan untuk membuat bekal dengan tampilan menarik dengan cara mempertimbangkan pemilihan warna makanan. Anna mengingatkan, warna menarik bukanlah warna nan mencolok, dan bisa didapatkan dari bahan alami seperti buah-buahan dan sayuran.
"Kita bisa berguru sama makanan atau bento-bento yang dari Jepang. Jadi kita bisa menambah variasi nasi tidak hanya dibiarkan begitu saja, bisa dbuat bulat-bulat, atau dibuat cetakan segitiga," katanya.
Modifikasi pengolahan sayuran yang disukai si kecil juga dapat dilakukan, seperti memasukkan sayur ke dalam nugget, risol, atau pangan olahan lain. Dengan cara ini, diharapkan dapat mengatasi bekal sayur yang biasanya tidak dimakan oleh anak.
"Itu bisa kita lakukan juga. Kalau dia tidak suka sayur itu benar-benar tidak dimakan, jangan sampai seperti itu. Tapi kalau olahannya sudah menarik dan dia suka makanan olahannya, nanti dia akan makan," tuturnya. (waf)
Baca juga:
Membawa Bekal ke Sekolah Bikin Anak lebih Fokus Belajar
Bagikan
Andrew Francois
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry
Hidup Ditengah ‘Kepungan’ Gunung Sampah, Anak-Anak di Seputar TPA Bantar Gebang Didorong untuk Bermimpi dan Menjadikan Hidup Lebih Baik di Masa Depan
Senang Ada Temuan Kasus Tb, Wamenkes: Bisa Langsung Diobati
Momen Garda Medika Hadirkan Fitur Express Discharge Permudah Layanan Rawat Jalan