NU dan Muhammadiyah Sepakat Tak Mau Dibawa-bawa untuk Kemenangan Capres

Zulfikar SyZulfikar Sy - Kamis, 25 Mei 2023
NU dan Muhammadiyah Sepakat Tak Mau Dibawa-bawa untuk Kemenangan Capres

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (ketiga kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Ketiga Kanan) di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, Kamis (25/5/23). (ANTARA/Sean Filo Muham

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Pilpres 2024 sudah di depan mata. Sejumlah langkah pencegahan dilakukan untuk meredam terjadinya polarisasi selama pemilihan pemimpin lima tahun sekali itu.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) Yahya Cholil Staquf atau biasa disapa Gus Yahya mengingatkan para bakal capres dan cawapres tidak menggunakan politik identitas di Pilpres 2024.

Termasuk, kata Gus Yahya, menggunakan identitas NU untuk mendongkrak elektabilitas.

Baca Juga:

Survei Denny JA: Prabowo Capres Pertama yang Lolos Putaran Kedua Pilpres

"Kita tidak mau ada politik berdasarkan identitas Islam, bahkan kita tidak mau ada politik berdasarkan identitas NU. Jadi kami tidak mau ada kompetitor pilih orang NU,” ujar Gus Yahya diamini Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (25/4).

Gus Yahya mengungkapkan, dalam pandangan PBNU, politik identitas adalah politik yang hanya menyandarkan penggalangan dukungan berdasarkan identitas primordial saja.

Menurut dia, politik identitas membuat pasangan capres-cawapres hanya menggunakan identitas primordial untuk memenangi kontestasi, tanpa menawarkan program-program rasional dan hal-hal lebih visioner.

"Kami memandang politik identitas ini berbahaya bagi masyarakat secara keseluruhan karena itu akan mendorong perpecahan di masyarakat," tandas Gus Yahya.

Baca Juga:

Saan Mustopa Sebut Dukungan Jokowi Pada Capres 2024 Tak Signifikan Pengaruhi Suara

Mantan anggota Watimpres ini mengingatkan agar umat dan agama diseret dalam pesta demokrasi.

Menurut dia, para pasangan capres-cawapres perlu mengedepankan program dan agenda dalam kompetisi Pilpres 2024.

“Kalau mau bertarung harus dengan tawaran rasional, ini yang kami harapkan. Saya sering katakan bahwa kita tidak mau ada politik berdasarkan identitas Islam,” pungkas Gus Yahya.

Sementara itu, Haedar juga berbicara terkait hal ini. Baginya, politik identitas berbahaya karena berujung polarisasi.

"Karena menyandarkan, maka sering terjadi politisasi sentimen atas nama agama, ras, suku, golongan yang akhirnya membawa ke arah polarisasi," tutur Haedar.

Jelang Pilpres 2024, baik NU atau Muhammadiyah biasanya didekati oleh calon-calon. Sebab, basis massa keduanya besar.

Saat ini, ada tiga bakal capres yang dikabarkan bersiap untuk maju. Yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. (Knu)

Baca Juga:

Johnny G Plate Jadi Tersangka Ganggu Pencapresan Anies

#Muhammadiyah #Nahdlatul Ulama #Pilpres #Pemilu 2024
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Ndhalem Kasepuhan K.H. Wahab Chasbullah Jadi Tempah Ahwa Pilih Ketum PBNU
Keteladanan perjuangan K.H. Wahab Chasbullah dapat menjadi inspirasi bagi para kiai yang bermusyawarah dalam menentukan arah kepemimpinan jamiyah NU.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 Agustus 2026
Ndhalem Kasepuhan K.H. Wahab Chasbullah Jadi Tempah Ahwa Pilih Ketum PBNU
Indonesia
Ketua PWNU Jakarta Dorong Syuriah Bentengi NU dari Politik Transaksional
Syuriah memiliki posisi strategis untuk menjadi pengingat dan penjaga muruah organisasi.
Dwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
Ketua PWNU Jakarta Dorong Syuriah Bentengi NU dari Politik Transaksional
Indonesia
Isu Politik Uang Jelang Muktamar NU Dinilai Sangat Ironis
NU selama ini dipandang sebagai organisasi keagamaan yang kekuatan utamanya bertumpu pada moralitas dan nilai-nilai keislaman.
Dwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
Isu Politik Uang Jelang Muktamar NU Dinilai Sangat Ironis
Indonesia
Presiden Prabowo Subianto Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Kehadiran Presiden diperkirakan turut meningkatkan jumlah warga yang datang ke Jombang, baik peserta muktamar maupun warga NU dari berbagai daerah.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 11 Agustus 2026
Presiden Prabowo Subianto Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Indonesia
Komisi Organisasi Muktamar NU: Semakin Banyak Calon Ketua Umum, Semakin Baik
Kemunculan banyak figur kandidat justru akan semakin memperkaya proses demokratisasi serta diskursus gagasan di internal organisasi. 

Dwi Astarini - Sabtu, 08 Agustus 2026
Komisi Organisasi Muktamar NU: Semakin Banyak Calon Ketua Umum, Semakin Baik
Indonesia
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah, Ketum Muhammadiyah Berpesan Jaga Komitmen Nilai Muhammadiyah
Meminta seluruh peserta Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah menjaga komitmen terhadap nilai-nilai dasar Muhammadiyah.
Dwi Astarini - Sabtu, 08 Agustus 2026
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah, Ketum Muhammadiyah Berpesan Jaga Komitmen Nilai Muhammadiyah
Indonesia
Elite PBNU Terlibat Saling Pecat, Gus Faris: Rais Aam, Ketum, dan Sekjen tak Layak Dicalonkan Lagi
Saling memberhentikan pengurus dengan dasar aturan organisasi merupakan fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah NU.
Dwi Astarini - Sabtu, 01 Agustus 2026
Elite PBNU Terlibat Saling Pecat, Gus Faris: Rais Aam, Ketum, dan Sekjen tak Layak Dicalonkan Lagi
Indonesia
Jelang Muktamar PBNU, Guru Besar UI Usulkan Ketua Umum Dipilih AHWA
AHWA tidak semestinya hanya berperan dalam memilih Rais Aam, tetapi juga perlu diperkuat untuk menyeleksi calon Ketua Umum PBNU.
Dwi Astarini - Sabtu, 01 Agustus 2026
Jelang Muktamar PBNU, Guru Besar UI Usulkan Ketua Umum Dipilih AHWA
Indonesia
Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah
: Muhammadiyah DIY meluncurkan Komunitas KucingMu sebagai wadah dakwah pecinta hewan. Uniknya, ada KTAM khusus kucing yang mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.
Wisnu Cipto - Sabtu, 11 Juli 2026
Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah
Indonesia
Ketum PBNU dan PP Muhammadiyah Ikut ke Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Delegasi Indonesia ke Iran tersebut merupakan perwakilan bangsa Indonesia yang diutus Presiden Prabowo Subianto untuk mengunjungi Iran, sebagai negara sahabat bagi Indonesia.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 09 Juli 2026
Ketum PBNU dan PP Muhammadiyah Ikut ke Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Bagikan