MerahPutih.com - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) resmi menggelar Operasi Ketupat 2026 untuk mengamankan arus mudik dan arus balik perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.
Operasi kepolisian terpusat ini tidak hanya berfokus pada pengaturan lalu lintas, tetapi juga memastikan seluruh rangkaian kegiatan masyarakat selama bulan Ramadan hingga Idulfitri berlangsung aman.
Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Agus Suryonugroho, mengatakan Operasi Ketupat dimulai setelah Kapolri memimpin Apel Gelar Pasukan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Kamis (12/3).
“Operasi ini bukan hanya operasi di bidang lalu lintas, tetapi bagaimana Polri hadir memastikan momen sosial dan spiritual masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri semuanya aman,” ujar Agus.
Baca juga:
13 Hari Operasi Ketupat 2026, Polisi Kerahkan 89.228 Personel Amankan Mudik dan Lebaran
Dalam pelaksanaannya, Operasi Ketupat 2026 memiliki lima klaster utama pengamanan, yaitu:
- Jalan tol
- Jalan arteri
- Kawasan penyeberangan pelabuhan
- Simpul transportasi seperti terminal, bandara, dan stasiun
- Tempat ibadah serta destinasi wisata
Menurut Agus, seluruh skenario pengamanan telah disusun bersama berbagai pemangku kepentingan.
“Semua skenario cara bertindak sudah dirumuskan bersama stakeholder. Harapannya Operasi Ketupat tahun ini dapat berjalan lebih baik dengan tagline Mudik Aman, Keluarga Bahagia,” jelasnya.
Dukungan Teknologi Pemantauan
Dalam pengamanan arus mudik tahun ini, Korlantas Polri juga memanfaatkan teknologi untuk memantau kondisi lalu lintas secara real time.
Pemantauan dilakukan menggunakan drone, kamera pemantau, hingga body camera yang digunakan oleh anggota di lapangan.
“Operasi Ketupat saat ini menggunakan dukungan teknologi. Kami memantau kondisi lalu lintas menggunakan drone dan perangkat lainnya untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal,” kata Agus.
Baca juga:
Operasi Ketupat 2026: Polri Kerahkan 161 Ribu Personel dan Ribuan Pos Amankan Mudik Lebaran
Terkait rekayasa lalu lintas, Agus menjelaskan bahwa penerapan contraflow maupun one way akan dilakukan secara situasional berdasarkan volume kendaraan yang terpantau melalui sistem traffic counting.
Sebagai contoh, jika jumlah kendaraan di jalan tol mencapai 5.500 kendaraan per jam, maka akan diterapkan contraflow satu lajur.
Jika volume meningkat hingga 6.500 kendaraan per jam, contraflow akan diperluas menjadi dua lajur.
Apabila kepadatan masih tinggi, maka akan diberlakukan one way tahap pertama dari kilometer 70 hingga kilometer 236 menuju Jawa Tengah untuk mengurai kemacetan.
Baca juga:
Apa Itu Operasi Ketupat 2026 Dan Bagaimana Polisi Kerja Amankan Lebaran? Simak Penjelasannya
Selain di jalan tol, rekayasa lalu lintas juga akan diterapkan di sejumlah jalur arteri dan kawasan wisata.
Di kawasan Gadog menuju Puncak, misalnya, akan diberlakukan sistem one way menuju arah wisata pada pagi hari saat akhir pekan.
Pengaturan serupa juga disiapkan di jalur Bogor–Sukabumi (Bocimi) serta sejumlah titik rawan kepadatan lainnya, termasuk kawasan wisata Malang Raya dan simpul pertemuan arus kendaraan di Mengkreng, Jawa Timur.
“Seluruh skenario rekayasa lalu lintas sudah kami siapkan melalui survei lapangan dan tactical floor game agar pelaksanaan Operasi Ketupat berjalan optimal,” pungkasnya. (Knu)