Minuman Manis dan Dingin Bikin Gemuk? Begini Penjelasan Medisnya

Zaimul Haq Elfan HabibZaimul Haq Elfan Habib - Minggu, 13 Januari 2019
Minuman Manis dan Dingin Bikin Gemuk? Begini Penjelasan Medisnya

Es teh manis yang ternyata berbahaya bila dikonsumsi berlebihan. (Foto: Pixabay/JASONBON)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SIANG nan terik begitu nikmat rasanya jika menerguk minuman dingin. Namun, banyak orang yang berfikir bahwa terlalu sering mengkonsumsi minuman dingin akan membuat berat badan naik drastis. Benarkah demikian?

Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengatakan minuman manis yang dingin memang bisa membuat gemuk namun bukan karena adanya reaksi antara rasa manis dan suhu dingin. Ia memaparkan penjelasannya secara medis.

"Kalau dingin itu kan sebetulnya cuma soal suhu, tapi suhu dingin itu secara psikologis membuat orang jadi ketagihan karena memberi efek nikmat, badan jadi punya keinginan untuk menyejukkan tubuh kembali," kata Rita seperti dilansir Antara.

Air Es. (Pixabay/ColiN00B)
Suhu minuman yang dingin membuat ketagihan akan kesegaran. (Pixabay/ColiN00B)

Sebaliknya, rasa manis yang justru membuat gemuk kalau energi dari gula yang dikonsumsi tidak disalurkan melalui aktivitas fisik yang sesuai.

"Gula akan meningkatkan hormon dopamin yang menimbulkan efek rasa senang sesaat. Jadi kalau mengkonsumsi makanan atau minuman manis kita jadi merasa nyaman dan ingin mengulang. Hormon dan rasa haus jadi tak terkendali. Itu yang bikin jadi gemuk," katanya.

Minuman manis disebut Rita lebih bisa bikin gemuk dibanding makanan karena saat minuman masuk lambung maka lambung tak akan merasakan apa-apa karena bentuknya yang cair dan bisa terserap.

"Coba kalau minum teh manis dengan gula dua sendok, itu tidak akan meninggalkan bekas di lambung tapi energinya bisa mencapai 100 kilo kalori, dibadingkan kalau kita makan timun 100 gram, masuk lambung dan lambung kita penuh, kenyang tapi energi nol karena densitas rendah," katanya.

Rita mengatakan, gula berlebih dalam tubuh akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak di sejumlah tempat, di bawah kulit, perut dan organ dalam tubuh.

Minuman Dingin dan Manis. (Pixabay/PhotoMIX-Company)
Minuman Dingin dan Manis. (Pixabay/PhotoMIX-Company)

"Lemak sebetulnya esensial, tapi kalau jumlahnya melebihi yang dibutuhkan akan mengganggu metabolisme dan hormon bisa jadi resistan," katanya.

Contohnya hormon yang memberi sinyal kenyang tak akan lagi sensitif pada orang-orang yang kelebihan lemak. "Hormon tetap diproduksi tapi tak lagi sensitif. Makanya orang suka bilang gampang lapar," jelasnya.

Metabolisme juga terganggu membuat kemampuan tubuh untuk mengolah energi menurun. Akibatnya orang akan bilang makan segini doang kok gemuk ya? Sehingga semua akan jadi jaringan lemak. (*)

Baca Juga: Mengenal DEBM, Pola Diet yang Bikin Tetap Kenyang

#Minuman Manis #Minuman Sehat #Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan