Headline

Menyedihkan, Setengah Juta Orang Terbunuh dalam Perang Suriah

Eddy FloEddy Flo - Senin, 12 Maret 2018
Menyedihkan, Setengah Juta Orang Terbunuh dalam Perang Suriah

Seorang anggota Pasukan Demokratik Suriah memanggil rekannya dalam pertempuran melawan anggota Islamic State di Raqqa, Suriah, Senin (14/8). (ANTARA FOTO/REUTERS/Zohra Bensemra)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Perang Suriah yang sudah berlangsung sekitar tujuh tahun telah menimbulkan banyak korban nyawa dan materi. Kota-kota hancur, jalan terputus, dan kilang minyak dibakar serta ternak hilang atau mati. Belum lagi korban nyawa yang terus berjatuhan dari waktu ke waktu serta banyak warga keluar meninggalkan tanah kelahirannya menjadi pengungsi.

Dari segi manusia berdasarkan laporan Pengamat Suriah dari sebuah komisi hak asasi manusia yang bermarkas di Inggris pada Senin (12/3) menyatakan sekitar 511 ribu atau setengah juta orang terbunuh dalam perang Suriah.

Dalam laporan pengamat yang secara khusus melacak korban tewas dengan menggunakan jaringan di dalam Suriah, mengatakan mengenali lebih dari 350 ribu orang tewas dan sisanya adalah kejadian dengan pihaknya mengetahui bahwa terjadi kematian namun tidak mengetahui nama korban.

Perang itu dimulai setelah unjuk rasa besar pada 15 Maret 2011, menyeret kekuatan kawasan dan dunia serta memaksa jutaan orang -lebih dari setengah jumlah penduduk sebelum perang- meninggalkan rumah mereka.

Sekitar 85 persen korban tewas adalah warga, yang dibunuh pasukan pemerintah Suriah dan sekutunya, kata pengamat tersebut. Militer Suriah, yang bergabung dengan sekutu Rusia-nya sejak 2015 menggunakan kekuatan udara secara luas.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, memasuki tahun ke delapan perang Suriah, pertempuran sengit berlanjut di beberapa daerah, termasuk Ghouta timur, dekat ibu kota Damaskus, dan Afrin di dekat perbatasan Turki.

Militer Rusia mengatakan pada Minggu malam bahwa mereka telah berhasil mengevakuasi 52 warga sipil, termasuk 26 anak-anak, dari Ghouta yang dikuasai gerilyawan Suriah setelah melakukan pembicaraan dengan pemerintah setempat.

Warga sipil tersebut, penduduk kota Misraba, dibawa ke sebuah kamp pengungsi sementara tempat mereka memperoleh bantuan medis, kata militer Rusia dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya Xinhua melaporkan bahwa Militer Suriah pada Sabtu (10/3) mengamankan pengungsian sejumlah keluarga dari Kota Kecil Mesraba, yang direbut belum lama ini, di Ghouta Timur, pinggir Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Militer Suriah telah merebut 52 persen Ghouta Timur dalam beberapa hari belakangan, sebagai bagian dari serangan luas yang dilancarkan guna mengusir gerilyawan dari daerah penting di ujung timur Damaskus tersebut.

Ghouta Timur, wilayah pertanian dengan luas 105 kilometer persegi yang terdiri atas beberapa kota kecil dan lahan pertanian, menimbulkan ancaman terakhir buat ibu kota Suriah karena kedekatannya dengan permukiman yang dikuasai pemerintah di Damaskus Timur dan serangan mortir yang dilancarkan terhadap daerah permukiman di ibu kota Suriah, sehingga warga terdesak ke daerah pinggiran.

Empat kelompok utama gerilyawan saat berada berada di dalam Ghouta Timur, yaitu Tentara Islam, Failaq Ar-Rahman, Ahrar Ash-Sham, dan Komite Pembebasan Levant --yang juga dikenal dengan nama Front An-Nusrae, yang memiliki hubungan dengan Al-Qaida.

Lembaga kemanusiaan PBB telah menyuarakan kekhawatiran mengenai situasi kemanusiaan yang bertambah buruk buat 400.000 orang di wilayah itu. Banyak pegiat mengatakan lebih dari 800 orang telah tewas di sana sejak penghujung Februari akibat pemboman gencat dan operasi militer di beberapa daerah di Ghouta Timur.

Lembaga kemanusiaan PBB telah menyuarakan kekhawatiran mengenai situasi kemanusiaan yang bertambah buruk buat 400.000 orang di wilayah itu. Banyak pegiat mengatakan lebih dari 800 orang telah tewas di sana sejak penghujung Februari akibat pemboman gencat dan operasi militer di beberapa daerah di Ghouta Timur.(*)

#Konflik Suriah #Militer Rusia #HAM
Bagikan
Ditulis Oleh

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian

Berita Terkait

Indonesia
Pakar Hukum Dorong Pendidikan HAM dan Demokrasi Diperkuat dalam RUU Polri
Pemahaman mengenai HAM perlu menjadi bagian integral dalam proses pembentukan, pelatihan, promosi jabatan, evaluasi kinerja, hingga etika profesi anggota kepolisian.
Dwi Astarini - Selasa, 02 Juni 2026
Pakar Hukum Dorong Pendidikan HAM dan Demokrasi Diperkuat dalam RUU Polri
Indonesia
Aparat Hukum Masuk Tim Pelabelan Status Aktivis HAM, Ini Alasan Menteri Pigai
Menteri HAM Natalius Pigai mengungkapkan tim asesor akan diisi unsur lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat sipil, hingga aparat penegak hukum.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 April 2026
Aparat Hukum Masuk Tim Pelabelan Status Aktivis HAM, Ini Alasan Menteri Pigai
Indonesia
Bongkar Kasus HAM, DPR RI Percepat Revisi UU Peradilan Militer Tanpa Pandang Bulu
Selain fokus pada peradilan militer, legislator tersebut menggarisbawahi perlunya perhatian khusus terhadap tren kekerasan berbasis gender
Angga Yudha Pratama - Selasa, 10 Februari 2026
Bongkar Kasus HAM, DPR RI Percepat Revisi UU Peradilan Militer Tanpa Pandang Bulu
Indonesia
PKB Soroti Penonaktifan PBI BPJS Kesehatan, Dinilai Berpotensi Langgar HAM
PKB menyoroti penonaktifan PBI BPJS Kesehatan. Hal itu dianggap berpotensi melanggar HAM.
Soffi Amira - Selasa, 10 Februari 2026
PKB Soroti Penonaktifan PBI BPJS Kesehatan, Dinilai Berpotensi Langgar HAM
Indonesia
Diusulkan Jadi Presiden Dewan HAM PBB, DPR: Kepercayaan Dunia terhadap Indonesia akan Meningkat
Indonesia diusulkan menjadi Presiden Dewan HAM PBB. DPR RI pun mengatakan, bahwa kepercayaan dunia kepada Indonesia akan meningkat.
Soffi Amira - Minggu, 28 Desember 2025
Diusulkan Jadi Presiden Dewan HAM PBB, DPR: Kepercayaan Dunia terhadap Indonesia akan Meningkat
Indonesia
DPR Warning Kementerian HAM: Peta Jalan Penyelesaian Pelanggaran HAM Jangan Cuma Jadi Pajangan, Implementasi Harus Se-Progresif Dialognya
Ketegasan hukum harus berjalan beriringan dengan kejelasan mekanisme pemulihan bagi mereka yang terdampak
Angga Yudha Pratama - Jumat, 19 Desember 2025
DPR Warning Kementerian HAM: Peta Jalan Penyelesaian Pelanggaran HAM Jangan Cuma Jadi Pajangan, Implementasi Harus Se-Progresif Dialognya
ShowBiz
METHOSA Rilis Single 'Adu Domba', Angkat tentang Aksi Kamisan dan Rentetan Tragedi HAM
Band rock METHOSA merilis single Adu Domba bertepatan dengan Hari HAM 2025. Suarakan solidaritas korban pelanggaran HAM dan kritik terhadap impunitas.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 17 Desember 2025
METHOSA Rilis Single 'Adu Domba', Angkat tentang Aksi Kamisan dan Rentetan Tragedi HAM
Indonesia
DPR Sambut Peta Jalan Penyelesaian HAM Berat, Negara Diminta Tak Lagi Menunda
Anggota Komisi XIII DPR RI menegaskan peta jalan penyelesaian pelanggaran HAM berat harus menjadi langkah konkret negara untuk mengungkap kebenaran dan menghadirkan keadilan.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 17 Desember 2025
DPR Sambut Peta Jalan Penyelesaian HAM Berat, Negara Diminta Tak Lagi Menunda
Indonesia
Ruang Pelayanan HAM di Kantor KemenHAM Dinamakan Marsinah, Natalius Pigai Bocorkan Makna di Baliknya
Pigai menegaskan bahwa jejak perjuangan Marsinah, yang kasus kematiannya pada tahun 1993 di Sidoarjo belum terselesaikan hingga kini, harus terus diwariskan
Angga Yudha Pratama - Selasa, 11 November 2025
Ruang Pelayanan HAM di Kantor KemenHAM Dinamakan Marsinah, Natalius Pigai Bocorkan Makna di Baliknya
Indonesia
Kemenkumham Soroti 10 Isu Krusial HAM dalam Pembahasan RUU KUHAP
Wamen HAM sebut standar HAM internasional wajib jadi acuan dalam pembahasan RUU KUHAP.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 22 September 2025
Kemenkumham Soroti 10 Isu Krusial HAM dalam Pembahasan RUU KUHAP
Bagikan