Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 08 Agustus 2026
Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar

PENGASUH Pondok Pesantren Wali Salatiga, Jawa Tengah, KH Anis Maftuhin

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - PENGASUH Pondok Pesantren Wali Salatiga, Jawa Tengah, KH Anis Maftuhin meminta agar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum perubahan dan ruang terbuka bagi seluruh kader untuk menyampaikan gagasan terbaik bagi masa depan organisasi.

Menurut Anis, warga NU di tingkat bawah memiliki aspirasi sederhana, yakni agar para muktamirin memilih calon pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang masih terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama.

“Kami membawa aspirasi teman-teman di bawah kepada para muktamirin. Aspirasi kami sederhana, mari memilih calon yang benar-benar mampu membawa perubahan. Masih banyak persoalan di tubuh NU yang belum diselesaikan,” kata Anis dalam diskusi bertajuk Muktamar NU untuk Semua di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (7/8).

Ia menilai masih ada sejumlah aturan dalam organisasi yang perlu dievaluasi dan diperbaiki. Namun, menjelang muktamar, energi organisasi justru banyak tersedot pada perdebatan mengenai siapa yang boleh atau tidak boleh menjadi calon pengurus. “Hal yang selalu diperdebatkan hingga menjelang muktamar hanyalah soal siapa yang boleh menjadi calon pengurus. Energi kita habis di situ. Sementara itu, urusan jamiyah dan jamaah justru kurang mendapatkan perhatian,” ujarnya.

Baca juga:

Forum Kiai Nyai Muda Nahdlatul Ulama Desak Islah Pengurus PBNU, Minta Musyarah Terbuka


Oleh karena itu, Anis meminta seluruh pihak tidak bersikap fobia terhadap latar belakang calon tertentu, termasuk mereka yang memiliki pengalaman sebagai politisi. Menurutnya, yang harus menjadi ukuran utama yakni kapasitas, integritas, gagasan, dan kemampuan calon dalam memimpin organisasi.

“Kita tidak perlu fobia terhadap siapa pun, termasuk politisi. Kalau memang nanti terpilih dan harus mundur dari jabatan politiknya, ya tinggal mundur. Selesai. Itu bukan persoalan besar,” tegasnya.

Anis mengingatkan, dalam sejarah NU, proses pemilihan kepemimpinan organisasi memiliki dinamika yang beragam. Ia menyebut dahulu di tingkat kampung, pemilihan ketua NU dilakukan melalui proses panjang dan penuh musyawarah. Bahkan, dalam sejarah NU juga pernah dikenal mekanisme one man one vote. “Semua itu menunjukkan bahwa yang terpenting yakni bagaimana calon ketua benar-benar memahami kebutuhan organisasi hari ini,” katanya.

Ia juga menyoroti dinamika menjelang muktamar yang menurutnya justru berpotensi menguras energi warga NU. Anis berharap jangan sampai proses organisasi hanya dipengaruhi kepentingan segelintir elite. Oleh karena itu, ia menawarkan agar penjaringan calon pemimpin NU dibuka seluas-luasnya. Kader NU dari berbagai latar belakang, mulai dari kader internal, teknokrat, birokrat, akademisi hingga politisi, menurutnya harus diberikan kesempatan yang sama untuk berkontestasi.

“Berikan kesempatan kepada kader-kader NU, teknokrat, birokrat, akademisi maupun politisi untuk berkontestasi secara terbuka. Hal yang dinilai yakni ide, gagasan, dan kemampuan mereka membawa organisasi,” tuturnya.

Menurutnya, semua kader boleh menjadi calon, kecuali dua orang sebab dua orang inilah yang selama ini membuat kegaduhan di NU. Muncul istilah, La Miftaha Wala Hahya, bukan Miftah (Rais Aam Miftachul Akhyar), dan bukan Yahya (Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf).

"Semua boleh, tapi ada istisna' (pengecualian) . Selain dua orang itu, karena keduanya terbukti gagal," tegasnya.(Pon)

Baca juga:

Ahmad Baso Ungkit Sejarah NU, Minta Larangan Rangkap Jabatan Dibahas di Muktamar ke-35

# NU #Nahdlatul Ulama (NU) #Muktamar NU
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Komisi Organisasi Muktamar NU: Semakin Banyak Calon Ketua Umum, Semakin Baik
Kemunculan banyak figur kandidat justru akan semakin memperkaya proses demokratisasi serta diskursus gagasan di internal organisasi. 

Dwi Astarini - Sabtu, 08 Agustus 2026
Komisi Organisasi Muktamar NU: Semakin Banyak Calon Ketua Umum, Semakin Baik
Indonesia
Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar
Warga NU di tingkat bawah memiliki aspirasi sederhana, yakni agar para muktamirin memilih calon pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan.
Dwi Astarini - Sabtu, 08 Agustus 2026
Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar
Indonesia
Ahmad Baso Ungkit Sejarah NU, Minta Larangan Rangkap Jabatan Dibahas di Muktamar ke-35
Ahmad Baso menilai larangan rangkap jabatan dalam ART NU perlu ditinjau kembali dan mendorong pembahasannya dalam Muktamar ke-35 NU.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 07 Agustus 2026
Ahmad Baso Ungkit Sejarah NU, Minta Larangan Rangkap Jabatan Dibahas di Muktamar ke-35
Indonesia
AS Hikam Yakin Muktamar NU Lancar Walau Ada Riak-Riak di Internal, Tetap Kedepankan Tradisi Musyawarah
Mencari format kepemimpinan ideal bukan berarti meremehkan kepemimpinan saat ini, melainkan merespons tantangan zaman dengan berpijak pada warisan para masyayikh.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 01 Agustus 2026
AS Hikam Yakin Muktamar NU Lancar Walau Ada Riak-Riak di Internal, Tetap Kedepankan Tradisi Musyawarah
Indonesia
Jelang Muktamar NU, Guru Besar UI: Ketum PBNU Harus Miliki Program Konkret, bukan Mengawang-Awang
Organisasi sebesar NU membutuhkan kemampuan manajerial yang mampu menggerakkan perubahan secara nyata.
Dwi Astarini - Sabtu, 01 Agustus 2026
Jelang Muktamar NU, Guru Besar UI: Ketum PBNU Harus Miliki Program Konkret, bukan Mengawang-Awang
Indonesia
Elite PBNU Terlibat Saling Pecat, Gus Faris: Rais Aam, Ketum, dan Sekjen tak Layak Dicalonkan Lagi
Saling memberhentikan pengurus dengan dasar aturan organisasi merupakan fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah NU.
Dwi Astarini - Sabtu, 01 Agustus 2026
Elite PBNU Terlibat Saling Pecat, Gus Faris: Rais Aam, Ketum, dan Sekjen tak Layak Dicalonkan Lagi
Indonesia
Jelang Muktamar PBNU, Guru Besar UI Usulkan Ketua Umum Dipilih AHWA
AHWA tidak semestinya hanya berperan dalam memilih Rais Aam, tetapi juga perlu diperkuat untuk menyeleksi calon Ketua Umum PBNU.
Dwi Astarini - Sabtu, 01 Agustus 2026
Jelang Muktamar PBNU, Guru Besar UI Usulkan Ketua Umum Dipilih AHWA
Indonesia
PDIP Menyeru ke NU untuk Tetap Jadi Penjaga Moral Bangsa, Bebas dari Kooptasi Kekuasaan
NU telah ikut membentuk DNA Indonesia bersama PNI, Muhammadiyah, dan seluruh komponen bangsa lainnya. 

Dwi Astarini - Sabtu, 25 Juli 2026
PDIP Menyeru ke NU untuk Tetap Jadi Penjaga Moral Bangsa, Bebas dari Kooptasi Kekuasaan
Indonesia
Gus Salam Ramaikan Bursa Calon Ketum PBNU, Keliling Daerah Cari Dukungan
KH Nurul Huda Djazuli menginginkan pengurus PBNU selalu bersatu, rukun dan kompak, mengingat organisasi ini merupakan tempat berkumpulnya para ulama
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 29 Juni 2026
Gus Salam  Ramaikan Bursa Calon Ketum PBNU,  Keliling Daerah Cari Dukungan
Indonesia
Tutup 240 BUMN tak Produktif, Presiden Prabowo: Negara Hemat Triliunan Rupiah
Prabowo mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mereformasi tata kelola BUMN yang dinilai tidak produktif dan jumlahnya terlalu banyak. 

Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Tutup 240 BUMN tak Produktif, Presiden Prabowo: Negara Hemat Triliunan Rupiah
Bagikan