Kesehatan

Obat Diabetes Ini Bisa Mengatasi Obesitas

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Jumat, 10 Juni 2022
Obat Diabetes Ini Bisa Mengatasi Obesitas

Obat ini telah menunjukkan penurunan berat badan yang lebih baik daripada obat sebelumnya. (Foto: freepik/rawpixel)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ADA alternatif mudah untuk mengatasi obesitas. Sebuah obat yang baru-baru ini disetujui Amerika Serikat untuk mengatasi diabetes tipe 2, ternyata juga sangat efektif untuk mengobati obesitas. Menurut hasil dari uji klinis baru, obat ini telah menunjukkan penurunan berat badan yang lebih baik daripada obat sebelumnya.

Dalam studi baru yang fokus pada pasien dengan obesitas tetapi tanpa diabetes, lebih dari 90 persen pasien yang memakai dosis tertinggi tirzepatide, berat badan mereka turun setidaknya 5 persen. Ahli endokrin Ania M. Jastreboff, MD yang memimpin penelitian tersebut menjelaskan 40 persen individu dengan dosis tertinggi ini kehilangan seperempat dari berat badan mereka.

Baca Juga:

Obesitas dan Gaya Hidup Buruk jadi Biang Sakit Diabetes



"Jika kamu merespon obat ini, kamu akan merasa kenyang lebih cepat, kamu tidak ingin nambah, dan kamu mungkin makan dalam jumlah yang lebih sedikit tapi lebih sering," kata Jastreboff dalam konferensi pers di sesi ilmiah tahunan American Diabetes Association, di mana hasil uji coba dipresentasikan pada hari Sabtu (4/6).

Jastreboff yang juga direktur Manajemen Berat Badan & Pencegahan Obesitas di Yale School of Medicine, menekankan bahwa tidak semua orang dapat mentolerir tirzepatide karena dapat menyebabkan mual dan efek samping lain. Pasien juga perlu minum obat obesitas jangka panjang, dengan cara yang sama seperti orang minum pil seumur hidup untuk mengurangi kolesterol atau tekanan darah tinggi.

Dia mengingatkan, jika kamu menghentikan obat anti-obesitas maka lemak tubuh akan naik kembali, jadi ini memerlukan pengobatan jangka panjang. Obesitas adalah salah satu faktor risiko terbesar untuk mengembangkan diabetes tipe 2, maka masuk akal untuk mengobati obesitas terlebih dahulu.



'Era Baru' dalam pengobatan obesitas

Jika kamu merespon obat ini, kamu akan merasa kenyang lebih cepat, kamu tidak ingin nambah. (Foto: freepik/jcomp)


Tirzepatide telah disetujui untuk diabetes tipe 2 dengan merek dagang Mounjaro bulan lalu. Namun, Lilly sebagai produsen masih harus mengajukan permohonan tambahan kepada FDA untuk penggunaan obat tersebut untuk mereka yang mengalami obesitas.

Pakar lain pada pertemuan itu mengatakan hasil tampaknya menunjukkan bahwa penurunan berat badan yang terlihat dengan tirzepatide lebih besar daripada yang terlihat dengan semaglutide (nama merek dagang Wegovy), obat obesitas yang disetujui di AS setahun yang lalu.

Obat sebelumnya itu juga diberikan dengan suntikan sekali seminggu. Obat tersebut dipuji sebagai "gamechanger" untuk penurunan berat badan pada saat disetujui. Kedua obat tersebut belum dibandingkan secara langsung.

Baca Juga:

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Diabetes


Hasil penurunan berat badan ini menempatkan tirzepatide tepat dalam kisaran penurunan berat badan yang dicapai dengan operasi bariatrik. Demikian menurut rekan peneliti dalam percobaan tersebut Louis J. Aronne, MD. Aronne juga merupakan direktur Pusat Manajemen Berat Badan dan Penelitian Klinis Metabolik Weill-Cornell di New York City, AS.

Ahli lain setuju. Meskipun kurangnya perbandingan langsung, temuan menunjukkan bahwa tirzepatide menyebabkan penurunan berat badan lebih dari semaglutide. Obat tersebut, menurut Lee M. Kaplan, MD, memberikan kesempatan untuk memenuhi atau melampaui efek penurunan berat badan dari operasi bariatrik.

"Mulai tahun lalu dengan semaglutide dan sekarang tirzepatide, agen ini lebih efektif daripada agen penurun berat badan [sebelumnya] lainnya, dan ini adalah era baru bagi pasien kami dan bagi dokter yang merawat pasien dengan obesitas. Kami akan memiliki lebih banyak alat,” kata Jastreboff diberitakan WebMD (6/6).



Pengurangan berat lebih banyak

Satu masalah besar adalah akses ke obat-obatan ini yang datang dengan banderol harga lumayan. (Foto: freepik/jcomp)

Dalam uji coba yang mencakup 2.539 orang dewasa yang memiliki berat rata-rata 104,78 kg dan BMI 38, peserta kehilangan rata-rata antara 16 hingga 23,5 kg saat menerima suntikan obat mingguan selama 18 bulan, dibandingkan dengan kehilangan hanya 2,26 kg pada mereka yang mendapat suntikan plasebo.

Semua peserta juga diberikan sesi konseling gaya hidup reguler, yang disampaikan oleh ahli diet atau profesional perawatan kesehatan dengan kualifikasi, untuk membantu mereka tetap pada makanan sehat dan seimbang yang mengurangi 500 kalori per hari dari menu harian mereka. Lalu setidaknya mereka harus melakukan 150 menit aktivitas fisik per minggu.

Pada akhir penelitian, pasien telah kehilangan rata-rata 16 kg pada dosis 5 mg tirzepatide, 22 kg pada dosis 10 mg, dan 23,5 kg pada dosis 15 mg, dibandingkan dengan kehilangan 2,4 kg dengan plasebo.

Hampir semua orang yang memakai tirzepatide juga mengalami peningkatan gula darah, tekanan darah, dan kadar kolesterol. Ini memangkas pinggang peserta sebesar 14 cm pada mereka yang menggunakan dosis 5 mg, dan 18 cm pada mereka yang menggunakan dosis 15 mg, dibandingkan dengan 3,8 cm pada mereka yang menerima plasebo.

Sekitar 15 persen dari peserta yang menerima tirzepatide meninggalkan percobaan, sekitar sepertiga karena efek samping gastrointestinal. Sementara itu, 26 persen sukarelawan percobaan yang menerima injeksi plasebo keluar.

Satu masalah besar adalah akses ke obat-obatan ini, yang datang dengan banderol harga yang lumayan di AS. Harga eceran semaglutide untuk obesitas melebihi 1.000 USD (Rp 14.558.650) per bulan, dan diperkirakan harga tirzepatide akan serupa. (aru)

Baca Juga:

Rutin Minum Tetap Bisa Membuat Dehidrasi

#Kesehatan #Obesitas #Diabetes Tipe 2
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Bagikan