Ketua PWNU Jakarta Dorong Syuriah Bentengi NU dari Politik Transaksional

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
Ketua PWNU Jakarta Dorong Syuriah Bentengi NU dari Politik Transaksional

Ketua PWNU Jakarta Dorong Syuriah Bentengi NU dari Politik Transaksional

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - KETUA Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jakarta KH Samsul Ma’arif meminta jajaran Syuriah NU mengambil peran lebih kuat dalam membentengi organisasi dari praktik politik transaksional. Syuriah memiliki posisi strategis untuk menjadi pengingat dan penjaga muruah organisasi.

Hal itu disampaikan Samsul dalam diskusi bertajuk Stop Politik Transaksional di Muktamar NU di Jakarta Pusat, dikutip Rabu (19/8).

“Saya meminta pengurus Syuriah NU memberikan dorongan yang membentengi organisasi dari politik transaksional. Kalau Tanfidziyah mungkin masih agak nakal-nakal sedikit, itu masih wajar. Tetapi kalau Syuriah ikut juga, ini yang repot,” kata Samsul.

Ia menekankan pentingnya seluruh jajaran kepengurusan NU saling mengingatkan agar tidak terjebak dalam praktik pertukaran kepentingan dalam proses pemilihan kepemimpinan organisasi.

“Seluruh kepengurusan harus saling mengingatkan. Semua sebenarnya sepakat bahwa politik transaksional itu tidak baik. Dengan akal sehat saja kita tahu bahwa politik transaksional dilarang karena bisa merusak organisasi,” ujarnya.

Baca juga:

Isu Politik Uang Jelang Muktamar NU Dinilai Sangat Ironis



Menurut Samsul, praktik politik transaksional tidak hanya berpotensi terjadi dalam pemilihan kepengurusan di tingkat pusat, tetapi juga sudah menjadi persoalan di berbagai tingkatan organisasi, mulai dari ranting hingga Majelis Wakil Cabang (MWC). Fenomena serupa, kata dia, juga dapat ditemukan dalam organisasi badan otonom NU seperti Muslimat NU dan Fatayat NU. “Jangan hanya membayangkan politik transaksional terjadi di tingkat PBNU. Di tingkat ranting dan MWC pun sudah mulai ada. Bahkan di Muslimat dan Fatayat juga bisa terjadi,” katanya.

Ia menilai salah satu faktor yang mendorong praktik tersebut yakni masuknya kepentingan politik pihak luar yang melihat besarnya basis massa NU sebagai potensi untuk kepentingan tertentu. “Kepentingan politik orang lain bisa menjadi salah satu pengaruh. Karena warga NU banyak, kemudian kepentingan itu masuk, diteruskan, diteruskan, sampai akhirnya memengaruhi organisasi,” jelasnya.

Oleh karena itu, Samsul mengingatkan pencegahan politik transaksional tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan proses bertahap melalui pembenahan sistem dan tata kelola organisasi. “Kalau sudah terjadi, memang tidak mudah mencegahnya secara seketika. Harus ada proses dan tahapan. Jangan semua persoalan langsung dipaksakan untuk diselesaikan dalam satu Muktamar,” tuturnya.

Ia mencontohkan gagasan perubahan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), termasuk mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Menurutnya, perubahan fundamental semacam itu membutuhkan proses panjang agar tidak justru menimbulkan pertarungan berkepanjangan di dalam forum Muktamar.

“Misalnya soal Ketua Umum dipilih oleh AHWA. Kalau diusulkan sekarang dan langsung dipaksakan dalam Muktamar, bisa terjadi pertarungan yang tidak habis-habis. Mungkin tahap awal cukup menjadi rekomendasi, kemudian diberlakukan pada Muktamar berikutnya,” katanya.

Samsul juga menyoroti persoalan rangkap jabatan yang menurutnya perlu ditata karena berpotensi membuka ruang bagi terjadinya konflik kepentingan dan manipulasi dalam organisasi.(Pon)




Baca juga:

Kiai Sepuh Tebuireng Bongkar Politik Uang Jelang Muktamar NU: Bukan Isu, Ada yang Ngaku!










#PBNU #Nahdlatul Ulama #Muktamar NU
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Ketua PWNU Jakarta Dorong Syuriah Bentengi NU dari Politik Transaksional
Syuriah memiliki posisi strategis untuk menjadi pengingat dan penjaga muruah organisasi.
Dwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
Ketua PWNU Jakarta Dorong Syuriah Bentengi NU dari Politik Transaksional
Indonesia
Isu Politik Uang Jelang Muktamar NU Dinilai Sangat Ironis
NU selama ini dipandang sebagai organisasi keagamaan yang kekuatan utamanya bertumpu pada moralitas dan nilai-nilai keislaman.
Dwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
Isu Politik Uang Jelang Muktamar NU Dinilai Sangat Ironis
Indonesia
Kiai Sepuh Tebuireng Bongkar Politik Uang Jelang Muktamar NU: Bukan Isu, Ada yang Ngaku!
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), isu politik uang kembali mencuat.
Wisnu Cipto - Rabu, 19 Agustus 2026
Kiai Sepuh Tebuireng Bongkar Politik Uang Jelang Muktamar NU: Bukan Isu, Ada yang Ngaku!
Indonesia
Presiden Prabowo Subianto Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Kehadiran Presiden diperkirakan turut meningkatkan jumlah warga yang datang ke Jombang, baik peserta muktamar maupun warga NU dari berbagai daerah.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 11 Agustus 2026
Presiden Prabowo Subianto Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Indonesia
Muktamar ke-35 Akan Luncurkan Peta Jalan NU 2050
Substansi yang akan dibahas dalam Muktamar NU pada dasarnya telah dipersiapkan, mulai dari hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Ploso
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 10 Agustus 2026
Muktamar ke-35 Akan Luncurkan Peta Jalan NU 2050
Indonesia
Komisi Organisasi Muktamar NU: Semakin Banyak Calon Ketua Umum, Semakin Baik
Kemunculan banyak figur kandidat justru akan semakin memperkaya proses demokratisasi serta diskursus gagasan di internal organisasi. 

Dwi Astarini - Sabtu, 08 Agustus 2026
Komisi Organisasi Muktamar NU: Semakin Banyak Calon Ketua Umum, Semakin Baik
Indonesia
Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar
Warga NU di tingkat bawah memiliki aspirasi sederhana, yakni agar para muktamirin memilih calon pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan.
Dwi Astarini - Sabtu, 08 Agustus 2026
Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar
Indonesia
Ahmad Baso Ungkit Sejarah NU, Minta Larangan Rangkap Jabatan Dibahas di Muktamar ke-35
Ahmad Baso menilai larangan rangkap jabatan dalam ART NU perlu ditinjau kembali dan mendorong pembahasannya dalam Muktamar ke-35 NU.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 07 Agustus 2026
Ahmad Baso Ungkit Sejarah NU, Minta Larangan Rangkap Jabatan Dibahas di Muktamar ke-35
Indonesia
AS Hikam Yakin Muktamar NU Lancar Walau Ada Riak-Riak di Internal, Tetap Kedepankan Tradisi Musyawarah
Mencari format kepemimpinan ideal bukan berarti meremehkan kepemimpinan saat ini, melainkan merespons tantangan zaman dengan berpijak pada warisan para masyayikh.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 01 Agustus 2026
AS Hikam Yakin Muktamar NU Lancar Walau Ada Riak-Riak di Internal, Tetap Kedepankan Tradisi Musyawarah
Indonesia
Jelang Muktamar NU, Guru Besar UI: Ketum PBNU Harus Miliki Program Konkret, bukan Mengawang-Awang
Organisasi sebesar NU membutuhkan kemampuan manajerial yang mampu menggerakkan perubahan secara nyata.
Dwi Astarini - Sabtu, 01 Agustus 2026
Jelang Muktamar NU, Guru Besar UI: Ketum PBNU Harus Miliki Program Konkret, bukan Mengawang-Awang
Bagikan