Mengenal Penyakit Sarkopenia dan Cara Menghindarinya
Sarkopenia bisa terjadi pada usia muda maupun tua. (Foto: Unsplash/CHUTTERSNAP)
TAHUKAH kamu ada istilah khusus untuk gangguan kesehatan yang bertalian dengan otot-otot manusia. Namanya cukup cantik, tapi tetap saja penyakit. Sarkopenia. Ya, gangguan kesehatan sarkopenia merupakan salah satu penuaan yang paling signifikan berkaitan dengan otot-otot manusia.
Seiring bertambahnya usia, sangat mungkin terjadi kehilangan massa dan kekuatan otot rangka yang tidak disengaja, demikian dikutip Antara, Selasa (29/11).
Dampak dari sarkopenia bisa serius. Salah satu contoh yang sangat konkret adalah munculnya patah tulang pinggul seiring bertambahnya usia. Lebih dari 95% dari semua patah tulang pinggul terjadi karena jatuh. Itu efek penuaan dan peran vital otot-otot tubuh.
Salah satu konsekuensi penuaan adalah kemungkinan hilangnya kalsium dalam tulang. Kondisi ini dikenal sebagai osteoporosis. Bikin tulang mungkin lebih mudah patah. Namun, ketika kehilangan massa dan kekuatan otot, ketahanannya bisa jadi lebih rentan dan dampaknya berpotensi lebih serius.
Baca juga:
Selain Nikmat, Sumsum Tulang Sapi Bisa Menjaga Kulit Awet Muda
Ahli menyarankan agar kekuatan otot tetap dijaga agar tubuh tetap kuat dan mampu mengurangi kemungkinan terjadinya jatuh, yang berimplikasi pada meminimalkan risiko patah tulang. Sarkopenia juga dapat dicegah untuk mengurangi konsekuensi penuaan pada massa dan kekuatan otot.
Salah satunya adalah lewat asupan nutrisi yang memiliki peran penting dalam mencegah dan mengelola terjadinya sarkopenia. Protein jadi kandungan yang sangat disarankan untuk dikonsumsi, sebab dengan jumlah yang cukup, laju sarkopenia bisa diperlambat dan kekuatan otot dapat meningkat.
Kehilangan massa otot bisa terjadi pada usia berapa saja, tidak hanya pada orang tua. Sebagian bahkan disebabkan oleh diet tinggi karbohidrat dan rendah protein serta kurangnya resistensi olahraga yang merupakan faktor-faktor penting untuk membangun otot.
Baca juga:
Perempuan Vegetarian Lebih Berisiko Patah Tulang Pinggul
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan kalori manusia secara bertahap menurun. Biasanya karena kombinasi faktor-faktor yang mencakup tingkat metabolisme nan lebih rendah. Selain itu, tingkat aktivitas juga berkurang.
Maka untuk menghindari kenaikan berat badan, banyak orang mengurangi kalori mereka dan makan lebih sedikit. Tanpa perencanaan yang matang dan pilihan makanan yang tepat, penurunan asupan kalori bisa berarti jumlah total protein yang dimakan mungkin menurun.
Langkah pertama untuk memperbaiki pola makan adalah mengurangi karbohidrat olahan. Protein makanan yang cukup, ditambah dengan resistensi olahraga, merupakan cara yang baik untuk meminimalkan hilangnya massa otot. (waf)
Baca juga:
Pentingnya Penyerapan Kalsium yang Optimal Bagi Kesehatan Tulang
Bagikan
Andrew Francois
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya