MerahPutih Nasional - Sebagian masyarakat Indonesia kembali merindukan sosok Presiden RI kedua Soeharto. Kerinduan publik terhadap penguasa Orde Baru dipicu karena kondisi ekonomi saat ini kurang baik serta adanya kegagalan dari cita-cita reformasi.
Kerinduan publik terhadap Jenderal bintang lima tercermin dengan munculnya kaos dan sticker yang bergambar Soeharto. Kaos-kaos yang bertuliskan "Piye Kabare? Enak Jamanku To" mulai ramai di dagangkan diberbagai pasar di seantoro Provinsi Jawa Tengah.
Di jagad dunia maya sendiri muncul akun twitter @SuaraCendana_RI. Akun tersebut bersama dengan pengikutnya mendeklarasikan Komunitas Suara Cendana (KSC). Sejumlah tokoh nasional sebut saja Mayjen Asril Hamzah Tanjung didapuk sebagai Ketua Dewan Pembina.
Sedangkan Putra mendiang Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra melalui akun twitternya @TommySoeharto62 juga kerap menuangkan ide bersama pengguna jejaring sosial untuk kembali membumikan ide gagasan dan pikiran Presiden Soeharto.
Menanggapi hal tersebut, pemikir politik Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai kerinduan publik terhadap sosok Soeharto lebih disebabkan pada aspek stabilitas dan keamanan semata.
"Publik tidak menggunakan pendekatan secara menyeluruh dan holistik," kata Karyono saat dihubungi merahputih.com, Jakarta, Senin (29/12).
Karyono yang juga mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) menambahkan dalam era Odde Baru, Presiden Soeharto menerapkan doktrin Trilogi Pembangunan. Dengan titik tumpu stabilitas politik, ekonomi dan keamanan.
"Namun, menurut saya, masyarakat juga perlu secara lebih arif, obyektif dan komprehensif dalam menilai kepemimpinan rezim orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Jangan hanya mengingat sisi positifnya tetapi perlu diingat juga sisi negatifnya, yaitu sikap otoriter, fasis, dan menyumbat kran demokrasi yang terlalu lama," sambung Karyono.
Selain itu,lanjut Karyono masyarakat juga perlu mengetahui atau mengingat kembali sejarah lahirnya Orde Baru tidak bisa dilepaskan dari kepentingan nekolim yang ingin menguasai negeri ini dengan cara menjatuhkan presiden Soekarno yang menolak keras intervensi asing masuk ke Indonesia.
Orde Baru adalah pintu masuk penjajahan dalam bentuk baru yang selama ini ditentang oleh presiden Soekarno. Tetapi Soekarno akhirnya berhasil ditumbangkan oleh kekuatan neo kolonialisme/imperialisme melalui kudeta merangkak para anasir orde baru.
"Setelah rezim orde lama berhasil ditumbangkan, maka lahirlah UU No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal. Sejak itulah modal asing membanjiri Indonesia dan menghisap sumber daya alam kita hingga saat ini," tutup Karyono. (MP/BHD)